
Zino menatap Cessa yang tak menanggapi ucapannya dan malah terus menatap pintu keluar.
"Kalau kamu tidak ingin bermain video game denganku maka lebih baik kamu duduk di situ sambil menunggu teman best friendmu itu. Bagaimana? Aku lelah melihatmu berdiri disitu seperti patung hiasan, di sebelahmu itu" Zino menunjuk menunjuk patung yang berada di sebelah Cessa, patung itu menggambarkan wanita berselendang nan seksi dan sedang menuang air kedalam kendi emas.
Cessa menoleh ke kiri dan kanan melihat patung patungan yang di maksud Zino barusan. Ya memang Cessa sedang berdiri di tengah tengah kedua patung itu.
"Iiisss" Cessa berjalan ke arah sofa di hadapan Zino dan duduk dengan cantik di sana.
Sementara itu Zino terus melanjutkan video gamenya tanpa menggoda wanita cantik di hadapannya.
1 menit, 5 menit, 10 menit.
"Aaaaahhhh b*ng*k*i kenapa payah betul siiihhh aaiisss huhhhh malas main lagi." Zino melempar handphonenya ke sofa yang ia dudukki dan langsung melipat tangan di dadanya seperti anak kecil yang tengah merajuk.
"Dia tidak jauh berbeda dengan manusia pada umumnya" Cessa cukup kaget dengan tingkah lucu Zino.
"Aku kira dia berbeda jauh dari pada manusia di bumi ini. Tapi rupanya sama saja. Aku pikir dia akan sangat arogan dan jahat, apalagi denganku, yang bukan siapa siapa hanya orang luar yang harus di rawat di rumahnya yang super mewah dan megah. Sudahlah nikmati saja selama aku aman dan tak di sakiti maka aku akan baik baik saja. Kalau aku merasa terancam maka aku akan pergi, lagi pula untuk beberapa bulan ke depan aku masih belum mendapat tempat tinggal yang aman, uang tabungan juga menipis, kala tidak bergantung di sini aku harus kemana, Rindu? Rindu juga sebelas dua belas denganku. Terima saja takdirmu Cessa. Ya tuhan bantulah hamba-Mu ini, berikanlah hamba jalan yang terbaik, bantulah hamba untuk semua masalah yang hamba temui, bantu hamba mengiklaskan anak hamba Amin." Cessa bergelut sendiri dengan hati dan pikirannya. Dengan kehidupanya yang entah akan menuntunnya kemana. Satu satunya jalan untuk sekarang hanyalah Zino, lagi pula bila ia lari sekarang, Zino pasti akan mencarinya walaupun sampai ke lubang semut, lubang buaya sekalipun.
__ADS_1
Zino yang dari tadi memperhatikan Cessa dengan seksama sangat mengerti apa yang kini tengah Cessa alami, ingin Zino duduk di sampingnya dan memeluk Cessa dan memberi rasa aman dan nyaman. Tapi apalah daya kini masih ada dinding yang menghalangi Zino. Zino belum bisa bergerak leluasa dan memberikan apa yang Cessa perlukan secara langsung karna takut itu malah membuat Cessa semakin takut dengan dirinya.
Diam diam Zino belajar dari beberapa psikolog dan meminta bantuan atau hanya sekedar mencari tahu tata cara pendekatan dengan Cessa dan tanpa membuat Cessa takut apalagi menjauhi Zino. Tanpa malu Zino menceritakan kisahnya dan Cessa agar para Psikolog juga dapat membantunya dengan tulus hati. Psikolog itu sangat paham apa yang Zino dan Cessa alami dan oleh karna itu Psikolog itu meminta agar Zino tidak bersikap berlebihan karna itu hanya akan membuat Cessa semakin takut dan merasa tertekan, Psikolog itu juga meminta agar Zino melakukan hal hal yang orang lain lakukan sekarang mah misalnya main video game, joget joget trend kekinian, dan lain lainya agar apa? Agar cessa bisa membuang semua kegundahan hatinya dan membuang jauh jauh pikiran jeleknya. Dan percaya pada Zino bukanlah seperti yang Sering Cessa pikirkan. Dan ternyata saran yang psikolog itu berikan memang betul Cessa nampak lebih nyaman dan tidak terlalu kaku di hadapan Zino.
