Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 98


__ADS_3

Stev melipat tangannya di dada lagi. "Kalau aku bermain dengan wanita lain, wanita itu hamil juga, atau aku nikah lagi mungkin apa kamu siap..?" Tanya Stev lagi.


"Ya aku siap.. Apa pun yang kami minta aku siap, apa pun yang kamu lakukan tanpa sepengetahuan aku juga aku siap.." Cessa sangat yakin.


"Oke.. Tadi kamu minta apa..?" Stev pura pura lupa.


"Aku minta jangan sakiti Zino dan Karen. Lepaskan mereka, atau gak usah lawan mereka. Kita pergi aja dari sini.." Cessa mencari jalan keluar tanpa harus bertemu dengan Zino dan Karen.


Stev tersenyum, "Kalau aku sih, butuh perjanjian dari kamu dulu, ya usng mukanya lah gitu..." Stev sepertinya mengingkan sesuatu dari Cessa.


"Haaah..?" Cessa tak mengerti.


"Dengar aku kasih kamu kesempatan lagi, aku turun ke bawah dulu pastikan, dan aku balik ke sini kamu harus siap di ranjang, tapi kalau aku rasa pelayanan kamu kurang nanti, maka aku pikir pikir dulu... Apa aku harus ikut permintaan calon istriku ini atau main tembak tembakan saja sama Zino dan Karen dulu.." Ancamnya.


Stev meninggalkan Cessa di dalam kamar itu membeku. Mendengar kata ranjang saja sudah membuatnya beku apa lagi ia harus siap di ranjang bersama Stev. Cessa menoleh pada ranjang di dalam kamar itu. Ranjang yang besar, bersih pula, empuk bagai kapas, tapi haruskah Cessa melakukannya bersama Stev di sana.


Tiba tiba keceriaan dan pertengkaran lucu antara Zino dan Karen membayangi Cessa, Cessa tak ingin kedua kakak beradik sedarah itu terluka saat menyelamatkannya. Sementara Cessa bisa menyelamatkan dirinya sendiri.


"Aku harus bisa.. Kamu bisa Cessa.. Jadilah wanita nakal, goda Stev, gunakan tubuhmu Cessa.. Kamu cantik Cessa kamu cantik.. Rayu Stev.. Aku yakin Stev akan tergoda dan mau mengikuti permintaanmu.." Cessa menatap dirinya sendiri di depan Cermin besar itu, memberi semangat pada dirinya sendiri.


"Kali ini aku akan lindungi kedua kakak baradik itu.." tekadnya.


"Goda Stev, goda Stev, goda Stev, Stev laki laki baik, jangan takut padanya, dia tampan dan baik, dia gak akan sakiti aku... Ya aku bisa, ayo Cessa...!" Keputusannya sudah bulat. Ia siap melayani Stev di ranjang, entah sakit atau tidak tapi itu sudah pilihanya.


Cessa merapikan ranjang itu, membersihkannya, lalu ia menatap dirinya di pantulan cermin itu.


"Aku harus cantik...!"


***


"Nicolas... Apa ada pergerakan lagi dari Zino atau Karen..?" Stev mengunjungi Asistennya itu dulu.


"Tidak ada tuan, mereka sangat pintar bersembunyi sepertinya... Bila ada kanar terbaru lagi akan saya kabari tuan.." Nicolas memberis hormat pada Stev.

__ADS_1


"Oke bagus.. Untuk 30 menit ke depan jangan ke kamarku.. Oke..!" Nicolas hanya menganguk yakin dan paham yang Stev katakan.


Stev pun berlalu, "Di kondisi kayak gini masih sempat aja..." Nicolas pastinya tahu apa yang di larang Stev padanya ini. Larangan keras jangan mendekati kamarnya. Dan dari wajah Stev yang terlihat sangat bersemangat itu saja sudah bisa di tebak oleh Nicolas.


****


Ceklek..


Stev membuka pintu kamar Cessa. Ia tak menemukan Cessa di atas ranjangnya tapi ia menemukan Cesaa sedang menyisir rambutnya di depan cermin.


"Apa kamu sedang bersiap..?" Stev mengunci pintunya lalu berjalan ke arah Cessa di depan Cermin.


"Biar rapi aja.." Jawan Cessa dan terus menyisir dan hendak mengikat rambutnya.


