
Lilen terbangun lebih awal dari pada kedua laki laki uang tertidur di sofa. Lilen memperhatikan seluruh tubuhnya, tidak ada yang aneh atau mencurigakan, berarti Zino dan Jake sama sekali tidak memiliki niat buruk padanya meski mengetahui bahwa dia adalah adiknya Karen.
Padahal karna itulah sekarang Lilen bersama mereka, karna Lilen adalah adik Karen. Ini semua Zino lakukan untuk mengancam Karen yang sama sama menyekap Cessanya entah di mana.
Zino akhirnya bangun dari tidurnya. Entah mengapa ia tidur dengan sangat nyaman semalam. Zino menoleh ke tempat tidur, Lilen masih di sana sambil duduk dan memeluk lututnya sendiri, terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
Zino bangkit dan menuju toilet di kamar mandi. Saat Zino bergerak barulah Lilen sadar dari lamunannya dan diam diam memperhatikan Zino. Zino dengan masa bodohnya berlalu dan masuk ke toilet.
Lilen menghela nafasnya, tidak ada yang terjadi, mungkin hanya pikirnya saja yang menganggap Zino orang jahat seperti orang yang menyekapnya kemarin. Tapi setelah melihat gerak gerik Zino beberapa saat yang lalu, sama sekali tidak menunjukan hal yang mencurigakan.
Zino keluar lagi dari kamar mandi dan wajahnya dan tubuhnya sudah segar lagi. Kini Zino hanya mengenakan handuk di pinggangnya dan dada indahnya terpampang dengan beberapa bulir air yang mengalir dari lehernya dan turun ke dadanya dan terus lanjut hingga perut kotak kotak itu dan akhirnya sangkut juga di handuk itu.
Lilen merinding melihatnya. Mungkin ini bukanlah pertama kalinya Lilen melihat hal itu karna Lilen berada di negara yang bebas ini, tapi entah kenapa saat melihat Zino yang seperti itu Lilen merasa aneh. Dengan segera Lilen mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Sedangkan Zino sibuk mencari baju gantinya setelah menemukannya Zino mengenakannya dan merapikan rambutnya yang masih basah basah.
Lilen tak tahan dan ingin melihat Zino lagi akhirnya Lilen pun menoleh dan mendapati Zino juga menoleh padanya dengan wajah tampannya dan rambut basahnya yang masih menetes. Zino juga memandang Lilen saat Lilen tak mengalihkan pandangannya padanya.
Pipi Lilen memerah dan merona karna melihat ketampanan Zino. Malu dengan dirinya yang tiba tiba terpesona Lilen memilih untuk segera masuk ke dalam kamar mandi dan langsung bersandar di pintu kamar mandi di baliknya Zino bingung melihat Lilen yang seperti itu dan meneringkan rambutnya dengan handuk di tangannya.
Jam sarapan pagi pun tiba, Lilen masih mengenakan baju Zino dan Jake yang baru bangun juga masih mengenakan baju semalam, sedangkan Zino sudah segar dan berganti pakaiannya. Mereka makan bertiga di dalam kamarnya karna Zino meminta anak buahnya untuk membelikan makanan yang tengah mereka santap dan tidak berani keluar dari kamar itu dengan alasan takut orang orang kemarin akan menemukan mereka.
__ADS_1
Lilen yang juga mau aman pun harus mengikuti apa yang Zino katakan karna Lilen sekarang sudah mempercayakan dirinya pada Zino, melihat Zino yang tidak menyakitinya Lilen memilih untuk berlindung di balik Zino saja untuk saat ini.
"Siang nanti kita akan pergi dari hotel ini, siang hari tidak ada yang berani mendekati kita." ucap Zino sesuai rencananya.
"Eem" Jawab Lilen dan menganggukkan kepalanya.
"Jangan lupakan kami berdua ya.." Ucap Zino sedikit manis membuat Lilen mendongak melihat Zino di hadapannya.
Lilen tersenyum dan mengelengkan kepalanya. "Tidak akan tuan, aku tidak akan melupakan kalian berdua, kalian yang sudah mau menyelamatkanku, dan lain kali aku akan menraktir kalian berdua." Ucap Lilen lagi dengan senyum indahnya juga, sekejap Zino memandang senyum itu yang mengingatkannya pada Cessa. Zino pun menganggukkan kepalanya juga.
Siang hari pun tiba, Zino dan dua orang di belakangnya keluar dari hotel itu kemudian menaiki mobil dan keluar dari area hotel itu. Hati Lilen tenang karna sebentar lagi dia akan kembali ke kehidupan biasanya. Sedangkan Zino dia akan bersiap siap melanjutkan rencananya.
