Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 29


__ADS_3

Cessa dan Rindu saling tatap merasa tak nyaman karna sudah melupakan sang pemilik rumah aslinya yaitu Zino.


"Baiklah aku akan makan bersama kalian malam ini. " Jake memecahakan keheningan yang terjadi beberapa saat itu.


"Baiklah ayo, semuanya pasti sudah siap di meja makan. Mari!! " Zino bangkit dari duduknya dan berjalan mendahului semua yang berada di situ menuju dapur.


"Iisss aku lupa kalau ada si Zinosaurus tadi di sini hehehehe" Rindu membisikkan kata itu pada Cessa dan langsung mendapat respon pelototan dari Cessa.


****


Kini semuanya berada di depan meja makan dan masing masing sibuk dengan piring dan hidangan di depannya.


Hanya suara denting sendok yang bersahutan.


Rindu dan Cessa diam diam mencuri pandang satu sama lain. Dan diam diam Zino juga curi curi pandang pada Cessa, sedangkan Jake dia malah mengamati semua hal yang terjadi di hadapannya dengan pikiranya sendiri dan terkadang menggeleng samar samar melihat tingkah bosnya dan kedua wanita di depannya.


Tak berselang lama keempat manusia di meja makan itu sudah selesai dengan aktivitas di meja itu.


"Eeemm tuan Zino boleh tau apa aku bisa berbagi kamar dengan Rindu?" Cessa mencoba memberanikan diri untuk meminta sesuatu pada Zino.


Zino yang tengah minum air putihnya pun langsung menaruh gelasnya karna sangat senang Cessa berani menyampaikan apa yang ia inginkan tanpa sungkan padanya. Dan itu adalah pertanda yang sangat baik.


"Eemm tergantung Rindunya mau atau tidak, disini banyak kamar yang dapat ia pakai atau bergabung juga dengan kamu juga tidak apa apa. Bagaimana Rindu?" Zini melempar pertanyaan pada Rindu.


"Eemm aku.. "


Biim biim bim bim


Ponsel dari dalam saku Rindu berbunyi dan berhasil memotong pembiraan mereka.


"Permisi tuan Zino saya mau angkat telpon dulu, ini dari kakak saya." Setelah berpamitan dan mendapat anggukan dari Zino Rindu pun berjalan menjauh dan menerima telpon itu.


"Hallo.. Apa?? Bagaimana bisa kak? Haduhh.. oke kakak tenang dulu ya nanti aku kesitu. Oke." Ya kurang lebih seperti itulah pembicaraan Rindu di telponnya yang berhasil di dengar semua yang ada di meja makan.


"Sa.. maaf sebelumnya. Sepertinya malam ini aku tidak bisa menemanimu, karna di rumah kakakku sedang kedatangan rentenir mereka meminta untuk membayar uang yang aku dan kakakku pakai untuk pengobatan ibuku dulu dan sampai saat ini utang itu belum lunas, dan kini mereka sedang menagihnya di rumah dan mengancam akan mengambil rumah kakakku berserta isinya, walaupun itu rumah usang, tapi hanya itu satu satunya peninggalan ayah ibu kami. Dan karna itu aku akan ke sana, memang aku tidak memiliki banyak uang untuk melunasinya tapi aku masih bisa menyicilnya agar mereka pergi untuk sementara waktu. Sekali lagi maaf ya Sa... " Rindu menjelaskan panjang kali lebar pada Cessa agar Cessa paham akab kondisinya saat ini.


"Cessa memegang bahu Rindu dan tersenyum" Sudahlah Rindu aku paham, pergilah aku tidak apa apa kok"

__ADS_1


"Betul itu kan ada aku disini yang akan menemaninya." Sambung asal saja Zino.


""Eehhmm" Jake berdehem untuk menetralkan semuanya.


Cessa tersenyum lagi dan kembali pokus pada Rindu, "Benar, disinikan ada tuan Zino dan juga Jake, kamu tidak perlu khawatir."


Akhirnya Rindu merasa aman melepaskan temannya yang satu ini. Sementara itu Zino yang amat sumringah mendengar namanya kembali di sebut dan akan menemani Cessa di rumah itu.


"Oohhh ya kamu bilang utangmu belum lunas? Boleh tau nominalnya?" Zino kembali tersadar dari lamunannya dan bertanya pada Rindu yang masih berada di samping Cessa.


"Eemm masih 5 juta tuan tapi aku akan menyicilnya nanti 500 dulu, bulan depan nanti aku bayar lagi" Jelas Rindu atas pertanyaan Zino.


