
Cessa sedang duduk sendiri di kamarnya menatap taman di depan kamarnya, terlihar beberaa orang yang berjaga di sana dengan ketatnya.
Tidak mungkin ada seorang penyusup bahkan Cessa juga melihat ada penjaga yang bahkan mengusir belalang yang ingin masuk area rumah itu.
"Kenapa ini semua terjadi pada aku.. Padahal aku tidak melakukan kesalahan di hidup aku ini. Apa Mungkin dulu di kehidupan sebelumnya aku banyak dosa makanya di balas sekarang." Hanya bisa bergumam sendiri di dalam lamunannya.
"Karna aku cinta kamu..." Bisikan seseorang dari belakang Cessa membuat Cessa terkejut bukan main.
Cessa menoleh dan mendapati Zino di belakangnya. "Zino... Kamu bikin aku terkejut sampai mau lepas jantung aku." Uca Cessa melebih lebihkan.
"Hehehe.. Maaf ya.." Zino mengelus elus puncak kepala Cessa.
"Iya gak apa apalah..." Jawab singkat Cessa.
"Berhenti salahkan hidup kamu karna kamu sangat beruntung. Kamu di kelilingi orang orang yang sangat sayang sama kamu. Ada aku, Jake, Rindu.. Eeemm Karen..." Nada bicara Zino berubah ketika mengucapkan nama Karen, Sepertinya ia sangat tidak ikhlas.
"Iya.. Semoga saja keberuntungan aku ini terus belanjut... Aku mau tetap bersama kalian salamanya" Ucap Cessa dengan apa yang ia pikirkan saat ini.
"Eeemm Cessa kalau kamu di kasih pilihan, kamu lebih pilih aku atau Karen. Aku mau tahu sekali jawaban kamu. Dan pertanyaan ini harus kamu jawab..." Zino benar benar serius dalam pertanyaannya.
Cessa malah salah tingkah menhadapi pertanyaan dari Zino ini. Meski Karen juga pasti ingin menanyakannya tapi semalam Karen sama sekali mempertanyaankannya. Karna Karen pasti mengerti ini adalah pertanyaan yang paling sulit untuk Cessa. Karen lebih memilih untuk berusaha mendapatkan Hati Cessa saja dari pada harus tahu isi hati Cessa yang kapan saja bisa berubah.
"Zino kamu tahu itu adalah pertanyaan yang sulit. Aku gak bisa milih kamu atau Karen karna kalian berdua itu sangat baik sama aku. Dan untuk masalah perasaan aku juga tidak memilikinya untuk kalian berdua. Jadi jujur aku bingung jawabnya kayak apa...?" Cessa menggaruk garuk kepalanya.
"Cessa.. Kamu tahukan kita melakukan apa kemarin.. Dan kamu sampai hamil anakku.. Aku sangat cinta sama kamu..." Zino memegangi bahu Cessa.
"Iya Zino kamu memang yang pertama dan kamu juga berhasil menanam benih kamu di Cessa dan tumbuh walaupun sebentar. Tapi aku juga siap kok terima Cessa apa adanya, mau dia sudah kamu apakan kemarin aku mau dia sudah hamil anak kamu, aku tetap terima dia.. Dan sebenarnya aki dan Cessa sedang menunggu anak kami..." Karen tiba tiba datang juga dan semakin mericuhkan keadaan di kamar Cessa.
"Anak kalian...? " Zino tak percaya yang Karen ucapkan dan memasang wajah penasaran kepada Cessa.
"Iya.. Kan kemarin itu aku dan Cessa melakukan..." Karen menoleh dulu pada Cessa memastikan jawabannya ini.
"Bercinta..." Jawab Karen dengan tegas dan yakin.
Karen melipat bibirnya ke dalam dan mengangkat alisnya mengoda Zino dan Zino pasti paham maksud itu.
__ADS_1
"Kalian juga bercinta...?" Zino berusaha menetralkan ekspresi wajahnya.
"Iya.. Aku tahu aku yang salah malam itu, dan memaksa Cessa untuk melayani aku, tapi awalnya itu semua karna kamu dan Lilen.." Tuduhnya.
"Kenapa aku dan Lilen..?" Zino tak merasa bersalah dengan video panasnya dengan Lilen kemarin. Entah ia lupa atau apalah.
"Kami tiru kamu dan Lilen di kasur malam itu juga jadi kita sama sama deh.. Semoga aja hasilnya juga sama sama ya.." Goda Karen lagi.
"Oohh itu.. Aku..." Zino baru mengingat apa yang ia perbuat pada Lilen malam itu.
"Sudahlah Zino.. Terima saja, aku siap kok menerima kamu dan Lilen. Kamu akan jadi adik ipar terbaikku.. Dan aki kan juga akan pensiun dini dan lebih memilih untuk membangun rumah tangga saja dengan Cessa. Dan kamu akan aku berikan semua kekuasaan aku di dunia mafia untuk kamu Zino.. Nama grup Elang pun akan aku berikan sama kamu.. Bagaimana..?" Ucap Karen jujur dengan keinginannya untuk masa depannya.
