Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 111


__ADS_3

Lorent memperbaiki posisi Rindu dan dirinya agar berdekatan tiada celah.


"Aku ceritakan.." Lorent mengelus pipi Rindu.


Flashback On..


Lima tahun yang lalu, Lorent masih bekerja di Canada. Karen yang memberi perintah Lorent untuk menjaga perusahaan Tekstil Bella untuk di tanganinya untuk sementara.


Dengan keahliannya tak sulit untuk Lorent membuat perusahaan itu berkembang pesat. Dan banyak juga orang yang semakin percaya dengan bekerja sama dengan perusahaan itu.


Itu adalah masa yang paling jayanya Lorent dan kawan kawannya di Canada. Lorent memiliki satu sekretaris wanita yang cantik namanya Isabel. Isabel banyak di gemari beberapa pekerja laki laki di perusahaan. Tapi tidak dengan Lorent ia melihatnya biasa saja.


Meski banyak laki laki yang mengincarnya, laki laki yang rela memberikannnya apa pun yang ia inginkan, Isabel malah menyukai Lorent. Dengan ketampanannya dan karisma yang Lorent miliki membuat Isabel sangat menyukainya. Bahkan sangat menamba dambakan Lorent untuk menjadi suaminya. Bahkan saat sedang melakukan perayaan keberhasilan Lorent dan yang lainnya, Isabel memasukan obat prangsang ke dalam minuman Lorent. Itu sudah yang entah keberapa kali Isabel mencoba.


Sebelum dan sebelumnya juga gagal. Lorent tak menyentuh minuman yang Isabel beri obat. Isabel mulai geram. Padahal ia sudah sangat mengidamkannya. Jika Lorent dan dirinya menghabiskan waktu semalam, maka Isabel dengan mudah meminta pertanggung jawaban Lorent dengan pastinya mengatakan kalau ia hamil anak Lorent.


"Malam ini kita rayakan di tempat biasa ya bos.." Salah satu partner kerja Lorent berucap setelah mereka rapat mengenai kerja sama mereka dengan perusahan terkemuka lainnya.


"Kamu kayak gak kenal aku aja.. Ya kita harus rayakan lah.." Lorent berbicara sambil memakan permen bertangkai di mulutnya.


Kecapan kecapan yang di buat permen itu membuat Isabel iri. Seandainya ia yang menjadi permen itu pasti sangat beruntung.


"Rico.. Ambilkan aku permen lagi.. Ini sudah abis.." Lorent memerintah bawahannya.


"Tuan biar saya yang ambilkan.." Isabel menawarkan diri.


"Eemm ambillah.." Lorent tak peduli.


Isabel segera ke laci Lorent dan di sana Isabel melihat banyak sekali permen yang sering Lorent komsumsi.


"Ini banyak sekali.. Apa dia sangat suka permen ini.. Apa aku bisa pergunakan permen ini.. Tapi nanti rasanya timbul kalau aku taruh di sini.. Ini kan permen. Nanti kalau ada rasa yang berbeda Lorent tahu lagi.. Aahh sudah lah.." Isabel fokus saja mengambil permen dan ia berikan pada Lorent.


Malamnya mereka merayakan malam bersama, sebelum mengenal dan menyukai Lorent, Isabel tidak pernah menginjakkan kaki di Klub malam seperti saat ini.


"Tambah minumannya Baby.." Kawan kawan Lorent sangat menikmati malam ini bersama para wanita yang siap melayani mereka.


Sedangkan Lorent hanya menghisap putung Rokoknya satu persatu.


"Tuan.. Kenapa sendiri aja.. Sini donk.. Sama kami minum minum.." Panggil yang lainnya.


"Lagu gak mood minum minum." Sahut Lorent.


"Oohh takut gak bisa pulang kah... Hahahahah.. Nanti malah teler di sini kan susah.." Ledek salah satu pekerja Lorent.


"Aku bukanya takut itu..." Lorent tak bisa menjelaskan ketidak inginannya.


"Aaaahh bilang aja takut.. Hihihihi.." yang lain juga terus meledek.


"Oke oke.." Lorent mulai mendekat dan merapat dengan yang lainnya. Isabel tersenyum senang.

__ADS_1


Kali ini pasti rencananya berjalan denhan lancar. Lorent akan masuk dalam pelukkannya. Beberapa gelas, beberapa botol yang sudah di buka mereka bersama.


Lorent merasa ke panasan di tubuhnya, ia kira karna minuman yang ia minum ini. Maka ia dengan santainya membuka kecing kemejanya.


Dada yang terlihat dengan indahnya dari balik kemeja yang setengah terbuka. Dada putih, berbentuk, menggoda siapa pun yang melihatnya untuk mengelus dan menyentuhnya. Bahkan Isabel sangat menginginkannya.


"Lorent.." Isabel sudah sangat tergoda meski tak meminum obat perangsa**.


Matanya sudah sayu menatap Lorent. "Kenapa Tuhan menciptakan kamu sangat tampan Lorent.." Isabel mendekati Lorent.


"Hei.. Isabel.. Minum ini.." Lorent memberi minuman pada Isabel.


"Oohh ya.." Isabel minum saja dan setuju apa pun yang Lorent katakan.


Setelah beberapa jam bersenang senang. Lorent merasa semakin gerah. Ia membuka semua bajunya. "Aaahh gerahnya.. Ini aku gak mau minum minum.." Keluh Lorent.


