
Karen memegang gitarnya dan siap memainkannya. Cessa seakan tak percaya apa yang akan ia lihat hari ini.
...You're just too good to be true...
...I can't take my eyes off you...
...You'd be like heaven to touch...
...I wanna hold you so much...
...At long last love has arrived...
...And i thank God i'm alive...
...You're just too good to be true...
...Can't take my eyes off you...
...Pardon the way that i stare...
...There nothing else to compare...
...The sight of you leaves me weak...
...There are no words left to speak...
...But is you fell like i fell...
...Please let me know that it's real...
...You're just too good too be true...
...Can't take my eyes off you...
...I need you, baby...
...And if it's quite a night...
...I need you, baby...
...To wanna a lonely night...
...I love you, baby...
...Trust in me when i say.....
...Oh, pretty, baby...
...Don't let me down, i pray...
...Oh, pretty, baby...
...Now that i found you, stay...
...And let me love you, baby...
...Let me love you...
...You're just to good too be true...
...I can't take my eyes off you...
...You'd be like heaven to touch...
...I wanna hold you so much...
...You're just to good too be true...
...Can't take my eyes off you...
...I need you, baby...
...And if it's quite alright...
...I need you, baby...
...To wanna a lonely night...
...I love you, baby...
__ADS_1
...Trust in me when i say.....
...Oh, pretty baby...
...Don't let me down, i pray...
...Oh pretty baby...
...Now that i found you, stay...
...And let me love you, baby...
...Let me love you.. (Karen mengedipkan lagi matanya pada Cessa tak lupa senyum indahnya.)...
Itulah persembahan Karen pada Cessa lagu yang berjudul Can't Take My Eyes off You (Kalau readers mau dengar lagunya bisa langsung cari penyanyinya Joseph Vincent yang Author dengar. Cocok dengan untuk cerita kita)
"Babagaimana kamu suka konsernya?" Tanya Karen masih di hadapan Cessa dengan gitarnya.
"Bolehlah.." Ucap Cessa sambil tersenyum pada Karen yang menghiburnya.
"Ada lagi?" Karen tanpak berpikir, lagu apa lagi yang akan ia nyanyikan untuk Cessa karna Cessa sudah menanyakannya lagi.
"Baiklah.. Satu lagi." Ucap Karen.
...There goes my heart beating...
...Cause you are the reason...
...I'm losing my sleep...
...Please come back now...
...There goes mind racing...
...And you are the reason...
...That i'm still breating...
...I'm hopeless now...
...I'd climb every mountain...
...Just to be with you...
...And fix what i've broken...
...Oh, cause i need you to see...
...That you are the reason......
...Threre goes my hands shaking...
...And you are the reason...
...My heart keeps bleending...
...I need you now...
...If i cluld turn back the clock...
...Make sure the light defeated the dark...
...Spen every hour of every day...
...Keeping you safe...
...I'd climb every mountain...
...And swim every ocean...
...Just to be wiht you...
...And fix what i've broken...
...cause i need you to see...
...That you are the reason.....
...I Don't wanna fight no more...
__ADS_1
...I Don't wanna hurt no more...
...I Don't wanna cry no more...
...Come back, i need you to hold me...
...Closer now...
...Lust a little closer now...
...Come a little closer...
...I need you to hold me tonight...
...I climb every mountain...
...And swim every ocean...
...Just to be wiht you...
...And fix what i've broken...
...Cause, i need you to see...
...That see you are the Reason......
...(Judul : You Are The Reason...
...Penyanyi Calum Scott)...
Karen menyanyikannya lagu yang satu ini penuh dengan penghayatan, Cessa merasa dalam lagu ini menyimpan banyak rahasia untuk Karen.
Karen sakarang tertunduk dan tak berani menatap Cessa di depannya. Cessa maju berjalan ke arah Karen saat sampai di depan Karen. Saat sampai Cessa langsung memegangi bahu Karen.
Karen mengalihkan pandangannya ke arah lain tapi Cessa dengan segera meraih pipi Karen dan kembali menarik menghadapnya. Mata Karen berkaca kaca sedang menahan air matanya.
"Karen..." Cessa sudah menduganya, pastu ada sesuatu di lagu itu.
Karen menggelengkan kepalanya tapi matanya berbohong. Matanya kini malah meneteskan air tangisnya.
Cessa sangat kasian melihatnya dan langsung memeluk Karen dan Karen menangis dalam peluk Cessa.