Zino tersenyum puas melihat Cessa mulai mengerakan bibirnya seperti mengerucutkannya, melemaskannya lagi, melipatnya kedalam. Dari yang psikolog itu ajarkan pada Zini itu adalah ekspresi ekspresi yang akan Cessa keluarkan saat ia sudah merasa nyaman dan mulai meringankan beban yang Cessa buat sendiri.
Tidak sia sia Zino belajar main video game dengan anak salah satu pelayan di rumahnya itu. Ya Zino sama sekali tidak memiliki bakat bermain video game. Ia melakukan ini hanya karna perlu dan harus. Dan sebenarnya tadi itu Zino benar benar kesal karna ia kalah didalam video game itu tadi, ingin rasanya ia membanting keras handphone tersebut tapi dengan cepat malaikat mengingatkanya akan keberadaan Cessa yang berada di depannya kini. Sehingga nampak benar benar nyata. Dan benar benar nyata tidak bisa main gamenya.
"Cessa!! " Rindu masuk kedalam rumah Zino dan langsung berjalan ke arah Cessa yang masih duduk manis di sofa empuk itu.
"Kamu kemana saja? Gak ingat pulang juga." Cicit kesal Cessa pada Rindu.
Tak lama masuk juga Jake membawa ponsel milik Rindu yang tadi tertinggal di tempat latihan Jake.
"Ini milikmu, tertinggal tadi Rin" Ucap Jake yang ketika sudah sampai di depan Rindu dan Cessa.
"Ooohhh sama laki laki ya... Makanya lupa sama aku. Sampe ada barang yang tertinggal lagi. Apa masih ada barang yang tertinggal?" Tanya Cessa pada Jake yang masih berada di sana.
__ADS_1
"Eemmm tidak ada. " Jawab Jake juga dengan cepat.
"Ooohh takutnya hati teman aku ini ketinggalan juga di kamu" Senyum menggoda pun keluar dari sudut bibir Cessa. Tak di sangka kedatangan Rindu dan Jake dapat membuat Cessa kembali memiliki senyuman.
"Iiihhh kamu ini ngomong apa sih.. Hati hati... Hati aku masih aman ya di sini." Rindu menunjuk dada sendiri.
Seseorang yang tak bergabung dengan pembasahan meraka bertiga hanyalah Zino seorang tapi ia juga tidak melarang, bahkan Zino cukup senang dengan apa yang haru saja ia lihat, senyum cantik Cessa mulai timbul. Ini adalah pertanda baik untul Zino dan bisa jadi jalan utamanya untuk kembali memdapatkan Cessa dengan cara yang benar tentunya.
Zino hanya terus duduk di sofanya, tak lama kemudian ia menatap jam di dinding yang sudah menunjukan pukul tujuh malam. Jam makan malam di rumah Zino.
"Bagaimana kalau kita makan dulu? sudah saatnya makan malam" Ucap Zino dengan lembut di sela ledekan dan goyonan ketiga orang di depannya itu.
"Aahh benar juga kalau begitu aku... "
"Tidak usah kau makan di sini Juga temani kami bertiga. Apa kau bisa Jake!" Zino memotong ucapan Jake karna ia tahu Jake akan memilih untuk pergi dan makan malam. Apa dengan yang lain di belakang, tapi bila ia pergi maka kedua wanita itu akan diam seperti patung hiasan lagi.
Jake yang paham dengan kode tangan yang Zino berikan maka apa pun yang Zino inginkan maka akan ia lakukan dalam kode itu juga Zino meminta Jake untuk bersikap biasa biasa saja jangan terlalu kaku dan terlalu patuh. Perankanlah teman lama itu intinya.
__ADS_1
Jake juga membalas kode Zino langsung pada saat itu juga tanpa memperlihatkannya ada Cessa dan Rindu.
off dulu kawan