
Dengan Cepat Cessa membuka selimutnya dan Karen langsung mengambil alih selimut itu dan melemparnya ka lantai. Sehingga keduanya kini tak memiliki selimut di ranjang itu.
Cessa hanya bisa mengigit bibir bawahnya. Tadi Karen menjadi seorang yang lebih normal menurut Cessa apa lagi saat mendengar tentang masa di mana Cessa sedang mengandung.
Tapi secara tiba tiba hanya karna masalah Selimut membuat Karen berubah aslinya lagi. Karen menatap Cessa yang tampak sedang ketakutan dengannya. Tak mau Cessa menanamkan terus takutnya itu, Karen menarik tubuh mungil Cessa yang kalah jauh dari tubuh Karen masuk dalam peluknya. Menjalarkan hangat ketubuh keduannya.
"Tidurlah... Jika kamu hanya mencari kehangatan aku bisa memberikannya, bukan dengan bergulung dalam selimut itu.. Aku tidak suka." Ucap Karen di puncak Kepala Cessa karna saat ini Cessa tepat berada di dada Karen. Dada yang tak di tutupi kain itu membuat nafas Cessa berlalu begitu saja di kulit Karen.
Siapa yang tak terpancing? Karen sangat terpancing. Ingin Karen langsung melakukannya tapi entah kenapa Karen tidak tega.
Keduanya akhirnya terlelap dengan posisi berpelukkan. Bahkan Cessa terlelap duluan dari ada Karen. Karen merasakan nafas teratur Cessa yang manandakan Cessa sudah masuk alam mimpinya.
Karen mengendurkan peluknya, di tatapnya wajah kecil Cessa yang begitu cantik itu.
"Jika aku memiliki anak denganmu.. Pasti akan sangat menyenangkan. Anak anak kita pasti cantik cantik sepertimu. Semoga saja ya.. Ya setidaknya satu saja. Tapi lebih juga tidak apa apakan. Kalau satu saja takutnya kurang sayang."Senyum nakal Karen keluar lagi. Ingin rasanya ia bercocok taman dengan Cessa saat ini juga tapi kembali Karen menatap wajah Cessa yng telah terlelap. Karen tidak ingin menganggunya. Karen memilih untuk memejamkan matanya juga dan ikut Cessa ke dalam alam mimpi.
Sedangkan Zino sibuk mencari informasi dari anak buahnya yng ia kirim ke Jepang. Sebenarnya Zino ragu dengan informasi yahg mengatakan kalau Karen dan Cessa menuju ke Jepang. Untuk apa Karen ke negara itu yang bukan negara aslinya. Negara Karen yang asli Spanyol. Untuk apa Karen malah ke Jepang. Aneh memang. Tapi siapa tahu itu memang Karen. Spekulasi Zino.
Zino sampai sampai memilih untuk tidak tidur untuk menunggu kabar dari anak buahnya.
Detik menit jam berlalu. Masih belum ada kabar juga. Zino terlelap sekejap karna kantuk yang tak tertahankan lagi.
***
Di negeri Sakura, anak buah Zino mendapati sepasang pasutri sedang menikmati liburanya. Awalnya anak buah Zino ragu tapi setelah bertemu langsung anak buah Zino yakin ini adalah anak buah Karen Stone. Cukup melihat dari matanya mata yang di miliki oleh pria itu mereka sudah yakin.
Anak buah Karen itu pun menyerahkan barang titipan Tuannya. Sebelum keberangkatanya ke Jepang, tapi Karen menititpkan sesuatu untuk Zino, karna Karen yakin anak buah Zino pasti akan mengikutinya sampai ke Jepang.
Anak buah Zino pun pulang dengan membawa barang titipan dari Karen itu. Barang yang tak lain dan tak bukan adalah CDR. Mungkin Karen mengirimkan Video baru untuk Zino.
__ADS_1
Zino yang mendapatkan kabar dari anak buahnya itu langsung melek. Matanya tidak ingin tertidur lagi. Ia akan menuggu kedatangan anak buahnya dengan Jet pribadi Zino. Mungkin terhitung 3 jam lebih barulah anak buah Zino tiba. Zino dengan cepat cepat bertanya pada anak buahnya. Sebelum berpulang kembali anak buah Zino sudah memberikan kabar. Yang berada di Jepang bukanlah Karen dan Cessa, melainkan Anak buah Karen yang sedang berbulan madu. Tapi dari anak Buah Karen ini mereka mendapat kiriman CDR lagi. Katanya khusus untuk Zino.
"Mana barangnya..." Zino sudah menunggu di depan pintu itu menagih dengan cepat.
Anak buah Zino menyerahakan CDR itu pada Zino, dan dengan kecepatannya lagi Zino naik ke ruang kerjanya dan ingin tahu Video apa itu.
Zino memasukkan CDR itu ke dalam laptopnya dan memutar Video kiriman itu.
"Hai Zi..." Tampak Wajah sumringah Karen di depan Zino meski hanya dari Laptop.
"Kamu mencari ini?" Karen mengalihkan Kameranya dan mengarakannya pada Cessa.
Terlihat Cessa sedang berbalutkan selimut tebal putih. Karen membelai wajah cantik Cessa yang masih tak sadarkan diri. Video ini Karen ambil saat Cessa belum sadarkan diri setelah di bius anak buahnya.