"Apa jadi kamu akan tukar Cessaku untuk kekuasaan kamu itu dan grup kamu itu.. Cih gak gak.." Zino menolak dengan yakin.
"Ayolah Zino.. Kasian Lilen juga.. Dia juga nanti gimana.. Misalkan ya kalau Lilen ngandung anak kamu.. Kan kayak Cessa kemarin. Kamu kan manjur banget tuh.. Sekali masuk jadi.. Nah.. Kalau kamu dan Lilen kemarin itu... Iya jadi.. Terus itu anaknya gimana...?" Mulai adu mulut dengan Zino.
"Eh kan belum Fix jadi..." Zino mengakui kalau malam itu dia juga salah dan bisa saja yang Karen katakan itu benar benar terjadi.
"Iya makanya kan perjanjian kita kemarin setelah semua ini selesai baru kita mulai. Dan selama ini juga kita tunggu apa Lilen hamil atau gak.. Pasti ketahuankan..." Ucap Karen dan Zino mengangguk setuju.
"Tapi Karen ada yang belum aku ceritakan sama kamu tentang aku dan Lilen malam itu.." Ucap Zino ragu ragu.
Keduanya berbicara dan lupa akan seseorang lain juga di kamar Itu, ia hanya menjadi pendengar saja.
"Sebenarnya malam itu..." Zino mulai bercertita lagi dan keduanya mendengarkan.
Flashback on
Zino memandangi tubuh indah Lilen di depannya, terpampang di depannya.
"Aku ingin mencobanya..." Gumam Zino saat melihat bagian bagian itu.
"Zi.. Zino..." Lilen terbata bata melihat Zino yang sangat tergoda dengan Lilen.
Zino meletakan kameranya di sampingnya dan berbisik pada Lilen.
__ADS_1
"Aku mau..." Singkat padat dan jelas yang Zink katakan.
"Tapi Zino.. Akuuu.. hh..." Lilen juga sudah beberapa kali mend**sah karna ulah Zino.
"Lilen.. Aku mau.. Boleh kan...?" Desak Zino sudah tidak sabar.
Lilen tidak sanggup menjawab karna jawabannya pasti adalah des***an. Zino melanjutkan aksinya, diam diam juga Lilen menikmatinya.
Baru juga Zino mencoba rasa yang ia rindukan Cessa pun kembali. Rasa sama yang pernah Zino rasa bersama Cessa membuat Zino larut dalam pikirannya.
"Aah Cessa Kamu sangat nikmat.." Ucap Zino tak sengaja.
Lilen bukanlah orang yang tuli sehingga tidak mendengar apa yang Zino ucapkan.
"Aaaawww..." Hanya kata itu saja yang bisa Lilen ucapkan saat itu.
Zino melepaskan senjatanya dan mengeluarkannya di luar dan jauh dari Lilen. Nafasnya Lilen terengah engah dan Zino masih mengatur nafasnya.
Rasa sakit yang mendera Lilen hanya Ia yang tahu rasanya. Zino bangkit dari baringnya dan langsung mematikan ponselnya dan langsung saja video panas itu terkirim pada Karen.
"Jake.. Kamu bilang ingin membalas apa yang mereka lakikan Pada Rindu. Ini saatnya aku persilahkan kamu.." Zino mengabari Jake dan tak berselang lama Jake datang bertelanjang dada. Nafasnya memburu dan matanya menatap tajam Lilen di tempat tidur.
Lilen masih tidak dapat bergerak kerna ulah Zino barusan padanya. Lilen sudah berpikiran buruk dengan mendengar ucapan Zino tadi dari ponsel.
Zino sudah mengenakan handuk di pingganngya dan duduk manis di sofanya. "Silahkan jangan hiraukan aku..." Jake menoleh pada Lilen yang sudah dengan posisi yang sangat pas.
Jake maju ke arah Lilen, sebisa mungkin Lilen menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Tidak jangan tuan Jake aku mohon jangan kamu juga.." Ingin rasanya Lilen menjerit sekuat kuatnya saat tubuh gagah Jake lagi di atasnya
"Maaf aku harus melakukan ini.. Karna kakakmu yang duluan memulai, oh ya laki laki idaman kamu juga hamili seorang wanita dan kamu yang harus membayar semua itu Lilen Stone.
Permainan di mulai, Zino hanya menyaksikan semuanya dengan mata terbuka. Ia Jug merasakan lagi rasa yang pernah ada itu. Tak di pungkiri Zino Jug terhibur dengan adanya Lilen di sini, Zino bisa merasakan lagi apa yang pernah Zino rasakan bersama Cessa.
Suara rintihan dan permohonan untuk di ampuni terus memenuhi ruangan. Zino memuntup matanya dan hanya membuka pendengarannya.
__ADS_1
Flashback off
Dan kita off juga ya... Like loooo.. satu persatu kenyataanya terbuka... Like Donk... Like yang banyak