"Kalau kau tidak keberatan, tunggulah di sini sebentar, lima menit saja oke" Zino bangkin dari duduknya dan berjalan ke arah lift dan masuk ke dalamnya seorang diri.


Cessa dan Rindu langsung saling melempar pandangan satu sama lain dan menyisakan tanya di setiap tatapan mereka.


Tak lama kemudian Zino kembali dan membawa amplop coklat di tanganya.


"Ini.. Bawa ini dan serahkan pada mereka, dan aku jamin mereka tidak akan kembali menagih utang, dan kau akan tetap disini menemani Cessa" Zino menyerahkan amplop itu kepada Rindu dan berkata demikian.


"Ini uang, coba kamu buka, hitung kalau perlu. Aku sendiri yang menghitungnya dengan mesin penghitung uang, tidak mungkin salah ya.. " Zino berbangga diri.


"Maksudnya kamu membantu Rindu untuk melunasi utang utangnya begitu?" Cessa juga ikut bersuara setelah ia paham akan maksud Zino.


Zino serasa ingin melompat keudara saat mendengar Cessa memanggilnya dengan panggilan kamu.


wah rasanya sudah akrab aku ni... pepet terus jangan kasih kendor...


Senangnya itu belum bisa ia ucapkan tapi sangat nampak di depan anak buahnya Jake.


ooohh tuhan terimakasih atas kemurahan yang Engkau berikan, setidaknya bosku normal. Tak pernah hamba Mu ini melihat senyum dari pada bos hamba sendiri, semanis ini pula. ck ck ck...


"Iya bukannya aku gimana gimana ya tapi kan kamu harus temani Cessa di sini, kalau kamu pergi, misalnya mencari uang, menyetor uang, lalu mencari uang terus sampai utang itu lunas maka kamu tidak akan memiliki waktu untuk menemani Cessa di sini, kalau kamu tidak dapat menemani Cessa maka Cessa tidak akan betah tinggal di sini, kalau Cessa tidak betah di sini maka siapa yang akan pusing?? Ya akulah, masa Jake." jelas Zino panjang lebar agar semua orang di situ paham akan maksud niatannya.


Ya dan siapa sebenarnya dalang dari masalah utang piutang itu tuan Zino??


hati nurani Jake tidak dapat menahan diri. Hemmm... apa maksudnya ya??

__ADS_1


"Ooohhh..."


"Ooohhh..."


Rindu dan Cessa sama sama me'oohh' bersamaan dan keduanya sling membentuk huruf O di bibir masing masing.


"Terima kasih banyak tuan Zino. Anda sungguh baik karna sudah membantu saya, maka saya berjanji saya akan menemani Cessa di sini setelah semua masalah utang utangan ini beres. Sekali lagi terima kasih tuan." Rindu penuh haru mendapat bantuan dadakan dari Zino.


"Ya tidak apa apa, aku suka membantu orang kok" Zino membalas dengan senyumannya yang amat manis oenuh arti.


Maafkan aku Rindu. Ini jalan yang harus aku tempuh untuk saat ini, nanti bila semuanya sudah stabil dan terlaksana maka aku yang akan berterimakasih padamu. Aku tidak akan lupakan itu.


Penuh dengan teka teki setiap hati nurani berbicara.


"Baiklah Cessa, sebelum semakin larut, aku akan berangkat sekarang besok aku akan datang lagi. Percayalah" Rindu meyakinkan Cessa yang akan ia tinggal di sarang buaya itu.


"Iya Rindu pergilah, Ini sudah pukul 20.40 apa kamu tidak takut pulang sendiri?" Cessa memastikan


"Iya Cessa aku tidak takut kok, aman saja"


"Ya tenang saja, ini ada Jake yang akan mengantarmu sampai ke rumah, dan besok ia akan menjemputmu lagi ke rumahmu." Ucap Zino juga sok ikut ikutan dengan percakapan kedua sahabat itu.


"Benar aku akan mengantarmu lagi Pula aku takut bila kamu pulang sendiri, kamukan masih dalam tahap pengajaran."Jake juga ikut menimpali.


"Ceeehhhh sok peduli kamu tu.. " Cicit Rindu lagi.


"Sudah sudah ini semakin malam" Cessa menegahi semuanya.


"Iya nyonya" Jawab serempak Jake dan Rindu.


"Hei!!!! " gertak Cessa membuat seorang pria tak jauh dari situ melipat bibir manahan tawa.


Betapa lucunya nyonya Zino ini..


"Baiklah kami berangkat dulu" Pamit Rindu lada Cessa...


off lagi kawan

__ADS_1


__ADS_2