"Lorent.." Isabel langsung saja memeluk tibuh Lorent yang sudah tak mengenakan kemejanya.


"Kamu lagi apa?" Lorent mengangkat wajah Isabel.


Bibir, wajah cantik, tubuh indah Isabel langsung menjadi incaran pertama tatapan Lorent.


"Kamu cantik sekali Isabel.." Isabel kesenangan mendengar Lorent memujinya.


"Lorent.. Mau kah..?" Isabel memainkan aset kembarnya di depan Lorent.


"Sini..." Lorent menarik Isabel dalam pelukannya. " Aku sudah gak tahan.. Isabel.." Lorent mencium Isabel dengan rakusnya.


"Stooooppp..!!!!!!" Rindu sangat marah.


"Eeehh kan belum selesai sayang.." Lorent pun terkejut.


"Kamu cium dia.. Kamu cium dia..? Enak.? Hah..?" Lorent gelabakan menjawabnya karna saat itu memang itu yang Lorent rasakan.


"Sayang dengar dulu ceritanya.. Kan belum selesai.. Memang kami dua ciuman yang panas gitu tapi kan cuma ciuman.." Cerita Lorent jadi terhenti karna Rindu emosi mendengar Lorent pernah mencium wanita lain dengan sangat panas.


"Dah aku gak mah dengar.." Rindu berbalik tak ingin melanjutkan cerita Lorent.


"Oke.. Gak mau.. Gak mau tahu apa yang terjadi setelahnya...?" Lorent berusaha menggoda Rindu lagi.


"Gak.. Pasti abis itu kalian dua masuk kamar abis itu.. Ah ah ah.." ucapan Rindu itu membuat Lorent tertawa.


"Yap betul sekali.." Lorent membernarkan yang Rindu ucapkan.


"Lorent..." Rindu berbalik dan mengguncang guncang tubuh Lorent.


"Sayang ampun.." Lorent tertawa tapi meminta ampun pada Rindu.


"Kamu jahat betul.." Rindu sedih mendengar Lorent pernah melakukan senua itu dengan wanita lain.

__ADS_1


"Sayang kan itu dulu.. Dan aku juga sudah gak ada berhubungan lagi sama dia. Dia sudah gak ada di dunia ini.." tutur Lorent lagi.


"Betul..?" Rindu melemah.


"Ya sayang.. Aku lanjut kah ceritanya.. Akn aku awalnya cuma mau jujur sama kamu.. Biar kamu makin sayang sama aku.." Lorent memeluk Rindu lagi.


"Aku cinta kamu sayang.." Bisik Lorent lagi.


Rindu tersenyum mendengarnya. Senang mendengar Lorent mau mengakuinya di depan Rindu.


"Ya aku dengar lagi.." Rindu melemah dan masuk dalam peluk Lorent dengan nyaman.


"Oke.."


Flashback lanjut..


Isabel yang masin normal ingatannya dan tak terpengaruh dengan obat yang ia berikan pada Lorent pun membawa Lorent untuk menginap di salah satu kamar di klub itu.


"Oohhh.. Eeemmm" Lorent meleguh dari dalam ketidak sadarannya.


"Lorent sayang.. Kita akan bersenang senang malam ini.. Nikmatilah aku.." Isabel melakukan yang ia inginkan pada Lorent.


"Jangan.. Aku aja.." Lorent mengambil alih permainan dan mengukir kisah panas bersama Isabel di dalam kamar itu. Dengan leguhan dan suara suara meresahkan juga.


Lorent sangat menikmati malam ini, ia tidak tahu apa yang sedang ia lakukan yang ia tahu ini sangat nikmat.


Maju mundur dan turun naik yang menyenangkan. Tapi paginya Lorent terbangun dengan marah. Tubuhnya polos dan ada seorang wanita yang sama polosnya dengan Lorent.


"Apa yang sudah aku lakukan.. Aku dan.. Ini.. Isabel..?" Lorent membalik tubuh Isabel.


"Tuan.. Tuan Lorent.." Isabel membuka matanya.


Tubuh Lorent yang polos bisa terlihat dengan jelas oleh Isabel. "Lorent.." Isabel bangkit membuat atasnya terlihat juga.


"Isabel.. Diam di tempat kamu.." Lorent hendak menjauh. Tapi ia takut tubuhnya terlihat.


"Lorent.. Kita sudah melakukannya.. Gak usah malu malu.. Aku milikmu Lorent.." Isabel tanpa malunya menyentuhkan tubuhnya ke lengan Lorent.


"Isss.. Isabel.. Jangan.." Lorent sama sekali tidak menyukainya.


"Aku cuma mau kamu Lorent.." Isabel makin menjadi.


"Haaaiissss.." Lorent bangkit saja dari tempat tidur, tak peduli tubuhnya terlihat. Ia segera mengenakan handuk yang ada di sana lalu setelah itu langsung keluar dair kamar.


"Kamu tetap milik Aku Lorent.." Isabel bergumam.


"Ohhh jadi awalnya kamu di perko**sa, ahaha.." Rindu malah tertawa. "Makanya kamu malah perko** aku.." Ledek Rindu.


Lorent...

__ADS_1


Off dulu ya.. Hari ini dan seterusnya author usahakan bisa crazy up tiap hari tanpa rekomendasi deh..


__ADS_2