Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 53


__ADS_3

Sementara Karen dan Cessa sedang menikmati apelnya bersama berbeda dengan Zino yang menanti pagi di negri orang ini.


Zino dari semalam tidak tidur dan hanya mengganggu Jake di kamarnya dan mengusulkn rencana demi rencana yang tak di setujui Jake karna berbahaya, aneh dan tak masuk akal, sepertinya Zino benar benar tak sabar untuk pulang dan mencari Cessa dengan kemampuannya tanpa memikirkan kalau rencana mereka ini berhasil maka peluang meneukan Cessa semakin besar dan akan mempermudah Zino dan yang lainnya.


Lilen kini di kamarnya sedang bersiap siap untik chek out dari hotel tersebut. Lilen keluar dari kamarnya dan sudah berjalab lagi di koridor hotel. Sepi bagi tak berpenghuni. Tiba tiba ada beberapa orang datang seperti hendak menculik Lilen. Lilen yang sudah siap siaga melihat orang orang di depannya ini yang sangat terlihat mencurigakan di mata Lilen.


Tapi orang orang itu hanya lewat saja tanpa mengganggu Lilen. Tak lama Lilen bertemy lagi dengn orang orang asing yang sepertinya juga menginap di hotel ini. Mereka tampak biasa saja dan ramah juga dalam tersenyum, Lilen tak menaruh rasa curiga sama sekali. Orang orangi itu juga berlalu tapi saat Lilen lengah mereka berbalik arah dan memukul Lilen tepat di punggungnya dan Lilen tak sadarkan diri.


Lilen membuka matanya dengan perlahan dilihatnya gudang tua, awalnya Lilen sedikit terkejut tapi Lilen kembali tenang karna ini pasti hanya musuh kakaknya Karen lagi.


Seseprang pria masuk ke dalam ruangan di mana Lilen di sekapnya. Laki laki itu sangat sombong dan berlagak sok hebat.


"Hei cantik.. Mau denganku?" Ledek laki laki pada Lilen yang terikat dengan kuat.


Lilen tanpak biasa biasa saja tapi di dalam hatinya Lilen sangat ketakutan, takut bila laki laki di depannya ini melakukan itu padanya.


"Tuan aku mohon bebaskan aku, tidak ada gunanya kamu menyekap aku, kalau kamu punya masalah dengan kakakku maka selesaikan dengan kakakku, bukannya malah membuang waktu dengan anak yang tak dianggap seperti aku ini." Lilen berusah membujuk.


"Hah.. Tak di anggap?" Ucap Laki laki itu tak percaya.


"Iya aku ini hanya adik Karen yang tak di anggap. Percuma donk kamu sekap aku kayak gini." Jelas Lilen lagi dengan wajah yang meyakinkan


"Pintar juga perempuan ini." Gumam Zino yang sedari tadi melihat dari kamera pemgawas di ruangannya.


"Zi saatnya beraksi." Jake datang dan mengajaknya segera keluar dari persembunyiannya.


Zino pun mengambil belati dan mengiris tangannya sendiri. Darah segar bertetesan dari luka itu yang sengaja di buat buat tapi nyata.


Begitu pula dengan Jake, Jake mengiris tangan kanan dan kirinya lalu menaruh lagi di meja itu dan berlalu keluar dari tempat persembunyiannya.


Sementara itu Lilen kini semakin takut walaupun dengan wajah yang biasa biasa saja karna laki laki di depannya semakin kurang ajar padanya dan menganggunya.


"Hei bodoh.. Tandinganmu aku bukan gadi kecil itu. Cari lawan itu yang sepadan." Ucap Seorang lelaki yang memasuki ruang penyekapan itu dengan mudahnya.

__ADS_1


Laki laki yang mengganggu Lilen pun menoleh melihat arah suara lelaki itu.


"Kamu siapa pihakku atau pihak Karen?" Tanya Laki laki itu.


"Aku? Aku bukan pihak siapa siapa.. Tapi aku juga bermusuhan denganmu." Zino langsung saja menghajar laki laki yang mengganggu Lilen dengan arogannya.


Setelah selesai dengan laki laki itu Zino mengeluarkan belati yang ia gunakan untuk menggores tangannya sendiri tadi.


"Tu.. Tuan..." Lilen terkejut melihat Zino yang berjalan ke hadapannya dengan membawa senjata tajam.


"Diam kalau mau lepas..." Zino memotong tali ikatan Lilen dan Lilen segera berdiri.


"Pegilah.." Ucap Zino yang malah sibuk pada luka yang sengaja ia buat di ruangan tadi.


