
Bagaiakan di sambar petir Zino mengetahui kabar kalau tim elitenya sudah di kalahkan dan kelompok mata elang berhasil mendapatkan Cessa dan juga Rindu. Bahkan kini Karen sedah bersama Cessa dan lebih parahnya lagi Karen berani mencuium Cessa dengan sangat nyamnnya. Sedangkan Zino selama ini tidak pernah melakukan itu selain pada malam pertama kali bertemu Cessa.
***
"Aku yakin Zino pasti sedang kepanasan sekarang." Ujar Karen di dalam mobilnya yang kini sampai di hotel tempatnya menginap.
Ya Karen hanya menginap di sini. Dia tidak ingin nampak terlalu elegan dengan bersembunyi di rumah mewah ataupun villa mewah. Kalau dia ingin bisa saja, tapi mengingat kelompok Zino pandai dalam medeteksi maka Karen memilih untuk menginap di hotel saja. Itu tidak mungkin terbesit di otak Zino jika seorang Karen Stone mau menginap di hotel. Keluarga kaya sepertinya mungkin akan terkena elergi jika bisa bisanya menginap di hotel. Tapi kali ini demi semunya berjalan lancar, Karen rela menginap di sebuah hotel rendahan seperti tempat yang ia tinggali 1 hari yang lalu ini. Hotel yang tidak terlalu terkenal, mungkin hanya orang bawahan saja yang akan menginap di Hotel seperti ini.
"Bawa dia kekamarku... Aku ingin bermain main sebentar dengan kucing cantik ini." Kata Karen turun dari mobilnya dan langsung masuk ke dalam hotel membiarkan anak buahnya yang mengatur semuanya.
Karen bukannya menuju kamarnya tapi ia menuju bar kecil yang ada di dalam hotel itu. Karen memesan anggur merah untuk ia teguk merayakan awal kemenangannya ini.
***
Zino dengan berburu burunya datang ke tampat terakhir dia dan Cessa bersama.
Zino melihat tempat itu di penuhu bercak darah di mana mana, banyak anah buanya yang terluka. Kelihatannya Karen memang hanya menginginkn Cessa buktinya Karen dan kelompoknya hanya melukai anak buah Zino dan tidak ada yang terbunuh hanya luka luka yang tak begitu parah.
Zino masuk ke dalam ruangan tempat Cessa di bawa oleh Rindu. Zino juga melihat di jendela ada suntikan bius yang di tembakan dari bawah, tapi tidak mengenai orang di dalam ruangan hanya mengenai jendelanya.
Zino mengepalkan tangannya mengunpat dalam hatinya. Bagaimana ia bisa terhipnotis dalam naluri Mafianya dan lebih mementingkan menemukan Karen di banding menjaga dan melindungi Cessa.
Zino menoleh ke pintu ruamgan itu ada sobekan baju Cessa di sana. Zino yakin Cessa di tarik paksa sehingga merobek baju yang Cessa kenakan.
Zino terpuruk? ucap Pasti dan sekarang di landa khwatir, Zino kembali mengingat kata kata ranjang yang Karen sematkan di videonya tadi. Bisa bisa Karen benar benar melakukannya pada Cessa.
Mata Zino memerah amarahnya memuncak, ingin rasanya Zino menelan hidup hidup Karen saat ini juga.
"Karen!!" Zino mengepalkan tangannya hingga tangnnya itu berdarah di tancap kukunya sendiri.
__ADS_1
"Tuan tenang tuan.. Jangan seperti ini. Sekarang bukan saatnya tuan marah dan mengumpati Karen. Tapi kami perlu tuan untuk mengatur Strategi yang pas untuk menyerang kelompok Mata elang dan juga termasuk Karen sendiri." Saran Jake yang mengerti akan kemarahan tuannya sudah tak tertahankan.
Zino menarik nafas panjang dan ia hembuskan dengan kasar sekasarnya. Manarik rambutnya sendiri dan mengerutuki kebodohannya.
"Baiklah aku tenang.. Aku tenang, Cessa milikku dan aku akan mendapatkannya kembali dan akanku jaga dia tak akan kecolongan lagi seperti ini.
Zino beralih ke jam ditangannya ingin mengetahui pukul berapa kini. Pukul 1 siang. Jam yang seharusnya Zijo dan Cessa lalui dengan makan siang yang menyenangkan. Tapi kini tinggal harapan. Cessa sudah di bawa pergi Karen dan bahkan Zino tidak tahu apakah Karen akan memberikan Cessa makan siang yang enak atau tidak.
