Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 74


__ADS_3

Karen sangat senang melihat ekspresi Zino yang curiga padanya itu. "Selamat malam Zino..." Sapa Karen terlebih dahulu.


"Malam..." Zino hanya menjawab dingin dan mengalihkan pandangannya.


"Lorent layani tamu tamu Kita ini dulu. Kalian mau minum apa nanti Lorent buatkan.." Ucap Karen lagi mengakrabkan diri dengan Zino.


"Gak usah banyak basa basi... Cepat katakan yang kamu janjikan...!" Desak Zino tak sabar.


"Sabar Zino... Ini pertama kalinya kamu bertamu tanpa bunyi sirineku di mana mana..." Karen semakin memperlambat waktu Zino.


"Karen mau kamu apa...?" Zino sudah kehabisan akal untuk menghadapi Karen.


"Aku hanya ingin berbincang dengan adik iparku...." Karen menggoda Zino sekarang.


"Adik iparmu? Maksudnya?" Zino seperti orang bodoh di hadapan Karen.


"Hahahahahahaa... Zino bukannya kamu dan adikku Lilen sudah melakukannya, dengan panas lagi..." Karen semakin menjadi jadi dan ingin meledek Zino habis habisan.


"Hei itu... "Zino tidak mendapatkan kalimat yang pas untuk mengelak karna dia sendiri yang mengirimkan video tersebut pada Karen. Dan Karen malah meledeknya seperti ini.


"Kenapa? Aku salah...?Perasaanku tidak dehhh, memang itu yang aku dan Cessa lihat di video." Zino membulatkan matanya.


"Cessa juga melihatnya? kamu dan Cessa melihatnya...?" Pertanyaan Zino berkali kali.


"Iyalah.. Aku dan Cessa menontonnya bersama..." Lorent datang dengan minuman di napan dan meletakannya di meja yang ada du tengah tengah mereka.


"Selamat menikmati..." Ucap Lorent dan memundurkan dirinya di belakang Karen.


"Ayo kita minum coklat panas dulu..." Karen menyeruput coklat panas yang baru saja Lorent bawakan untuk mereka.


"Ini sangat nikmat. Kalian tadi habis perjalanan jauh dengan Helikopter, pasti kedinginan... Minumlah ini menghangatkan tubuh..." Tawar Karen lagi.


"Oke aku minum.. Tapi aku ingin bertemu dengan Cessa. Aku ingin menjelaskan semuanya..." Tawar menawar Zino lagi.


"Ooohh tapi Cessa sedang tidur... Kalau dia tidak tidur ya boleh kamu temui..." Karen menyeruput lagi minumannya. Padahal sebenarnya Karen tidak akan memperbolehannya meski ia mengatakan boleh pada Zino.

__ADS_1


"Cih... Kamu tahu dari mana kalau Cessa sudah tidur..." Zino tentu saja tak semudah itu percaya pada Karen.


"Aku baru saja dari kamarku tentu saja aku tahu..." Karen juga tak kalah jawaban untuk Zino.


"Kenapa.... Apa kamu dan Cessa sekamar?" Zino baru sadar sepertinya. Mungkin sedari tadi pikirannya masih sangkut di helikopter.


"Iya..." Jawab Karen singkat dan padat.


"Apa... Kenapa bisa.... Kamu... Aaaaa.." Zino merasa lemas seketika mendengar jawaban Karen.


"Memangnya aku tega menyekapnya dan mengikatnya, melakbannya, tidak memberi makan dan menyiksanya? Aku tidak seperti itu Zino. Kamu pikir aku sejahat itu... Tentu saja Cesaa mendapatkan keamanan bersamaku, dia juga makan dengab teratur dan juga tidur dengan nyaman di sini..." Zino semakin terpancing dengan ucapan ucapan Yang Karen lontarkan.


"Karen kamu..." Zino kembali meneliti bekas bekas yang ada di leher dan juga bahu Karen. Rasa aneh di hati Zino saat melihat tanda tanda itu.


"Kenapa...? Apa aku salah menyekap, apa aku harus menyekapnya di tempat gelap dan mengerikan... Tentu saja tidak Zino.. Aku tidak mungkin melakukan itu. Tapi jujur aku akui seleramu bagus juga kalau masalah wanita. Cessa sangat cantik..." Karen mengalihkan pandangannya memandang langit langit ruangan tersebut dan tentu saja mengingat lagi kegiatanya tadi.


