Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 43


__ADS_3

Cessa sama sekali tidak ingat akan kejadian itu karna setelah Karen selesai, Karen langsung kembali memakaikan Cessa pakaiannya sehingga saat Cessa tersadar Cessa tidak merasa aneh sama sekali karna semuanya tampak biasa biasa saja.


***


Zino telah di suntikan obat penenang oleh Billy dan telah terlelap. Billy menatap kasihan dengan kawannya itu. Tapi Billy juga tidak bisa melakukan apa apa.


Jake dan rekan renakannya yang lain juga melanjutkan pencarian mereka. Jake mengambil alih Zino sementara ini. Jake yakin hal ini sengaja di rancang Karen agar Zino tidak fokus dengan pencariannya dan malah sibuk pusing pusing dengan apa yang telah ia lihat dari beberapa Video yang Karen beri atau kirimkan pada Zino. Jake harus secepatnya mendapat tempat persembunyian Karen. Dan tentu saja segera membawa Cessa kembali pada Zino.


***


Karen mendapat kabar dari anak buahnya yang ia kirim ke Jepang untuk berlibur dan berbulan madu di Negara Sakura itu.


"Bagus sekali informasimu. Selamat berbulan madu." Karen memutuskan sambungan telponnya dan tersenyum bahagia.


Di liriknya Cessa yang masih terlelap di sampingnya. Cessa masih menghadap Karen, sedangkan Karen sekarang tengah duduk dan bersandar di headboard ranjangnya. Tapi walaupun demikian, Karej tetap melingkarkan tangnnya di pinggang Cessa seakan tak ingin melepaskannya.


Karen meraih gawainya dan mulai mengirimi pesan pesan pada semua anak buahnya untuk langkah yang akan mereka tempuh selanjutnya. Karna ada pergerakan dari Karen, Cessa sedikit terganggu dan mulai bergerak tak tenang.


Karen yang menyadari itu dengan cepat kembali ke posisi awalnya dan langsung mengepuk ngepuk b*k*ng Cessa dan benar saja, Cessa tertidur lagi dengan pulasnya. Karen tersenyum melihat wanita cantik itu terlelap lagi.


Hujan turun di subuh ini. Menyuruakkan dingin ke dalam hotel yang berada di pegunugan itu. Hotel yang langsung berhadapan dengan hamparan kebun teh yang entah berapa puluh meter membentang luas.


Lagi lagi di kamar sepasang insan Tuhan dingin itu juga menghampiri. Cessa yang tadinya baik baik saja tiba tiba merasa dingin yang teramat sangat. Karen di sampingnya tak menyadari hal itu.


Cessa membuka matanya, dilihatnya Karen yang sedang fokus dengan gawainya. Cessa bangun dari baringnya dan langsung membuat Karen terkejut.


"Kok kamu bangun? Aku ganggukah?" Tanya Karen dan meletakan Gawainya.


"Tidak aku kedinginan." Jawab singkat Cessa yang langsung mengelus lengan lengannya sendiri. Karen yang melihat itu merasa kasihan pada Cessa. Karen merasa bersalah tidak memperhatikan Cessa yang kedinginan.


Karen segera turun dari ranjang dan mengambil selimut yang ia, buang ke lantai tadi. Karen memakaikan selimut itu pada Cessa dan Karen juga masuk ke dalam selimut itu.


"Tidur lagi ya.. Aku juga akan tidur." Kata Karen sangat lembut pada Cessa.


"Terima kasih.." Ucap singkat Cessa dan langsung memejamkan matanya lagi.

__ADS_1


Belum juga Cessa terlelap dalam mimpinya lagi, Karen memajukan tubuhnya agar dekat dengan Cessa dan meraih tubuh Cessa memasukannya ke dalam peluknya.


Hangat tubuh Karen mulai menjalari tubuh Cessa, perlahan tapi pasti Cessa terlelap lagi. Tanpa Cessa sadari karna sudah tak tahan dengan kantuknya Cessa menyandarkan kepalanya di dada Karen.


Karen merasa Cessa sudah terlelap lagi dan Karen memajukan kepalanya dan mengecup kening Cessa. Sungguh Karen merasakan hangat tak biasa saat mengecup Cessa. Hangat yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. Bahkan darahnya mendesir dengan sangat cepat.


Karna Karen terhanyut dalam kehangatan yang ia dapatkan Karen pun terlelap juga bersama Cessa. Sementara itu Gawainya terus bergetar dan notifikasi dari anak buahnya masuk satu persatu. Ada bahaya yang tengah mengintai entah itu dari mana, yang pasti bukan dari Kubu Zino dan juga Kubu Karen.


Tapi saat ini Karen tak memperdulikannya karna ia tengah menikmati rasa yang tak penah ada.


***


Zino berjalan seorang diri, menapaki jalan yang sangat besar. Zino menoleh ke kanan dan ke kiri mencari orang yang dapat mengobati luka di sekujur tubuhnya.


Tapi tempat itu kosong tak ada siapa pun, tapi bagai tak kenal putus asa Zino terus melangkah.


Tapi tiba tiba Zino sampai di sebuah gubuk kecil,


"Hello...?" Zino Mamanggil berharap ada orang yang tinggal di sana.


