
Cessa menghela nafasnya lagi.
"Cessa..?" Lilen tiba tiba berada di belakang Cessa.
"Li.. Lilen.. Bikin kaget aja.." Cessa memegangi dadanya.
"Kamu kenapa kok cuma ngintip ngintip aja liat Zino sama Karsa..?" Lilen melihat jelas.
"Aaahh gak kok.. Cuma pastiin aja Karsa gak nangis sama Zino. Aku khawatirnya Karsa nangis." Alasan Cessa.
"Eeemm ya.. Eeemm Cessa busa temani aku..." Lilen malu malu mengatakannya.
"Temani ke mana..?" pertama kalinya Lilen mengajaknya ke suatu tempat.
"Itu aku..." Lilen makin ragu.
"Lilen..? Sampai kapan kamu malu sama aku.. Anggap aku ini kakak kamu Lilen.." Cessa memegangi bahu Lilen.
"Eeem kita bisa bicara di kamar aku aja..?" Cessa mengangguk dan keduanya pergi ke kamar Lilen.
__ADS_1
***
"Jadi kamu mau periksa kandungan?"
Keduanya sudah di kamar Lilen.
"Iya.. Aku takut kalau pergi sendiri.. Eeemm aku juga gugup nanti. Jadi aku bawa kamu aja Sa.." Lilen meremas jari jemarinya.
"Oohhh.. Eeemm boleh deh..." Cessa mendapat ide bagus.
"Eeemm kamu juga mau belanja belanja gak.. Mumpu keluar aku mau belanja belanja, bosan di rumah terus.." Cessa tersenyum sangat lebar. Lilen mengangguk semangat juga.
"Itu juga maksud aku.. Aku juga bosan di sini lama lama dan gak ada kegiatan sama sekali.." keluh Lilen juga.
***
"Ayo.." Cessa langsung mengandeng tangan Lilen.
Baru kali ini Lilen juga tersenyum lebar dan tampak bahagia. Cessa benar benar menghiburnya dan membuat suasana hatinya tenang dan senang.
__ADS_1
"Kalian mau ke mana..?" Zino melihat Cessa dan Lilen dengan aktribut yang berbeda.
"Aku mau temani Lilen pergi cek kandungan... Kamu di rumah aja sama Baby Karsa ya gak lama kok.." Cessa menitipkan Karsa pada Zino karna sejak tadi juga Karsa tenang bersama Zino.
"Hah..? Kalian berdua aja kah..?" Zino tentu langsung paniklah.
"Ya sama sopir juga.. Tadi aku mau aja Jake tapi dia sibuk perbaiki tembakan panjangnya itu. Apa tuh namanya..?" Lidah Cessa sangat susah menyebutkannya.
"Snaiper.." Lilen menyambung dan sekaligus menjawab pertanyaan Cessa.
"Oohh ya itu.. Kamu.. Kamu juga pasti gak akan mau kan.. Jadi aku aja ya.. Kamu bisa sama Karsa.." Cessa mengangguk yakin pada Zino.
"Oohh ya.. Aku bisa sama Karsa aja.. Tapi jangan lama ya.. Takut nanti Karsa nangis.." Jauh di lubuk hati Zino merasa risau akan di tinggal sendiri dengan baby Karsa. Sedari tadi ia tenang karna Cessa berada tak jauh darinya dan kalau kalau Karsa menangis, cerewet seperti biasanya Zino tinggal minta Cessa untuk menenangkannya. Tapi kalau Cessa benar benar tak ada di rumah dan jika yang Zino pikirkan akan terjadi maka habislah Zino.
"Oke.. Kami jalan dulu ya.. Susu Karsa dan yang lainnya di tempat biasa.. Hati hati kalau bersihkan PUP Karsa.. Nanti lecet.. Oke.. Karsa juga tidur nyenyak tuh.. Pas aja kan.." Zino hanya tersenyum seperti kuda.
"Hati hati di jalan Mommy.." Zino yang tadinya hemat biacara dengan Cessa berubah drastis. Dia menggunakan tangan Karsa dan melambaikan tangan mungil itu.
"Dahhh.." Cessa langsung menggandeng Lilen lagi dan berbicara pada Sopir untuk berangkat.
__ADS_1
"Oohh ya ampun.. Karsa sayang pintar kan sama Daddy.." Zino melirik Karsa yang masih pulas tidur.
Cessa...