Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 46


__ADS_3

Saat tengah malam Karen sadar, dan mulai mengerjapkan matanya.


Mata Karen terbuka dengan lebarnya. Karen melihat Cessa yang tengah tiduran di atas sofa dengab posisi sandaran, posisi yang pastinya akan membuat leher Cessa sakit bila sudah bangun di pagi hari nanti.


Karen sama sekali tidak mengingat apa yang ia lakukan sebelumnya, tentang amukkannya itu. Karen dengan tenaganya mengangkat Cessa dan meletkannya di atas ranjang besar mereka. Di elusnya wajah Cessa.


Karen merasa ingin buang air kecil dulu, maka Karen memilih untuk masuk ke kamar mandi untuk melakukan apa yang harus ia lakukan.


Setelah Karen selesai Karen hendak mencuci wajahnya terlebih dahulu. Entah kenapa wajahnya terasa sangat lengket. Karen pun berjalan ke araha wastafel dan di depan wastafel itu ada cemin yang cukup besar dan di sanalah Karen sadar akan luka di keningnya dan juga di pelipisnya yang sudah di obati.


Karen sangat terkejut sekali melihatnya. ''Apa aku kambuh lagi..?" Karen bertanya pada dirinya sendiri. Karen mencoba mengingat ingat apa uang terjadi.


Karen keluar dari kamarnya dan membuka gawainya, mencoba memulihkan ingatanya.


Karen menenukan pesan pesan dari anak buahnya yang membuat ia marah kemarin.


Dari sini Karen mengingat semuanya. Amarahnya, amukannya, kepalanya yang terbentur, dan juga Cessa yang menenangkanya dengan sangat lembut. Karen beralih menatap Cessa yang masih terlelap, Karen takut ia tak sengaja melukai Cessa.


Dengab segera Karen berlari dan membangunkan Cessa yang masih terlelap. "Cessa... Cessa...." Karen mengoyang goyangkn tubuh Cessa.


Dengan matanya yang masih berat untuk terbuka, Cessa bangun dari tidurnya. Masih dengan mata sipitnya karna masih mengantuk, "Karen..."Cessa mengucek matanya lagi. "Karen.. Kamu udah Sadar.. Apa kelapamu masih sakit.." Tanya Cessa setelah benar benar sadar.


"Cessa..." Mata Karen sudah berkaca kaca.


"Cessa aku tidak melukaimukan..? Apa aku melukaimu? Apa ada yang terluka?" Karen sangat tidak sabar mendengar jawaban dari Cessa. Karen menguncang guncangkan tubuh Cessa dengan sepantasnya tak sabar.


"Tidak... Tidak... Karen.. Tidak." Cessa menangkup wajah Karen dengan halus karna Cessa melihat kepanikan melanda Karen.


Karen sedikit tenang Cessa menangkup wajahnya "Karen.. Aku tidak apa apa... Kamu itu yang sedikit luka.. Apa lukamu sakit.. Kalau sakit sini aku obati!" Cessa berusaha terus menenangkan Karen.


Bukannya menjawab, Karen malah menangis tersedu sedu. "Cessa maafkan aku..."


"Hei ada apa dengan mafia satu ini..." Batin Cessa takut.


"Karen... Lihat aku.." Cessa masih menangkup wajah Karen dan menariknya agar menatapnya.


"Apa yang kamu takutkan..? Katakan padaku.." Cessa membelai wajah pucat itu yang tengah panik tak jelas.


Mata Karen terus manatap Cessa yang memberikan tatapan penuh ketenangan. "Aku takut aku melukaimu.. Aku takut aku jahat padamu.. Aku tidak jahat.." Karen bagaikan anak kecil saat ini. Anak kecil yabg hanya paham pemikiranya sendiri.


"Karen.. Aku juga tahu kamu itu gak jahat. Kamu itu sangat Baik. Jagi tolong jangan nangis gini lagi ya... Aku disini kok..." Ucap Cessa sambil tersenyum.

__ADS_1


Wajah kepanikan Karen perlahan menghilang dan di sambut dengan wajah sendu. Karen masuk dalam peluk Cessa dan Cessa hanya bisa terus mengelus elus lembut rambut Karen.


"Kita tidur lagi yuk.." ajak Cessa.


Tidak ada jawaban dari Karen yang nyaman di peluk itu. Tapi tak lama kemudian kepala Karen mengangguk mengiyakan ajakkan Cessa.


"Masa kita bobonya gini..." Protes Cessa dengan posisi mereka sekarang.


"Peluk aku.. " Hanya itu ucapan yang terdengar dari Karen.


"Baiklah tapi aku ingin sambil tiduran... Bobo di samping aku ya.. Baru aku peluk."Tawat Cessa lagi.


Kare layaknya anak kecil menurut dan mulai membaringkan tubuhnya lagi. Cessa memperbaiki selimut Karen dan setelahnya ikut berbaring juga.


Karna Cessa tak segera memeluk Karen, dengan cepat karen memeluk tubuh Cessa. Karen memeluk pinggang Cessa dan menyandarkan kepalanya di dada Cessa.


Cessa sedikit terganggu tapi ia mencoba mengerti kondisi Karen sedang tidak baik. Lebih baik Cessa ikuti saja dulu mau Karen, setelah Karen pulih mungkin semuanya akan baik baik saja. Keduanya kembali terlelap dalam mimpi.


