
Cessa terharu dengan kebaikkan orang orang di sisinya. Tapi sepertinya tak ada yang bisa mengerti apa yang Cessa rasa.
"Betul Sayang.. Karen pasti senang juga liat kamu bahagia di sini. Stop untuk terus terpuruk di dalam kenangan. Buka lembaran baru sayang." Bella juga ada di samping Cessa dan mendukungnya.
"Iya Mommy, Cessa coba.. Dan Zi.. Aku harap kamj juga paham.. Kamu juga punya tugas lain kok.. Mari kita tunggu bersama.." Ajak Cessa dan Zino bisa mengerti dengan cepat apa yang di maksud Cessa.
"Tugas apa sih..?" Bella jadi kepo.
"Gak ada apa apa Mommy.." Sarkas cepat Zino.
"Eemmm awas aja kalau macam macam.." Satu pukulan telak di hati Zino merasa terancam mendengarnya.
"Iya Mommy gak ada apa apa kok.." Zino beralih merangkul Bella.
"Eeemmm dasar anak laki laki.." Bella mencubit lengan Zino seperti para ibu biasanya.
Cessa juga senang melihat kedekatan Zino dan Bella. Terlintas Karen yang juga sangat sayang pada Bella.
"Karen.. Liat ini, Zino ambil Mommymu.." ucap Cessa dalam hatinya. Cessa lanjut menciumi Karsa di gengdongannya.
***
Lorent sangat fokus pada laptopnya. Matanya kadang memicing membaca semua informasi yang ia dapatkan.
"Sayang.." Panggil Rindu.
__ADS_1
Lorent tak menggbrisnya karna terlalu fokus.
"Sayang..?" Panggil Rindu lagi.
"Issshh" Rindu keluar dari kamarnya dengan marah karna tak di dengarkan Lorent.
Sudah berselang lama setelah Rindu keluar dari kamarnya, "Rindu sayang.. Kamu mau.." Lorent menoleh mencari Rindu.
"Eeehh tadi ada Rindu..?" Lorent meyapu seluruh ruangan tapi tak menemukan Rindu.
"Astaga.." Lorent segera bangkit dari kursinya dan mencari Rindu di luar kamar.
"Sayang..!?" Panggil Lorent terus.
"Apa..?" terdengar dari ucapan Rindu a marah besar pada Lorent.
"Sayang maaf.." Lorent memeluk Rindu dengan erat.
"Sayang maaf aku tadi gak dengar ya.. Haduh maaf.. Aku yang salah.. Maaf ya sayangku.." berkali kali Lorent meminta maaf sambil menciumi Rindu.
"Aku panggil panggil gak dengar dengar.." Rindu masih marah.
"Ya.. Maaf ya.. Oke sekarang mau apa..? Eemm makan apa.. Aku carikan.. Atau aku masakkan.. Atau apa kah..?" Lorent ingin menebus semuanya. Laki laki berkacam mata itu sangat imut. Cukup dengan begitu, Rindu sudah luluh dengan tingkah Lorent.
"Ya.. Aku cuma lapar tadi.. Aku mau ajak kamu makan siang sama sama.." Rindu mencolek hidung Lorent.
__ADS_1
"Eeemmm.. Oke aku siapkan dulu makan siangnya sayang.." Lorent bergerak cepat menyiapkan makan siang untuk Rindu. Rindu pun mengatakan apa saja yang ia inginkan pada Lorent. Lorent sangat menikmati waktu bersama Rindu. Ini waktu yang paling di tunggu Lorent, melayani wanita yang paling ia cintai.
***
Jake dan Lilen sudah tiba di supermarket, Lilen mencari biskuit yang biasanya ia makan.
"Mana ya..?" Lilen bertanya tanya.
"Gak ada kah..?" Jake menoleh pada Lilen yang sedang sibuk menoleh sana dan sini.
"Kemarin di sini.." Ucap Lilen.
"Tapi ini cuma biskuit untuk Bayi..?" Jake mengambil satu kotak dan membacanya.
"Iya.. Ini untuk bayi.. Tapi yang untuk ibu hamil mana ya..? Habiskan..?" Lilen gelisah.
"Aku tanya dulu sama petugasnya." Jake berlalu dan Lilen menatap punggung Jake. Lilen mengelap hidungnya dengan Mantel yang ia kenakan.
"Eeemm wanginya.. Eeehh?" Lilen terkejut.
"Astaga.." Lilen baru ingat ini mantel Jake. Dan wangi yang ia ciumi ini adalah milik Jake. Rasa malu mengelilingi Lilen. Entah apa yang buat ia sangat suka wangi di mantel ini. Rasanya candu, dan ingin terus menciumi aroma ini.
Jake..
Maaf ya slow dulu..
__ADS_1