Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 89


__ADS_3

Stev tersenyum puas melihat Cessa yang kesusahan melepaskan diri di dalam air kolam yang cukup dalam itu.


Cessa di buang dalam kolam Stev dengan kondisi masih terikat di tangan dan kakinya.


Sebelum kejadian..


"Kita bermain air dulu ya.." Setelah Stev memotong tali pengikat Cessa dan kursi, hanya menyisakan Tangan dan kaki Cessa yang masih terikat.


Stev menggendong Cessa, "Kalau kamu bisa membebaskan diri kamu di sana maka aku akan melepaskan kamu.. Tapi jika tidak maafkan aku.." Sambil menggendong Cessa ala brydal menuju kolam renang.


"Apa..?" Cessa melihat kolam renang yang cukup besar di depan mereka dan kini Stev yang sedang mengendongnya menuju ke sana.


"Baiklah kita mulai..." Stev langsung melempar Cessa ke dalam kolam.


Riak air mengelombang ke sana kemari karna masuknya Rena ke dalam air dengan cukup keras.


Sebisa mungkin Cessa melepaskan ikatan di tangannya tapi seberapa kali pun ia mencoba tapi tak bisa karna ikatannya sangat kencang. Di tambah lagi ia harus melepaskannya di dalam air tepat di dasar kolam itu.


Di darat saja Cessa sudah merasa ikatak itu sangat kuat apalagi di dalam air seperti saat ini. Ini benar benar penyiksaan.


"Semangat..." Stev terus memperhatikan dari atas.


Cessa menatap matahari di atas kepalanya yang bersinar dengan terik tapi ia tidak dapat merasakan panasnya matahari itu. Cessa ingin meraup sebanyak banyaknya udara dan membuka mulutnya tapi yang masuk dalam mulutnya hanyalah air dan air.


Cessa kehabisan tenaga dan semakin lemah di dalam air yang tidak ada pasokan udara sama sekali. Cesaa pun tergeletak di dasar kolam.


Stev melihatnya dan langsung saja terjun ke dalam kolam itu menjemput Cessa. Stev meraih tubuh Cessa di dalam air itu dan mencium Cessa di bibirnya.


Menyalurkan nafas untuk Cessa di dalam air yang dingin di siang hari itu. Sampai di permukaan air Cessa masih tidak sadarkan diri. Cessa di sandarkan Stev di bahunya dan masih dalam gendongannya.


Stev membaringkan Cessa di pinggir kolam dan memberikan nafas buatan lagi, selain nafas buatan Stev juga memberikan CPR atau resusitasi jantung paru, Stev melakukannya dalam waktu 20 detik, dengan 30 kali tekanan di dada tengah Cessa.


Cessa membutahkan air yang tertelan saat ia di dalam kolam. Stev lega setelahnya. Dengan susah payah Cess mencari nafas semula.

__ADS_1


Tanpa bicara Stev langsung menggendong Cessa lagi dan membawanya ke kamar tadi. Cessa hanya bisa diam tak berkata dan terus bersyukur karna masih bisa menghirup udara. Meski terkadang Cessa juga masih terbatuk batuk di dalam gendongan Stev tapi tampaknya Stev tak mempermasalahkannya.


Saat tiba di kamar keduanya masih terdiam. Cessa yang tak berani berbicara duluan dengan Stev dan Stev juga dengan sisi pendiamnya. Stev meletakan Cessa du tempat tidur. Ia mengambil lagi pisau cutternya dan merobek baju Cessa menggunakannya.


"Ahhhh.." Cessa ketakutan.


Laki laki pendiam ini lebih menakutkan dari pada laki laki yang banyak bicara dan hanya bisa mengancam seperti Karen.


Cessa menelan salivanya dengan susah payah saat tubuhnya sudah tidak mengenakan sehelai benang pun. Stev terus melihatnya yang ketakutan. Stev semakin mendekati Cessa dan Cessa tak bisa menjauh, hanya bisa pasrah dan menerima saja apa yang akan terjadi padanya.


***


"Zino.. Kamu ingat rencananya kan?" Karen memastikan


"Iya Karen.. Aku mengingatnya. Mana Mungkin aku gak mengingatnya.. Ini tentang Cessa dan kita harus serius melakukanya..." Zino dan Karen sudah di dalam Mobil dan melaksanakan rencananya.


Lilen dan Rindu di tinggalkan di rumah, mereka tidak sendiri ada beberapa penjaga yang di tinggalkan Lorent untuk mereka.


