
Cessa termanggu mendengar cerita asal muasal Zino menjadi seorang mafia, tak di sangka semua itu hanya untuk membalaskan kematian para saudara saudarinya. Cessa kira Zino melakukan itu hanya untuk mencari uang secara tak halal. Rupanya hanya untuk ambisi dari dendam pribadi.
"Entah kamu percaya atau tidak tapi itulah yang terjadi padaku. Kau boleh menilaiku bagaimanapun kau mau, aku tidak akan mempermasalahkannya, aku pun dulu juga menilai orang tuaku seperti itu. Tapi saat aku juga mengalaminya, aku paham apa yang ayah dan ibuku rasakan saat menghadapi hal semacam ini, memberitahukan orang yang polos itu akan sangat susah, malah akan menambahkan masalah dan kesalahpahaman." Zino kembali menatap kebun bunga tulipnya.
"A.. Apa orang tuamu juga seorang mafia?" Cessa membulatkan mata mendengar Zino membawa bawa nama orang tuanya.
"Eemmm iya.. Eemm sebenarnya hanya ibuku. Tapi karna ibu menikah dengan ayah maka ayah juga kena imbasnya bahkan kami para anaknya juga, tapi ibuku tidak bersalah sepenuhnya karna ia hanya berusaha melindungi kami, saat ibu masih remaja, ia juga masuk dalam organisasi gelap, tapi saat ia sudah bertemu dengan ayah, ibu berusaha berubah dan keluar dari organisasi itu. Ibu berhasil keluar, tapi para ketua organisasi itu tetap tidak terima karna ibuku dulu adalah andalan mereka untuk menjalankan misi, karna paras ibuku yang nampak lugu memudahkan dirinya untuk menyamar menjadi apa saja yang ia mau. Oleh sebab itu bosnya tidak ingin melepaskannya. Akhirnya bosnya itu memikirkan sebuah ide, bagaimana bila ia membiarkan ibuku melahirkan anak anak yang akan bos jahat itu pergunakan nantinya. Karna ibu memiliki gen kembar dari ayahnya, maka ibuku melahirkan kami semua dengan kembaran masing masing dan itu adalah kemenangan menurut bos jahat itu. Saat Lala dan Lili sudah remaja, bos itu dengan gampang menculik mereka, dan setelah itu Javir dan Vier yang di culik juga walaupun ibu sudah melakukan perlindungan yang sangat ketat untuk kami. Karna hanya tersisa aku dan Zina, maka ibuku menyuruh ayahku untuk membawa kami pergi, dulu aku dan Zina sudah berumur 7 tahun, jadi aku masih mengingat kejadian itu, ibu memberikanku sapu tangan tulip itu padaku dan juga Zina, "Jagalah sapu tangan ini, ini adalah lambang kalian bersaudara kakak kakakmu juga ibu berikan ini, bila nanti kalian bebas dan selamat, ingatlah kalian yang memiliki sapu tangan tulip adalah saudara." itulah ucapan terakhir dari ibuku yang aku dengar. Saat masa pelarian, aku hidup dengan ayah dan juga Zina, tapi sayangnya kami ketahuan, dan Zina tertangkap, dan saat itu hanya tersisa aku dan ayah saja. Aku hanya bisa terus mengengam sapu tangan dari ibuku, berharap, para saudara saudariku baik baik saja. Apa kamu tidak lelah mendengar ceritaku?" tanya Zino tiba tiba kepada Cessa yang masih terus mendengarkan cerita Zino.
Tak terasa sudah 4 jam mereka berdua duduk di depan kebun bunga itu, matahari sudah bersinar dengan teriknya membuat Zino tersadar ia tak sendiri di situ. Ada seorang yang sedari tadi juga bersama Zino dan mendengarkan ceritanya bak pendengar setia.
"Aahh iya ya.. Ini sudah siang. Aku tidak sadar.. Hehehe.. " Ucap Cessa dengan malunya, bagaimana bisa ia betah dan tak merasa kepanasan karna sangkin tegang mendengar cerita Zino.
Zino tersenyum melihat Cessa malu dengan dirinya sendiri. "Bagaimana kalau kita dua masuk dulu kedalam dan kitakan juga belum makan siang, bagaimana apa kamu mau?"
"Eemm baiklah ayo.. Aku juga tidak tahu dimana dapurnya, sambil keliling keliling lagi. Emmm tapi bisakah kamu nanti melanjutkan ceritamu tadi?" tanya Cessa pada Zino. Jujur Cessa masih sangat penasaran dengan kelanjutan cerita Zino.