***


Zino berdiri dengan tegak dan banyak pasang mata yang meliriknya. Laki laki dengan paras tampan dan elegan itu kini berada di Negeri paman Sam. Ada sedikit pekerjaan yabg harus ia tangani secepatnya.


"Kita mulai Zino.." Zino melangkahkan kaki jenjangnya mulai melakukan perjalannya.


"Jake kita ke hotel yang dikirimkan Fery barusan ya... Kita mulai dari sana dulu." Titah Zino dengan sangat yakin.


"Siap tuan" Jake pun sama melakukan semua yang di perintahkan tuannya dengan amat serius. Karna Jake juga memiliki dendam yang ia pendam sendiri.


Di sebuah Hotel yang cukup besar, ada pesta yang sedang di rayakan beberapa anak muda. Sesosok gadis cantik dengan parasnya yang sangat menawan di kelilingi teman sejawatnya.


Hari ini Lilen dan teman temannya sedang merayakan pernikahan tamannya Kristin yang akan di adakan dalam beberapa hari ke depan bisa di bilang ini pesta lajang terakhir untuk sahabat Lilen itu.


"Terima kasih Lilen... Kamu sahabat terbaikku.." Ucap Kristin sangat bersenang senang malam ini.


"Tentu saja, kamu layak mendapatkannya, belum tentu nanti setelah menikah kamu di bolehkan berpesta bersama kami jadi untuk malam ini kita pesta pesta..." Lilen sudah terbiasa dengan pergaulan di negara ini. Baju baju seksi, memamerkan kebolehnya dan lainnya lagi.


Zino masuk Hotel itu dengan gayanya yang sangat di kagumi beberapa orang yang ada di tempat itu langsung. Mata para wanita itu tak henti hentinya menatap Zino.


"Saya pesan satu kamar personality." ucap Zino dengan suara basnya.


Resepsionis itu malu malu melayani permintaan Zino. Bahkan mungkin salah tingkah. Zino menerima kunci kamarnya dan meninggalkan base Hotel itu.

__ADS_1


Zino menghempaskn tubuhnya di ranjang yang ada di dalam kamar yang ia pesan. "Cessa... Kau lihat... Wanita wanita itu tergila gila padaku. Kenapa kamu gak?" Ucap Zino tak ada seorang pun yng mendengarnya.


Ponsel Zino pun berdering. "Halo.. Bagaimana keadaanya?"


"Keadaannya membaik tuan. Tuan saya sudah menyelidiki, nona Rindu terpaksa melakukannya karna desakan dari orang itu tuan, walaupun dengan susah payah, Rindu akhinya mau menceritakannya pada kami tuan." Ucap spesialis psikologi yang Zino tingglkan untuk merawat Rindu hingga sembuh. Dan Zino ingin tahu setiap perkembangannya.


"Lalu..?"


Spesialis itu mulai bercerita.


Flashback on. : Rindu


Ketika mobil yang mebawa Cessa dan Karen berbelok arah mobil yang membawa Rindu pun berputar ke arah yang berbeda.


Rindu panik dan meronta ronta. Rindu masih mengingat itu semua karna hanya ia yang tak di bius, mungkin memang sengaja di rencanakan seperti itu. Mulut Rindu di bungkam dengan lakban hitam tangan kakinya pun terikat Rindu tak bisa berbuat apa apa.


Sangat jauh perjalanan Rindu mengunakan mobil itu, Rindu bahkan tak mengenali jalan itu apa lagi tempat itu. Rindu semaki ketakutan. Entah apa yang akan menimpa dirinya nanti.


"Apa aku akan di jual? Atau aku di mutilasi setelah itu di jual?" otak Rindu tidak dapat memilkirkan yang lebih baik lagi saat ini.


Mobil yang di tumpangi Rindu sampai di sebuah gudang tua. Rindu di angkat pria bertubuh kekar itu dan di bawa masuk dalam gudang tersebut.


Di dalam gudang tersebut bau asap roko dan bau minum minuman bercampur aduk. Banyak laki laki yang sedang berpesata pora di dalamnya.


Pria bertubuh kekar itu masuk ke salah satu ruangan yang ada di gudang itu. Saat masum ke dalam ruangan itu bau asap rokok sangat dominan.


"Jadi ini tawanannya?" Suara seseorang dari belakang Rindu terdengar dengan Jelas.


"Iya tuan." Pria itu menurunkan Rindu dengan sangat kasar. Rindu mengaduh dari balik Lakbannya.


"Baiklah sesuai intruksi" Kata pria yang di sebut tuan tadi oleh laki laku bertubuh kekar itu.


Kini tinggallah Rindu dan pria itu sendiri di dalam ruangan itu. Pria itu hanya sesekali menoleh pada Rindu selebihnya ia fokus pada Laptopnya.


Hanya ada suara ketikan keyboard Laptop yang Rindu dengar. Tiba tiba laki laki itu menghentikan kegiatannya, lalu menoleh pada Rindu yang sejak tadi terdiam.


Laki laki itu bangun dari duduknya dan menghampiri Rindu. "Ini dia." ucap laki laki itu mengambil sesuatu di sepatu Rindu.


Krakk..


Benda itu di hancur di tangan laki laki dengan kacamata yang masih melekat di wajahnya.

__ADS_1


"Apa kamu Haus?" Tanyanya seolah bukan orang jahat.


__ADS_2