Seulas senyum tiba tiba terbit di bibir Karen dan Zino tahu senyum itu. "Karen... Aku kemari hanya untuk meminta apa yang kamu janjikan di suratmu, bukan untuk mendengarmu bercerita tentang tawananmu.." Bohonh jika Zino tak ingin lebih banyak tahu tentang Cessa tapi ia berusaha sebisa mungkin menutupi rasanya.


"Oohh ya aku hampir lupa." Karen bangkit dan naik ke kamarnya. "Tunggu ya.." Karen sudah di anak tangga barulah ia mengatakan itu. Sungguh Zino kesal dengan hal itu, kenapa tidak dari tadi saja, kenapa perlu memanasinya.


"Dia masih tidur..." Karen pun masuk dan mengambil apa yang ia perlukan.


Karen mengambil beberapa lembar surat dan membawanya keluar dari kamar itu dengan perlahan, takut Cessa akan terganggu dengan kedatangannya.


"Ini..." Karen sampai lagi di ruang tengah tempat Zino dan Jake menunggu dan menyerahkan surat surat tersebut.


"Surat apa ini..." Zino tanpa permisi pun membuka surat surat tersebut dan membacanya.


"Apa ini...." suara Zino mulai melemah dengan isi surat surat itu.


Surat yang berisi data data dari mendiang Zina atau yang Karen sering panggil Ina. Mulai dari perawatan Karen dan Zina saat masih kecil, pencocokan Karen dan Zina juga di teterakan di surat surat itu.


Zino menbaca dengan seksama dan matanya memanas dan air matanya mulai bertampung. Karen juga melihatnya betapa sakitnya Zino menerima kenyataan pahit tentang kembarannya.


"Kau..." Zino maju ke arah Karen dan mencekram jubah baju Karen.

__ADS_1


Karen tak melawan dan membiarkannya. "Tampar saja aku Zino... Aku membiarkanmu kali ini menyentuh wajahku dengan mudah." Karen masih tersenyum di dalam cekraman Zino.


Mata Zino memerag dan tangisnya juga luruh, "Karen...." Zino sudah ancang ancang ingin menjatuhkan bogemnya di wajah Karen saat itu juga.


"Zinooooo...!" Zino menghentikan geraknya dan menoleh.


Rupanya Cessa yang memanggilnya dan berjalan turun dari anak tangga dengan pelan. Mata Zino tak berhenti mengikuti Cessa, Cessa mengenakan dress putih selutut dan sangat cantik di mata Zino, mungkin karna lama tak melihat Cessa, Zino melihatnya sangat cantik.


"Cessa..." Gumam Zino lirih.


Karen yang melihat ratunya malah datang dan mengacaukan semuanya. Karen ingin menyelesaikan ini semua sendiri. Meski ia harus babak belur di buat Zino pun tak apa. Jika itu bisa membuat Zino tenang dan senang maka dengan senang hati Karen menerimannya.


Tapi jika ada Cessa maka akan lain lagi ceritanya. "Zino... Karen... Hentikan.." Cessa tiba di tempat itu dan menarik tangan Zino yang masih mencekram baju Karen.


"Karen kamu bilang akan segera menyelesaikannya selesaikan dengan benar..." Titah Cessa pada Karen.


"Zino... Kamu juga... Dengarkan dulu penjelasan Karen biar kamu tahu semuanya... Biarkan di ceritakan semuanya." Titah Cessa lagi pada Zino.


"Aku sudah tahu semuanya Cessa, Zina kembaranku yang aku temukan tak memiliki jantung karna dia..."


Buggghh...


Zino sudah tidak tahan lagi dan Karen hanya menerima pukulan itu dengan telak.


"Zino..." Pekik Cessa lagi.


"Apa kamu membelanya? Kamu suka padanya? Iya kan...??" Tuduh Zino pada Cessa lagi.


"Zino..." Cessa tak percaya yang ia dengar ini.


"Bilang saja kamu menyukainya, makanya kamu membelanya, sudah tahu di salah masih saja di bela, apa itu bukan namanya suka.." Zino maju ke arah Cessa dengan tatapan yang berbeda dari tatapan tatapan yang pernah Cessa lihat.


Cessa...


hayoooo... like like like...

__ADS_1


__ADS_2