Keduanya ketakutan di rumah itu tapi masing masing menyembunyikan ketakutannya. Karna takut mereka hanya duduk di ruang tengah seperti biasanya. Kadang Lilen mencuri pandang pada Rindu dan kadang Rindu yang curi pandang Pada Lilen.


Sepertinya ini kisah cinta yang cukup rumit.


***


Stev semakin mendekat dan mendekat. Ia mengambil selimut dan membalut Cessa di dalamnya.


"Kamu habis tenggelam.. Harus di kasih hangat..." Stev berlalu dari kamar itu dan mengecek anak buahnya dan rencananya.


"Orang ini.." Ingin sekali Cessa memarahinya.


Bisa bisanya ia melempar Cessa dan dia juga yang mengasihani Cessa. Dan bahkan menyelimuti Cessa. Tapi sepertinya memang tidak main main, karna ikatan tangan dan kaki Cessa tidak ia buka juga. Tapi yang buruknya, Cessa tidak mengenakan baju dan celana dan teman teman pelindung tubuhnya. Hanya mengandalkan selimut yang Stev berikan tadi.


***

__ADS_1


"Tuan kenapa anda berkeringat seperti itu, apa tuan...?" Nicolas Asisten Stev menduga duga aksi Stev dari dalam Kamarnya tapi dengan keadaan keringat bercucuran di tambah lagi wanita cantik yang sekamar dengannya. Maka satu satunya pemikiran Nicolas Tuanya pasti bersenang senang.


"Apa yang kamu pikirkan bodoh.. Aku tidak melakukan apa pun.." Stev malah memarahi Nicolas.


"Tapi tuan... Anda.. Seperti biasanya.. Tuan.. Itu anu.. " Nicolas sampai berbicara putus putus.


"Sudahlah Nico... Jangan yang itu sekarang. Apa kemajuannya sekarang?" Stev dududk dan Nicolas masih berdiri di tempatnya.


"Ya Tuan.. Penyerangan luar negara kita berhasil. Bukan hanya itu.. Lima gudang senjata milik Karen di Canada. Sepertinya Karen hanya menjadikan Canada sebagai gudangnya saja, dan sepertinya masih banyak gudang rahasia miliknya yang belum ketahuan." Nicolas membacakan data yang ia dapatkan.


"Lanjutkan.. Dan persiapkan sambutan hangat untuk Pemilik gudang itu. Aku yakin dalam 24 jam ini Karen dan Zino akan menyusul pujaan hatinya..." Stev juga pintar mengatur penyerangan karna ia bagiakan cenayang. Stev seperti bisa membaca peristiwa yang akan terjadi ke kepannya.


***


"Zino ini milikmu.." Karen menyerahkan baju anti peluru untuk Zino.


"Karen untukmu ada kan...?" Zino Sebenarnya terharu Karen memberikan baju anti peluru untuknya dan jadinya Zino khawatir Pada Karen juga.


"Kamu tenang saja.. Ini juga punyamu.." Karen memberikan pistol jenis Smith and Wesson model 29 revolver,. 44 Magnum miliknya.


"Bukankah ini milikmu Karen kenapa kamu berikan..?" Zino pernah mendapat data kalau pistol ini adalah pistol kesukaan Karen dan paling sering ia gunakan. Pistol yang di kabarkan pistol terkuat di dunia.


"Aku hanya ingin memberikannya padamu Zino.." Karen berlalu dari hadapam Zino


"Heh.. Kamu kira karna darah yang mengalir padamu aku resmi adikmu..?" Zino sedikit tersinggung karna sepertinya Karen sangat mengkhawatirkan dia. Padahal Zino juga adalah seorang Mafia yang pasti bisa melindungi dirinya sendiri.


"Aku hanya ingin melakukannya Zi.. Jangan tersinggung..." Karen pergi Segera dari hadapan Zino setelah mengatakan itu.


***


Cessa memperbaiki selimut yang mebalutnya. Menoleh ke kiri dan kanan tapi tidak ada yang bisa ia kenakan. Rasa yang Cessa rasa saat ini bercampur aduk. Rasa kesal, marah, takut, jengkel, sedih, rindu, semuanya jadi satu.


Knop pintu di buka dari luar dan betapa terkejutnya Cessa. Bahkan dirinya sampai terlonjak di tempat.

__ADS_1


Cessa


Off dulu.. Like like oke...


__ADS_2