"Kau terluka.. Kita keluar bersama sama ya.. Aku akan mengobati lukamu sebagai tanda terima kasihku.." Ucap Lilen yang merasa berhutang budi pada Laki laki di depannya.


"Kau akan cerewet.. Baiklah ayo.." Baru saja Zino dan Lilen keluar tapi dari luar langsung datang anak buah laki laki yang tadi sudah di kalahkan Zino.


Dor dor dor dor dor..


Jake datang dengan senjata utamannya, Jake langsung tersenyum melihat tuanya dan wanita di sampingnya selamat.


"Ayo tuan.. Nanti malah lebih banyak lagi anak buahnya akan datang." Ucap Jake sambil terus melihat arah luar takut ada bahaya lagi.


"Cepat.." Bukannya berlari keluar Zino malah menggendong Lilen ala bridal style.


"Tu.. Tuan aku baik baik saja kenapa malah di gendong?" Tanya Lilen masih dalam gendongan Zino.


"Sudah diam kamu itu lambat kalau lari jadi aku gendong aja biar cepat." Ucap Zino seraya mengendong Lilen.


"Apa aku sepayah itu..." Ucap Lilen dalam hatinya.


Zino, Jake dan Lilen sudah di dalam mobil Zino dalam perjalan pulang. Zino tampak biasa saja tapi Lilen di sampingnya merasa risih melihat darah Zino yang tak berhenti menetes.

__ADS_1


"Tu.. Tuan.. Darahnya.." Lilen ragu membicarakannya.


"Kenapa?" Zino menoleh pada Lilen.


Sedangkan Jake hanya geleng geleng kepalanya.


"Nanti saja kita pulang dulu cari tempat yang lebih aman. Kita sekarang belum aman." Ucap Zino lagi seraya tersenyum pada Lilen.


Senyum manis dari Zino membuat Lilen salah tingkah, senyum dari seorang laki laki yang tampan di sampingnya itu.


Kini mereka sudah sampai di hotel yang lain dari hotel tempat Lilen di culik tadi.


"Permisi saya dan teman saya ingin memesan kamar." Ucap Zino layakmya orang biasa.


"Maaf tuan, kamar yang tersisa hanya ada satu kamar lagi. Apa kalian bertiga mau bergabung?" Tanya Resepsionis hotel itu.


"Aahh benarkah? Eemm bagaimana ya...?" Zino menoleh pada Lilen dan Jake di belakangnya.


"Tuan kita nginap aja dulu di sini, dari data yang aku dapat orang rang itu tidak akan kemari kerna ini hotel yang cukup jauh dari jangkauan mereka lagi pula ini sudah sangat larut malam kita tidak bisa mencari tempat yang lebih jauh lagi tuan, apalagi dengan luka ini." Ucap Jake yang membuat Lilen prihatin mendengarnya.


"Benar tuan, saya tak masalah bila sekamar bertiga, lagi pula saya harus obati luka tuan dan tuan juga.." Ucap Lilen menoleh pada Zino lalu juga menoleh pada Jake yang sama sama terluka.


"Baiklah kalau kalian setuju. Permisi kami jadi menginap di sini." Zino Lilen dan Jake pun menginap di satu kamar yang sama.


Kini mereka bertiga di kamarnya Zino dam Jake canggung ingin melakukan apa. Sementara Lilen tadi keluar sebentar ada yang mau ia minta pada resepsionis hotel.


"Jake.. Aku rasa sedikit aneh." Ucap Zino pada Jake di sampingnya.


"Ya aku juga. Mungkin karna kita berdua tidak pandai beracting dengan benar." Ucap Jake memundukan kepalanya.


Ya ini semua adalah rencananya. Dan semua yang ada dalam rencana ini tadi adalah anak buah Zino sendiri, untuk masalah tembak menembak tadi juga hanyalah acting. Mereka tidak terbunuh hanya saja mereka menggunakan teknik perfilman, agar terlihat nyata Jake dan Zino mengores tangannya sendiri tadi di ruangan. Tapi saat berada du kamar hotel ini mereka berdua jadi salah tingkah karna mereka berdua tidak menyangka Lilen akan sepercaya itu pada mereka. Apalagi Zino dan Jake bukanlah orang yang pandai berpura pura apalagi acting. Sehingga mereka berdua merasa ini bukan diri mereka berdua, apalagi pura pura sakit segala seperti saat ini.


Koment donk... Mana ni para pembacanya..

__ADS_1


__ADS_2