***
Kini Karen sudah kembali tenang, Cessa masih di sampingnya dan Karen terus menggenggam tangan Cessa.
" Karen.. Sebenarnya kenapa?" Tanya Cessa setelah yakin Karen dapat di ajukan pertanyaan sekarang.
"Iya aku.." Karen masih takut sepertinya untuk menceritakan kisahnya lagi.
"Kamu sudah janji tadi mau ceritakan, ayolah.. Masa kamu tidak ingin menceritakannya padaku.." Cessa merayu Karen.
"Baikalah. Kali ini aku tidak akan menyembunyikan apa pun darimu. Seperti kataku tadi, kamu adalah ratuku." Ucap Karen sambil mencolek dagu Cessa.
Cessa menganggukkan kepalanya setuju.
"Sebenarnya lagu itu seperti diriku... Aku mencari kesana kemari, mencari kebenarannya, aku menemukannya. Tapi terlambat." Ucap Karen menceritakan arti lagu tersebut untuknya.
"Pasti ini tentang Ina.." Ucap Cessa menebak cerita yang Karen ceritakan tadi.
Karen mengganggukan kepalanya.
"Karen aku mohon.. Katakan.. Kemarin kamu mau bilang nama aslinya Ina. Aku juga mau tahu Karen. Aku mohon" Cessa meniru Karen dalam masalah membujuk.
"Baiklah.. Akan aku beritahu, aku mencari kesana dan kemari, berusaha menemukan keluarga Ina, dan setelah sekian lama akhirnya aku menemukan Ina, dan juga aku tahu siapa saudaranya yang sering ia ceritakan padaku. Nama Ina yang asli adalah Zina, Saudara kembar Zino." Cessa membulatkan matanya, Zino juga pernah menceritakan tentang para saudaranya, dan juga kembarannya yang Zino temukan dengan kondisi tak berjantung, ternyata jantung itu di berikan pada Karen.
"Zino pernah menceritakan tentang kakaknya itu Karen.." Ucap Cessa.
"Iya, Zino juga menemukan Cessa satu jam setelah aku menemukannya. Dan di situlah aku tahu, Zino adalah adik Zina, padahal selama itu, aku dan Zino sering bertemu atau pun berkelahi berebut kekuasaan di dunia Mafia, betapa terkejutnya aku ketika tahu dialah adik Ina. Oleh sebab itu, satu tahun belakangan ini aku kurang bergerak dalam dunia mafia, aku ingat akan pesan terakhir ina, bermainlah dengan adiknya, temani dia bermain. Dan dari yang sering aku dengar dari Zina, Zino itu sangat suka bermain petak umpet di rumahnya. Oleh karna itu aku bermain main dengan Zino seperti ini, mungkin aneh tapi aku ingin menghabiskan waktu dulu bersama Zino seperti ini, bahkan sampai permainan ini selesai. Aku tahu, jika aku langsung mengatakan yang sebenarnya, Zino tidak akan percaya. Lebih baik cukup aku yang tahu dan aku yang bersenang senang dalam permainan ini. Tapi darah yang mengalir du tubuhku ini akan selalu satu dengan darah Zino. Darah lebih kental dari pada air." Ucap Karen menoleh pada Cessa.
" Jadi, sumsum tulang belakangmu, jantungmu, darahmu juga.. Sama dengan Zino?" Karen menganggukan kepalanya.
"Sebenarnya aku tidak ingin menceritakan ini padamu, tapi setelah kupikir pikir tidak ada salahnya menceritakan pada wanita yang aku cintai." Karen tersenyum penuh makna.
"Karen...." Cessa mencubit tangan Karen dan sontak Karen pun tertawa lucu.
"Iya... Karna Zina, aku tanpa sadar bersaudara darah dengan Zino, dan dengan pesan terakhir Zina, maka aku bertekad untuk malakukan ini Cessa. Aku harap kamu tidak keberatan, aku mengambil dirimu untuk aku sembunyikan seperti ini. Aku janji, setelah semua ini selesai kita akan hidup bahagia.. Kita akan memiliki anak, kita akan membangun rumah baru yang indah, aku akan menjadi pengusaha tekstil, dan kamu ratuku.. Eeem" Karen kembali ke dalam dunia halunya.
"Iya kamu pikir semudah itu? Bagaimana jika Zino salah paham dengan rencanamu ini? Bagaimana jika kalian malah saling menyakiti? Bagaimana..." Karen menempelkan Satu jari telunjuknya di bibir Cessa dan membuat Cessa terdiam.
__ADS_1
Karen..