Bukannya orang yang keluar tapi malah anak perempuan kecil yang keluar dari bawah kolong gubuk itu. Zino jelas sangat terkejut.


"Sebentar ya paman, aku panggilkan ayahku dulu." Anak kecil itu berlalu dan berlari entah kemana. Zino pun mendudukkan dirinya di gubuk itu berharap Sang pemilik gubuk dan orang tua dari anak kecil itu akan tiba.


Tiba tiba rasa sakit di tubuh Zino semakin menjadi, Merintih, berteriak Zino saat itu. Tak lama kemudian datanglah anak kecil itu lagi.


"Paman itu ada ayahku..." Anak keil itu menunjuk semak semak.


Dan tak lama kemudian timbullah seorang laki laki dari dalam semak semak itu. Laki laki yang di yakini adalah Ayah dari anak kecil itu tadi. Zino tak melepaskan pandangannya dari laki laki yang baru tiba itu karna laki laki itu tidak mengenakan baju, hanya mengenakan celana pendek.


Laki laki itu menghampiri Zino dan memegangi luka luka Zino. "Aku tidak tahu obatnya tapi sepertinya istriku bisa. Dia pandai dalam mengobati luka. Sebentar ya..." Laki laki itu berjalan lagi ke arah semak semak tempat ia keluar dari.


"Sayangku... Ada seseorang yang membutuhkan pertolonganmu. Keluarlah sebentar." Ucapnya.


Sedangkan anak kecil tadi duduk manis di samping Zino dan mengayun ayunkan kedua kakinya ke depan dan ke belakang. Zino menoleh pada anak perempuan itu. Ia merasa seperti mengenal anak kecil itu tapi ia lupa itu siapa. Sementara anak kecil itu tetap tersenyum pada Zino "Paman, sakit ya...Tapi aku yakin pasti akan sembuh jika ibuku yang mengobatinya" Ucap anak perempuan itu dengan suara renyahnya. Imut, tapi Zino masih merasa aneh dengan yang terjadi di hadapannya.

__ADS_1


"Sebentar ya..." Terdengar suara dari dalam semak semak itu, terdengar seperti suara seorang wanita.


Semak semak itu bergerak, dan tak lama kemudian keluarlah wanita cantik dengan hanya mengenakan kain melilit di tubuhnya.


Zino membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang ia lihat ini. "Ada apa ini semua?" Ucapnya was was.


Wanita itu berjalan bersama laki laki itu dan sampai di depan Zino dan anak kecil tadi. Laki laki itu langsung mengendong anak kecil itu dan mengelitikinya. Wanita yang pastinya adalah ibu dari anak kecil itu dan istri dari laki laki itu hanya tersenyum sumringah melihat tingkah suami dan anaknya.


Sedangkn Zino tidak dapat berkata apa apa. Hanya sedang menatapi interaksi ayah dan anak itu.


"Mana lukanya.." Tanya Wanita cantik itu.


Zino berfokus lagi pada wanita di depanya.


"Kamu... Apa kamu tidak mengingatku?" tanya Zino, bukannya menjawab pertenyaan sang wanita, malah mengajukan pertanyaan balik.


"Maksudnya?" Wanita itu tidak paham.


"Hei... Apa itu anak kalian..?" Kali ini Zino bertanya pada laki laki yang sedang mengendong anaknya itu.


"Iya ini anak kami... Dia cantik seperti ibunya kan..." Laki laki itu menunjuk istrinya dengan dagunya saja karna kedua tangannya sedang menggendong anaknya.


Zino mengalihkan pandangannya lagi pada wanita yang tengah mengobati tubuh Zino yang terluka. Entah mengapa sakit di tubuh Zino hilang karna melihat pemandangan ini. Pemandangan ayah dan anaknya, di tambah lagi sang ibu dari anak tersebut. Saat Zino teliti, memanglah anak kecil itu sangat mirip ibunya.


"Tidak ini semua tidak benarkan..." Zino bangkit dari duduknya sambil memegangi kepalanya dan mengeleng gelengkan kepalanya lagi, Zino tampak seperti orang yang panik sekali.


"Apanya yang tidak benar? Aku ayah anak ini, dan itu adalah ibu dari anak ini. Dan kami berdua adalah sepasang suami istri." ucap Laki laki tersebut.


Zino masih terlihat uring uringan. "Tidak... Kenapa ini bisa terjadi... Ini tidak mungkin..." Pekik Zino.


"Cessa ini aku Zino... Bagaimana bisa kamu memiliki anak dengan Karen.. Dan anak itu... Dia.. Dia sangat mirip denganmu... Kapan kalian..." Zino tidak dapat meneruskan kata katanya lagi.


Tiba tiba video video yang pernah Zino tonton dimana Cessa sedang bersama dengan Karen terlintas dengan sempurna di depannya.


Billy melihat hal yang tak beres dengan Zino yang tampaknya sedang menahan nafasnya sendiri dengan cepat membangunkan Zino dengan mengguncang guncang tubuh Zino. Lamabt laun pun Zino sadar dan langsung menangisi mimpinya barusan.

__ADS_1


Rupanya itu semua hanya mimpi belaka.


Ya hanya mimpi ya readers... Aman...


__ADS_2