Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 79


__ADS_3

Jake menggeleng gelengkan kepalanya. Zino masih membulatkan matanya.


"Jake kamu bicaralah dengan Lilen.." Ucap Zino lagi.


"Kenapa aku...?"


"Tuan Zino...?" Ucap Seseorang dari belakang Zino dan Jake.


"Lorent... Ada apa...?" Tanya Zino biasa saja melihat Lorent sedangkan Jake membuang pandangannya dari Lorent.


Lorent datang dengan tanpa mengenakan baju dan hanya dengan balutan perban di tubuhnya yang luka luka tadi. Rupanya Karen memerintahkan Lorent untuk meminta Zino dan Jake masuk lagi karna alasan ini sudah malam.


"Tuan... Tuan Karen meminta anda berdua untuk masuk lagi ke dalam karna ini masih malam dan tuan tuan semua masih memiliki waktu untuk beristirahat." Ucap Lorent dengan sangat sopan.


"Ooohhh.. Tapi siapa yang mau satu kamar dengan Karen..." Ucap Zino lagi dan memalingkan wajahnya.


"Tidak tuan.. Tuan Karen sudah pindah dari kamar yang di berikan nyonya Cessa pada kalian berdua.


"Lalu....? Karen tidur di mana?" Tanya Zino mengira Karen akan tidur bersama dengan Cessa.


"Tuan Karen tidur di kamar lain. Dan tuan Jake.. Anda juga silahkan masuk ada kamar juga untuk anda.." Ucap Lorent masih tetap dengan keramahannya.


"Ooohh gitu ya.. Lalu Lilen tidur di mana? Sekedar bertanya saja!?" ungkap Zino


Lorent tersenyum, "Nona Lilen juga sudah di kamarnya..." Ucap Lorent lagi dan tentu saja Zino tenang mendengarnya.


Zino masuk ke kamarnya dan Lorent mengantar Jake ke kamarnya. Diantara mereka berdua sama sekali tidak ada pembicaraan sama sekali. Keduanya terdiam hanya langkah kaki yang terdengar.


"Ini kamar anda..." Keduanya sampai di depan sebuah kamar. Lorent masih tersenyum pada Jake seolah tak ada dosa.


Lorent hendak pergi dari hadapan Jake dan segera menemani Rindu di kamar. Tapi suara Jake menghentikan gerak langkah Lorent.


"Kau senang sekarang...?"


"Maksudmu apa...? Senang apanya?" Tanya Lorent pura pura tidak tahu.


"Rindu... Sudah senang...?" Jake menyeringai kepada Lorent.


Lorent juga tersenyum pada Jake. " Iya alu senang, anakku dan ibu dari anakku aman bersamaku..." Ucap Lorent tak henti tersenyum dengan manis.

__ADS_1


"Cih... Aku susah susah mengobati dia kamu yang terima enaknya..." Ucap Jake menyinggung Lorent.


"Aku tidak merasa seperti itu... Kamu bukannya mengobati tapi juga ikut menyakitinya. Bagaiamana kamu bisa punya niat membunuh nyawa tak bersalah dengan begitu saja. Bukankah itu juga menyakitkan. Kamu tahu... Rindu sangat menyanyangi kandungannya, walaupun ia baru tahu beberapa hari yang lalu saja. Dan dia sangat gemas sendiri dengan kandungannya yang rupanya kembar itu. Dia sangat bersyukur anak anaknya sehat." Ungkap Lorent panjang lebar.


"Cih..."Jake masuk ke dalam kamarnya setelah mendengar penjelasan Lorent yang panjang itu.


Lorent juga begitu, setelah melihat Jake masuk dalam kamarnya pun maka Lorent pun berlalu dari depan kamar itu.


***


Di meja makan, kini sudah ada Cessa seorang diri dengan sarapannya. Ingin diirnya mencari keberadaan Rindu, tapi mengingat Rindu bersama Dengan Lorent pun Cessa mengurungkan niatnya dan memilih sarapan sendiri.


Tak lama kemudian Lilen juga keluar dari kamarnya dan berjalan membawa gelas kosong di tangannya.


Dari kejauhan Lilen sudah melihat Cessa sudah duduk di meja makan, setelah di teliti Cessa hanya seorang diri saj di meja.


"Kamu sendiri saja...?" Tanya Lilen ketika sampai di meja makan.


Cessa tersenyum pada Lilen "Iya hanya sendiri yang lain mungkin masih tidur.." Cessa menyendokkan satu suapan bubur itu ke dalam mulutnya.


"Aku kira kamu tidur dengan kak Karen atau Zino.." Ucap Lilen seolah meledek Cessa.


"Hah?" Lilen tak percaya dengan yang di katakan Cessa.