"Kamu rindu dia...? Hahaha... Lihatlah Zino... Dia begitu lelah nampaknya.. kenapa ya?" Karen membaringkan tubuhnya di samping Cessa.
"Buka yah..." Karen dengan pelan menyibak selimut itu dan terpampanglah kaki Cessa yang imut itu.
Karen terus mekakukan aksinya membuak selimut Cessa. Zino mencoba mengingat ingat. Baju yang di kenakan Cessa selutut panjangnya. Tapi sedari tadi Zino belum melihatnya.
Sekarang selimut itu sudah sepaha Cesaa tapi Zino belum juga melihat dress Cessa. ''Ah mungkin terlipat karna sekarang Cessa sedang berbaring'' pikir Zino.
Selimut itu semakin naik, naik dan naik. Kaki, betis, paha Cessa sudah terlihat semua. Tinggal bagian yang sensitif saja lagi. "Apa kita lanjut..." suara Karen terdengar meski tak terlihat dirinya di depan kamera.
Dan Karen membuka selimut itu. Dan ya... Cessa tak megenakan celana maupun dalamanya juga tidak ada. Menunjukan semuanya. SEMUANYA.
Karen merapikan lagi selimut itu. Kembali menutupi tubuh bagian bawah Cessa.
"Aah mungkin dia masih mengunakan baju.." Karen naik lagi ke atas ranjangnya dan masuk ke dalam selimut bersama Cessa. "Kita buka lagi ya..." Karen menarik selimut yang menutupi bahu hingga kaki Cessa tadi. Membuka dan memperlihatkan apa yang ia punya saat ini Rencana dari Karen.
__ADS_1
Selimut itu terbuka dan memperlihatkan bahu Cessa yang tak ditutupi selehai kain pun. Selimut itu terus ke bawah dan ke bawah. Melewati dada Cessa dan berhenti di perut Cessa. Dan sama juga seperti kondisi paha Cessa tadi. Tidak mengenakan apa apa.
Karen mengeleng gelengkan kelapannya sembil tersenyum bangga. "Ooohhh aku baru ingat..." Karen memasang wajah layaknya sedang berpikir. "Aku yaang membuatnya kelelahan tadi. Erangan, teriakan, dan desahannya tadi pasti menguras tenaganya. Ooohh kasihannya kamj sayang..." Cup... Karen mengecup bibir Cessa dan meninggalkan jajak basah di sana. Karna awalnya bibir Cessa nampak kering tapi setelah Karen mengecupnya bibir Cessa sedikit basah dan berwarna.
Zino mengepalkan tangannya dan menahan nafasnya melihat Karen mengecup Cessa dengan begitu lamanya dan bahkan menyisakan bekas seperti itu.
"Zino... Baru kali ini aku suka dengan barang bekasmu... Selain ini tidak ada yang lebih aku sukai..." Karen tersenyum nakal hingga lesung pipitnya terlihat.
Karen memasukan tangannya ke dalam selimut Cessa meraih b*k*ng Cessa dan mandekatkannya ke tubuhnya lalu mendorong dorong sehingga membuat gerakan ricuh dari balik selimut putih.
"Hahahahaha.." Karen tertawa dengan puasnya. Dan setelah berhenti tertawa Karen mengecup kening Cessa dengan begitu mesra sampai memejamkan matanya. Dan video pun usai.
Laptop itu langsung di banting dan hancur seketika. "Karenn....." Zino mulai mengamuk, mau tak mau anak buah Zino menghubungi Billy meminta bantuan medisnya.
Flashback on.
Setelah Karen memideokan dirinya dan Cessa yang tak mengenakan sehelai benang pun itu Karen manatap Cessa. Cessa masih tak sadarkan diri sejak di bius. Karen menoleh ke arah jam, jam yang masih menunjukan 1 jam lagi maka Cessa akan sadar.
Karen mengambil kesempatan emas ini untuk sedikit bermain dengan apa yang ada di depannya. Karen menyibak semua selimut itu dan alhasil membuat selimut bersih itu jatuh ke lantai.
Cessa pun benar benar menggoda di mata Karen. Tubuhnya, kulig putihnya, wajah cantiknya. Begitu mempesona. Karen yang memang berbohong pada Zino saat mengatakan ia yang membuat Cessa kelelahan seperti ini. Padahal Karen dan Cessa belum melakukan apa apa. Tapi siapa tahu setelah ini mungkin.
Karen mulai menikmati setiap inci tubuh Cessa dengan bibir seksinya. Menapaki setiap inci kulit Cessa. Sensasi nikmat menyeruaki Karen. Bagian bagin inti pun ikut ia lewati. Ya tak salah memang Karen mengatakan suka akan bekas dari Zino. memang itulah faktanya sekarang.
Ingin Karen melanjutkannya semakin dalam permainannya tapi rasanya kurang jika sang wanita tak memberontak atau membalas apa yang Karen lakukan saat ini. Karen pun menghentikan aktivitasnya, ia memilih untuk menunggu Cessa sadar saja. Ia ingin mendengar langsung seperti yang ia katakan tadi, erangan, teriakan, dan ******* dari mulut Cessa langsung. Oleh karna itu Karen menghentikan permainannya.
Dan saat Cesaa sudah sadar Karen langsung melakukannya meski ada gangguan dan Karen baru menikmati setengah perjalanannya. Tapi Karen sudah mendengar apa yang ingin ia dengar dari mulut Cessa saja sudah cukup.
Flashback off
__ADS_1