Zino kembali terpuruk mengingat janjinya yang ia katakan pada Cessa sebelum ia meninggalkannya dengan Rindu. Janji untuk makan siang, dan bahkan tadi Cessalah yang meminta untuk makan bersama Zino.Tak perlu di paksa atau di minta, Cesaa sendiri yang menginginkannya. Tapi sekarang apa? Otak Zino sendiri tidak dapat berpukir dengan jernih. Jake paham akan hal yang menimpa tuannya maka Jake langsung menarik tuanya dan memasukannya ke dalam mobil dan menjauh dari tempat itu. Karna tempat itu hanya akan membuat Zino semakin terpuruk, bukannya membantu membuat strategi, Zino hanya akan merunyamkan semuanya. Sekarang lebih baik tenangkan Zino terlebih dahulu dan setelah itu baru berpikir.
***
Cessa membuka matanya dan ia melihat sekelilingnya. Ini bukanlah tempat yang ia kenali. Dimana ia kini? Pikirnya. Cessa bangkit dan membuka jendela kaca yang ada di dalam kamar tempat ia terbangun ini.
Cessa semakin bingung ia di mana.
CLEK..
Pintu kamar itu terbuka dan pastinya Cessa dengan cepat menoleh dari mana arah suara itu. Cessa berpikir mungkin Zinolah yang datang dan masuk memeriksanya. Tapi diluar dugaan Cessa, pria lain yang masuk.
Cessa memegangi dadanya sendiri yang rasanya akan terlihat detak jantungnya di dalam sana. Atau mungkin jantungnya akan keluar dengan sendirinya.
Panik? Tentu saja Cessa paniknya bukan main. Cessa memundurkan langkahnya dan saat melihat senyum laki laki itu timbul dan membuat suasana semakin mencekam bagi Cessa. Padahal senyum yang Karen berikan benar benar indah, dimana lesung pipitnya terlihat dan deretan giginya yang bersih pun menambah ketampanannya.
"Kenapa Baby? Apa yang kamu takutkan? Aku tidak akan memakanmu kok..." Karen berjalan ke arah ranjang dan membuka baju yang kini ia kenakan menampakan tubuh atletisnya.
Cessa malah seperti anak kecil yang sedang di hukum orang tuanya dengan berdiri di sudut ruangan. Nafasnya masih tak teratur.
Melihat tingkah Cessa membuat Karen mengeleng gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Wanita ini bodoh atau apa sih..? Apa kamu gak tahu banyak wanita yang ingin melihat tubuh indahku ini. Tapi kamu hanya berdiri di pojok itu? Apa kamu memang sepolos ini, sama seperti yang di datamu itu? Mainan baru kalau seperti itu." Karen membaringkan tubuhnya di ranjang tempat dari Cessa terbaring.
"Kemari!!" Titah Karen tanpa menoleh pada Cessa.
Tak ada tanggapan dari Cessa hanya sedikit terkejut saja mendengar suara Karen.
Karna tak ada tanggapan, Karen menoleh pada Cessa yang masih betah di sudut.
"Aku bicara padamu sayang.." Kali ini bukan terkejut tapi Cessa mulai ketakutan.
"Kamu ingin kamu ke sini atau aku yang ke situ. Kalau aku kesitu aku bilang saja kamu pasti akan menyesal." Ancamnya.
Cessa menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada yang bisa membantunya. Walaupun dengan kaki yabg bergetar, Cessa berjalan ke arah ranjang di mana Karen kini berbaring manis.
Cessa berhenti di samping ranjang itu. Karen yang merasa Cessa sampai di dekatnya langsung bangkit dan menarik paksa Cessa untuk berbaring bersamanya.
Karna tubuh yang sudah bertenaga dan apa lagi daya. Cessa jatuh tepat di atas tubuh Karen, membuat Karen sangat bahagia kini.
"Nah beginikan lebih baik." Karen memperbaiki rambut Cessa yang menghalangi waja Cessa dan menyelipkannya di daun telinga Cessa.
Sangat terlihatlah wajah ketakutan Cessa di depan Karen. Karen kini mulai mengelus pipi Cessa dengan sangat halus. Meneliti ekspresi apa yang akan Cessa keluarkan. Masih sama, ekspresi takut yang terlihat.
Kini datanglah pikiran kotor Karen, Karen memasukan tangannya kedalam belahan dada baju Cessa yang jelas jelas mengarah ke sesuatu di sana.
"Jangan tuan..." Tangan Cessa memegangi tangan Karen yang hendak masuk.
"Sayang aku tidak mau ada perlawanan ya.. Aku ini lebih ganas dari pada Zino. Jadi kamu harus hati hati ya dalam tindakanmu.." Ucap Karen dengan seringai yang amat menakutkan di mata Cessa.
Cessa
__ADS_1