Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 140


__ADS_3

Jake menggelengkan kepalanya. Entah dari mana ia melihatnya. Tapi itu sangat lucu melihat tingkah Lilen.


"Apa sewangi itu mantelku. Padahal aku.." Jake menciumi tubuhnya sendiri.


Ck ck ck..


Jake menggelengkan kapalanya.


***


"Yank aku lelah.. Kapan kamu selesai..?" Rindu merasa sangat bosan.


"Sabar ya.. Dikit lagi.." Lorent sangat fokus pada Laptopnya tapi sebisa mungkin ia menjawab pertanyaan Rindu.


"Apa itu sangat penting Yank..?" Rindu beberapa hari ini benar benar di kurung Lorent di dalam kamar. Lorent tak membiarkan Rindu keluar sendiri dari kamar ini.


Meski usia kandungannya masih di trimester pertama, tapi itu adalah masa yang paling Lorent jaga. Karna menurutnya itu bukan hanya masa rentan tapi juga masa pembentukan otak, tulang, dan telinga bagian dalam terbentuk.


Lorent tak ingin kehilangan moment ini. Maka apapun yang ingin di lakukan Rindu maka Lorent harus bersamanya. Bukan hanya dengan perhatian dan kasih sayang tapi Lorent juga sangat memperhatikan jam makan vitamin dan susu Rindu.


"Sayang...." Panggil Rindu lagi.


"Eemm apa..?" Lorent berbalik.


"Cium aku..!" Lorent membulatkan matanya.

__ADS_1


"Oke.. Aku selalu siap mencium kamu.." Lorent menghampiri Rindu dan menciumnya penuh cinta.


"Aku cinta kamu.." Bisik Lorent setelah menciumi Rindu.


"Lorent.. Aku mau di manja.." Bisik Rindu lagi.


"Astaga.." Lorent tak bisa menolak.


"Kamu sangat manja.. Aku suka sekali manjamu ini.." Lorent memeluk dan memanjakan Rindu seperti mengusap rambut dan menciumi Rindu.


"Lorent... Apa tugas dari Zino sangat sulit aku liat kamu sibuk sekali kalau sudah jam segini.." Rindu tentu ingin tahu pekerjaan Lorent.


"Maaf ya kalau aku terlalu sibuk, aku juga gak bisa tentukan apa pekerjaan aku itu sulit atau mudah, tapi yang pasti aku lagi cari data baru. Yang di cari Zino juga. Ini bukan masalah besar cuma ini perlu untuk Zino.." Jelas Lorent.


Diam diam juga Zino sedang bekerja keras. Di balik dirinya yang sering mengganggu Cessa dan Karsa hanya untuk menunjukkan dirinya baik baik saja dan tak ada yang mengganggunya.


Tapi jika sudah saatnya bekerja maka mata biru itu tidak dapat mengalihkan padangannya dari laptopnya.


Seperti saat ini. Zino berkali kali juga berdecak kesal.


"Kenapa aku masih belum bisa menemukannya. Di mana wanita ini.." Decaknya kesal.


Wanita mana, siapa namanya, di mana.. Itu yang terus di cari Zino. Zino mudah sekalo frustasi, ia memijit keningnya matanya perih karna terlalu lama menatap layar laptop. Dan akhinya Zino memilih untuk keluar dari kamarnya dan bermain bersama Karsa, malaikat kecilnya.


***

__ADS_1


"Mama.. Mommy... Mama.. Mommy.." Cessa sedang berusaha mengajarkan Karsa untuk berbicara.


"Eeeemm.. Hooo.." Hanya itu jawaban dari bayi itu.


"Mana bisa.. Dia kan masih kecil.." Zino masuk ke kamar Cessa dan Karsa.


"Ck.. Kamu remehkan baby Karsa...?" Cessa tak terima.


"Ya kan dia masih kecil dia belum paham kamu bilang apa.." Zino duduk di tepi ranjang di berhadapan dengan Cessa.


"Tapi.. Dia bisa dengar apa yang kita katakan Zi.. Bahkan dari dalam perut ibunya dia sudah bisa dengar..." Tegas Cessa lagi.


"Oohh ya..?" Zino baru tahu masalah ini.


"Ya.. Makanya di sarankan untuk ajak bayi yang masih dalama kandingan untuk berinteraksi walaupun cuma berbicara, menyanyi, bercerita.. Apalagi di tambah elusan." Jelasnya.


"Wow.." Zino menatap Karsa.


"Daddy.. Aku Daddymu." Tegas Zino.


"Hemmm, dia sayang Mommynya aja.." Sahut Cessa.


"Iss janganlah gitu.." Tolak Zino tak setuju. Ia juga ingin segera di panggil Daddy oleh Karsa.


Off dulu ya.. Mentok otak Author..

__ADS_1


__ADS_2