"Tentu saja akan aku lanjutkan kalau kamu tidak bosan dengan ceritaku. Baiklah ayo..." Zino dan Cessa bangkit dari kursi tempat duduk tadi da meninggalkan kebun bunga tulip Zino.
Kini mereka berdua sudah sampai di sebuah ruangan yang cukup besar, disana ada meja dan juga kompor kompor tak lupa rak dan lemari kaca tersusun rapi, banyak alat masak yang mewah mewah disana, ya tentu saja, karna tadi rute yang Cessa dan Zino tuju adalah dapur.
__ADS_1
"Ini dia dapur kita... Selamat datang di dapur." Zino merentangkan tangannya lagi memperlihatkan semua isi dapurnya.
"kau memiliki dapur yang indah. Tapi kenapa kamu mengecat dapur ini dengan warna pink?" Tanya Cessa saat melihat waran yang ada di dinding dapur Zino.
"Hehehe.. Sebenarnya aku menyukai warna pink." Zino menjawab partanyaan Cessa sambil menggaruk garuk pelipisnya dan menggigit bibir bawahnya menahan malu.
"Hahahahahaha... Yang benar saja kau hahahaha... Mana ada laki laki suka warna Pink." Cessa tertawa lepas mendengar jawaban Zino yang sangat aneh menurutnya. Bagaimana bisa ada laki laki menyukai warna pink. Apakah Zino normal?
"Iya benar aku menyukai warna pink, tapi pink kalem gini saja, warna ini sangat lembut kelihatanya, makanya mau suka, aku ingin saat aku di dapur, aku merasakan kelembutan dan itu akan membuatku memasak makanan yang penuh cinta dan kasih sayang."Zino menjelaskan lagi.
"Jadi kau benar benar suka warna pink?" Tanya Cessa masih tak percaya.
"Iya aku suka warna pink. Bahkan logo organisasiku berwarna pink." Cessa di buat menganga lagi mendengar penjelasan Zino.
" Tidak, mereka biasa biasa saja dengan warna itu, karna dulu memang tak jarang aku menggunakan jas berwarna pink saat menemui mereka. " Kata Zino lagi.
"Aku benar benar tak mengerti jalan pikiran kalian para mafia, di situ juga kasar, disitu juga lembut bak Hello Kitty. "
Kta Cessa lagi tak habis pikir.
__ADS_1
"Aahh Hello Kitty, ya aku juga menyukainya, tapi saudaranya yang bernama Mimi itu menjadi jahat dan berubah berwarna hitam." Kata Zino lagi.
"Kau juga menonton Hello Kitty?" Tanya Cessa dengan penuh kebingungan melihat Zino hafal saja nama yang ada dalam cerita Hello Kitty. Zino bak anak kecil yang sangat bersangat saat menceritakan tentang hello kitty.
"Iya, aku menontonnya, aku menontonnya dari awal sampai habis." Zino dengan wajah polos itu terus membahas film kartun itu.
"Hahahahahahahaha.... " Cessa tertawa dengan sangat kencang mendengar Zino terus membahas kartun anak perempuan itu. Cessa terus tertawa dengan lepasnya.
Zino paham hal yang menurutnya adalah aibnya malah membuat Cessa tertawa dengan senangnya. Zino tidak akan malu bila itu akan membuat Cessa sebahagia ini, tidak apa bila ia harus jujur dengan segala aib anehnya yang lainnya.
"Kenapa tidak sekalian saja kamu menempelkan stiker hello kitty di sini?" kata Cessa lagi di sela tawanya.
"Eemmm sebenarnya aku ingin tapi akan terlalu mencolok kamu tahu. Malulah aku." Kata Zino lagi yang sukses membuat Cessa terpingkal pingkal tertawa.
"Bagaimana kalau kamu yang tempelkan, jadi bila ada yang bertanya kenapa ada stiker hello kitty aku akan bilang itu adalah hasil kerjamu. Bagaimana kau setuju?" tanya Zino yang membuat Cessa membulatkan matanya tak percaya.
"Kau menjual namaku begitu untuk menutupi namamu?" Tanya balik Cessa.
"Hehe maaf tapi aku menginginkannya. Apa bisa?" Kata Zino lagi membuat Cessa tertawa lagi.
__ADS_1
"Baiklah aku akan tempelkannya nanti, kau cari saja stiker seperti apa yang kau inginkan." kata Cessa dan dijawab dengan senyum Zino dan anggukannya.
off dulu ya...