"Sesiap itu kah kamu..?" Stev tersenyum.


"Tentu.." Cessa menjawab juga sambil menatap Stev dari pantukan cermin. Cessa memang tersenyum tapi sebenarnya Cessa sangat takut dan gemetaran.


Senyum memukau itu berhasil mengambil alih dunia Stev seketika. Sangat cantik dan indah senyum Cessa.


"Hari ini kamu milik aku..." Stev mengecup leher jenjang Cessa yang sangat terlihat karna rambut rambutnya sedang di ikatnya.


"Aku belum selesai ikat rambut.." Sahut Cessa juga berusaha mengulur Waktu.


"Gak di ikat juga cantik kok.." Ikatan rambut Cessa sudah selesai dan Stev langsung menarik Cessa agar menhadapnya dan langsung mencuri ciuman Cessa.


Cessa membalas, ia bahkan memeluk Stev juga. Tangan nakal Cessa juga mengelus elus dada Stev. Rangsangan yang sangat pas untuk Stev.


"Kamu nakal.." Stev benar benar tergoda. Apalagi beberapa bulan ini ia tidak pernah bersenang senang karna sibuk mencari tahu Zino dan Karen. Mungkin inilah saatnya ia bermain.


Cessa hanya mengenakan kemaja putih yang tadi Stev berikan padanya, sangat seksi karna hanya sepaha Cessa saja, saat tangannya terangkat mengelus Stev, kemeja itu juga semakin naik.


Stev mulai dengan tanganya dan mengelus apa yang ia inginkan. Cessa mengalungkan tangannya di leher Stev dan merasakan sentuhan sentuhan Stev.

__ADS_1


"Aaahhh..." De**An pertama Cessa karna ulah Stev. Stev sudah merasa menjadi pemenangnya hanya dengan mendengar suara ******* Cessa.


"Yaaahhh..." Stev pun semakin suka.


"Tuan.. Anda bilang tadi ingin aku layani..? Tapi kenapa tuan yang layani aku..?" Cessa tak ingin terus di sentuh dan membuatnya mengeluarkan suara suara aneh.


"Ooowww ya.. Kamu mau layani aku di ranjang kan.. Ayo.." Stev mengendong Cessa dan membaringkannya di ranjang.


"Kamu cukup layani aku dengan pasang badan aja, dan cukup nikmati apa yang sku lakukan." Stev sudah berada di atas tubuh Cessa.


Cessa tak mengira itu akan terjadi, ia kira ia yang akan menggoda Stev, Cessa sangat tak suka rasa ini, ia menahan semuanya, geli, sakit, menjadi satu. Cessa berpikir alangkah lebih baik kalau dia yang lakukan itu pada Stev, tapi ini malah ia yang merasakanya.


***


"Zi.. Apa kamu akan tetap menerima Cessa walaupun ia sudah di sentuh..?" Karen tiba tiba betanya pada Zino. Saat ini Karen dan Zino sedang berpindah tempat. Dengan cara kamuflase.


"Aku akan tetap cinta sama Cessa apa pun yang terjadi. Aku juga tahu kok kamu pasti pernah sentuh Cessa. Tapi itu gak berlaku sama aku. Aku akan terus cinta sama Cessa." Jawab Zino sembil terus merangkak.


"Kalau Stev juga menyentuh Cessa gimana..?" bukanya fokus pada misi ini Karen malah bertanya yang aneh aneh.


"Aku sudah bilang, aku gak peduli.." Tegas Zino lagi.


"Oke baguslah.." Barulah Karen tidak banyak bicara.


***


"Eeemmm Rindu.. Apa ada kabar dari Lorent dan yang lainnya...?" baru kali ini Lilen berbicara dengan Rindu.


"Ada kemarin malam ada Lorent kabari, mereka hari ini akan menyerang markas Laki laki Hiu itu." ucap Rindu.


"Laki laki hiu... Ooohh laki laki yang mamasukan bom dalam mulutku.. " Lilen baru ingat.


***

__ADS_1


"Stop...!!" Cessa mendorong kepala Stev yang sedang bersemayam.


Off dulu guys... Koment donk.. Like juga ya.. Kasih bunga dan vote, dan juga rate bintangnya.. Makasih


__ADS_2