"Bagaimanapun juga, Karen dan Zino adalah kakak adik, berbeda ayah dan ibu tapi satu darah dari satu orang... Mereka hanya tidak sadar rasa peduli satu sama lain dan rasa ingin saling melindungi..." Ucap Cessa menghentikan geraknya dan hanya menatap makanannya.


Lilen yang tidak mengetahui apa apa hanya melongo mendengarkan apa yang Cessa katakan.


"Apa yang kamu katakan...?" Lilen tak tahu apa maksud Cessa.


"Ooohh kamu semalam tidak mendengar ya pengakuan Karen...?" Tanya Cessa memiringkan kepalanya.


"Tidak..." Lilen mengelengkan kepalanya polos.


"Duduk dulu kita cerita cerita dulu..." Ucap Cessa juga dengan semangat. Lilen menuruti kata Cessa dan mendudukan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Cessa.


Perlahan Cessa menceritakan semuanya pada Lilen. Dan Lilen mendengarkannya dengab seksama. Cessa bahkan sampai nercerita tentang pendonoran yang Karen lakukan pada Lilen saat Lilen masih kecil dulu. Hal itu juga Lilen ingat dan kini Lilen mendapatkan alasan kebaikan kakaknya itu.


"Itu semua bohong kan...!?" Lilen tak percaya dengan apa yang Cessa ceritakan, bagaimana pun juga Cessa adalah orang luar yang tak mungkin tahu sebanyak itu tentang kakaknya Karen.

__ADS_1


"Semua itu benar Lilen... Itu yang terjadi sebenarnya. Oleh karna itu misi ini aku namakan misi menganggu adik..." Ucap Karen tiba tiba dari belakang Lilen dan merangkulnya.


"Semua itu benar, dan kenapa Cessa mengetahuinya karna, Dia ratuku.." Ucap Karen dan di akhirnya ia membisikan dua kata terakhir dengan sedikit berbisik.


"Misi mengganggu adik?" Ucap Seseorang lagi kali ini dari belakang Cessa.


Zino datang bersama Jake di belakangnya. Zino sudah rapi dengan pakaiannya dan siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona. Begitu pula dengan Jake juga sudah rapi dengan jas yang ia kenakan.


"Misi macam apa itu...? Kalau kamu tahu aku adikmu kenapa masih di ganggu..?" Protes Zino saat sampai di meja makan itu.


"Hei.. Yang di katakan Zina padaku, kakak adik itu tidak ada yang akur, selalu saling menggangu satu sama lain. Seperti kucing dan anjing. Kalau ketemu tidak akan akur. Makanya aku ganggu kamu sebagai kakak dan kakak ipar..." Karen mencolek dagu Lilen menggoda keduanya.


"Cih kamu..." Zino kembali emosi jika mendengar Karen membahas masalah itu.


"Sudah... Ayo makan..." Ucal Cessa menengahinya lagi.


"Cessa... Lihat dia.. Dia sudah tahu aku ini jadi adiknya tapi tetap mengganggu kita berdua." Zino menja manja pada Cessa dan menempelkan dagunya di pundak Cessa.


"Eh eh... Jangan sentuh sentuh Cessaku..." Kali ini Karen yang ternganggu dengan Zino yang mendekati Cessa.


"Looohh aku hanya mengadu sama Cessa tentang kamu.." Ucap Zino membela dirinya sendiri. Zino pun terus meledek Karen, kali ini Zino memelerkan lidahnya pada Karen dan menjulingkan matanya.


"Iiissssshhh.." Karen melepaskan rangkulannya pada Lilen dan mengejar Zino. Tentu saja Zino menghindar dengan mengelilingi meja makan.


Masih terus kejar kejaran seperti anak kecil, Cessa lelah melihatnya pun menghentikan keduanya.


"Karen.. Zino duduk... Pelayan..." Cessa seperti seorang ibu yang mengurus dua anak laki laki nakalnya yang susah makan dan hanya tahu main saja.


Pelayan pun datang dan membawakan sarapan mereka. "Sebelum kalian lanjutkan mainnya makan dulu..." Titih Cessa.


"Siapa yang main...?" Ucap Karen duduk di samping Cessa dan begitu pula dengan Zino duduk di samping Cessa juga. Jadilah Cessa di tengah tengah kaduanya.


Lilen masih di tempatnya dan Jake masih berdiri di tempatnya. "Lilen, Jake kalian sarapan juga ya... Bantu aku urus dua anak bayi ini.."


"Bayi...?" Karen dan Zino serentak bersamaan.


Cessa...


off dulu ya... masih selow ya menuju nonselow... Like like..

__ADS_1


__ADS_2