Di tempat yang jauh berbeda Karen dan Cessa kini sudah di hotel tempat mereka menginap dan menyekap Cessa. Cessa baru saja mandi dan sedang menyisir rambutnya, jika di tempat Zino ini sudah siang maka di tempat Cessa ini masih pagi pagi buta. Tapi hari ini Cessa bangun pagi dan sangat ingin mandi, akhirnya ia mandi lebih awal pagi ini, sedangkan Karen sibuk dengan laptopnya dari semalam dan akhirnya tertidur di sofa tempatnya duduk. Semalam Cessa menyelimuti Karen agar tidak kedinginan bila subuh datang.
"Cessa kamu berhasil membuatku panik seperti ini, bagaimana aku bisa melewati pagiku nanti jika tidak melihatmu saja aku panik." Gumam hati kecil Karen melihat Cessa tengah membersihkan handuknya di dekat jendela.
Diam diam Karen mendekati Cessa dan langsung saja memeluk Cessa dari belakang dan pastinya membuat Cessa terpegit kaget. "Karen.." Pekiknya mengetahui itu Karen.
"Apa..? Eemmm.. Wanginya ratuku ini.." Ucap Karen masih memejamkan matanya dan menghirup aroma tubuh Cessa.
"Kalau kamu mau wangi mandi sana" Ucap ketus Cessa pada Karen yang masih memeluknya seperti ini. Cessa berusaha melepaskan diri tapi tenaganya kalah jauh dari tenaga Karen. Dengan beraninya Cessa mencubit tangan Karen yang melingkar di perutnya.
__ADS_1
"Kamu gelitik akukah?" Tanya Karen merespon cubitan kecil tangan Cessa.
Cessa pun mendapat ide bagus dan tersenyum "Karen, aku putar badan dulu baru kamu peluk.. Biar hadapan gitu.." Pancing Cessa dan tentu saja Karen senang mendengarnya.
"Oke.." Karen pun memutar tubuh Cessa dan membuatnya menghadapnya. Cessa pun masih tersenyum menghadap Karen.
Karen sangat senang melihat senyum Cessa di depanya ini, seolah Cessa sudah siap menyerahkan dirinya pada Karen. Karen pun hendak memeluk Cessa lagi dan Cessa tak menolaknya dan malah mengerakan tangannya juga seakan akan memeluk Karen juga.
"Aaaaaa..." Teriak Karen dan Cessa langsung kabur dari hadapan Karen dan bersembunyi di dekat tempat tidur dengan kapalanya masih mengintip Karen. Cessa masih tertawa dengan senangnya. Sedangakan Karen berkacak pinggangnya karna baru saja dia di tipu wanita di depannya itu.
Cessa yang seakan memeluk Karen malah menusuk pinggang Karen dan Karen yang geli akan itu langsung melepaskan peluknya dan saat itulah Cessa kabur dari dekapan Karen dengan tawanya. Karen pun memegangi pinggangnya yang baru saja di tusuk dengan jari kecil Cessa.
"Cessa Allexsandra..." Karen berjalan ke arah tempat tidur mengejar Cessa.
Cessa ingin lari lagi tapi Karen dengan cepat menangkap pinggang ramping itu dan memeluknya dengan erat. "Mau main gelitik gelitikankah?" Mata Cessa membulat mendengar ucapan Karen yang penuh dengan nada penekanan.
Karen pun terseyum dan menggelitiki Cessa di pinggangnya. "Karen.. Aaa.. Aaa... Hahaha.. Aahhh..." Teriak Cessa kegelian dengan gelitikan Karen. Karen merebahkan tubuh Cessa di tempat tidur dan terus mengelitiknya.
Tawa Cessa meledak ledak terdengar jelas anak buah Karen di luar kamar. "Karen... Ampun.. Ampun.. Oke.. Oke.." Cessa meminta pengampunan dari Karen, Karen pun menghentikan gelitikannya dan berbaring di samping Cessa dan kini posisi keduanya berhadapan. Karen langsung memeluk tubuh mungil Cessa dan Cessa tak bisa berbuat apa apa selain mengatur nafasnya di depan dada Karen.
Cup..
__ADS_1
off dulu kawan.. Koment donk pendapat kalian.. cuss.. koment dan jngan lupa pencet like dan pencet lambang lovenya ya.. Buat author kalian ini. Makasih ya..