
"Dokter!!! Dokter tolong dok tolong teman saya!!! " Teriak Rindu di depan rumah sakti.
Cessa ya awalnya hanya di serempet dan terpanting ke belakang itu baik baik saja meskipun ia tetap meringis. Tapi saat dalam perjalanan menuju rumah sakit Cessa mengalami pendarahan. Sangat tampak jelas di wajah Cessa bahwa ia memahan rasa sakit yang sangat teramat hanya saja ia berusaha tetap tenang dan tidak panik.
Cessa tetap berpikir positif bahwa anak yang di kandungnya itu sangat kuat. Ia tak ingin kehilangan anak yang di kandungnya ini yang kini baru memasuki usia dua bulan.
Sesampainya di rumah sakit Rindu langsung memanggil Dokter dan para perawat rumah sakit datang membawa brankar dari IGD. Mereka pun mengangkat tubuh Cessa dan di bawa ke dalam ruang IGD. Dokter pun meriksa Cessa dan menyuruh Rindu dan juga Jessy keluar dari dalam ruanga karna dokter akan melakukan pemeriksaan.
Rindu dan Jessy menunggu di luar dalam keadaan panik bukan main apalagi Rindu. Ia takut akan terjadi sesuatu pada temannya dan juga janin yang tengah di kandung Cessa.
Tak lama kemudian Jessy celingak celinguk memperhatikan sekitarnya, ia melihat banyak orang orang berpakaian serba hitam dan juga earphone di kuping masing masing orangnya. Orang orang itu mengelilingi lorong di kiri dan kanan seperti akan ada presiden yang akan datang. Sementara Rindu masih bergelut dalam doa-nya tidak memperhatikan sekitarnya seperti Jessy.
"Rin apakah di sekitar sini ada keluarga dari pak presiden?" Ucap Jessy membuat Rindu membuka mata dan pikirannya ia pun celingak celinguk memperhatikan.
"Apakah!??" Rindu semakin binging sementara dokter yang menangani Cessa belum juga keluar dari dalam ruangan.
Rindu kemudian menatap pintu ruangan Cessa dan kembali menatap orang orang yang berbaju serba hitam itu
"Jangan jangan??? Mereka adalah...." Ucapan Rindu terpotong saat ia melihat ada seorang laki laki setengah berlari menghampiri para orang berbaju hitam dan mereka menuntun laki laki itu ke arah Rindu dan Jessy tatapan laki laki itu sangat dingin tapi penuh dengan kekwatiran.
Rindu yang tahu siapa laki laki itu karna Cessa sudah pernah menceritakan kisah pilunya dan ciri ciri laki laki itu. Dan Walaupun Cessa hanya mengatakan bahwa laki laki itu hanya berkuasadan tidak menyabarkan dengan jelas seperti apa rupanya, tapi Rindu yakin inilah laki laki yang di maksud Cessa.
Zino yang emosi meninggalkan resto pun menjalankan mobil dengan kecepatan penuh, awalnya Billy meninta agar dirinyalah yang mengemudi tapi ia melihat jawaban dari Zino yang hanya menggunakan ekspresi wajah saja Billy tahu Zino yang ingin mengemudi.
Ketika sampai di depan rumah sakit terlihat beberapa anak buah mereka berjaga di depan pintu. Saat melihat tuannya ingin masuk mereka pun membuka jalan untuk tuannya di sepanjang koridor rumah sakit terdapat anak buahnya. Dan sampailah Zino dan teman temannya di depan kamar Cessa.
"Tuan ini ruangan tempat nona itu di tangani. " Kata seorang pria berbaju hitam dan berbadan tinggi.
"Dia bukan Nona tapi dia Nyonya. Nyonya Zino Louis Smith" Ralat Zini mendengar anak buahnya menyebut Cessa dengan sebutan Nona. Sang anak buah hanya bisa menelan saliva mendengar ralatan tuannya dengan apa yang ia katakan
__ADS_1
Rindu yang melihat perawakan pria di depannya itu hanya bisa menelan salivanya. Wajahnya yang tak bersahabat dan tangannya yang mengepal itu seakan ingin meninju pintu di depannya yang menghalanginya.
Rindu memberanikan diri untuk menegur Zino yang ingin membuka pintu ruangan itu.
"Maaf tuan di dalam teman saya sedang di periksa oleh dokter tuan jangan masuk dulu." Ucap Rindu dengan takut takutnya
Zino yang mendengar teguran dari wanita di sampingnya langsung menoleh dan berjalan ke arahnya.
"Apa temanmu itu bernama Cessa Allexsandra?" Tanya Zino dengan dingin tapi penuh tekanan.
"I.. Ii.. iya tuan" Masih takut dan bertambah takut saat melihat Zino maju ke arahnya hingga memjawab dengan terbata bata.
"Apa yang terjadi tolong ceritakan ada kami!" kata Johan ikut menegahi Zino yang nampaknya akan semakin menjadi.
"Begini tadi kami pergi berbelanja di toko swalayan tapi susu yang di inginkan Cessa tidak ada di sana tuan lalu ia memutuskan untuk pergi ke toko di sebrang jalan saat akan kembali ke toko swalayan yang pertama, Cessa malah di serempet motor dan sontak ia terkejut dan terjatuh kebelakang begitu kejadiaannya tuan" Jelas Rindu pada Zino dan teman temannya.
"Memangnya swalayan seperti apa yang tidak menyediakan susu untuk ibu hamil" tanya Rico pun ikut bartanya.
"Ooyyy dokter kapan selesainya kenapa lama sekali?" Teriak Zino mulai tak sabaran dan di tambah ia mengetahui mengapa sampai sampai wanitanya di serempet motor, ya hanya demi membeli susu untuk benihnya yang tumbuh di rahim Cessa. Zino mulai gusar ia seperti seterika yang mondar mandir tapi kalau sekerikaakan kalau bajunya udah lincin langsung stop tapi kalau seterikaan ala Zino panik bajunya gak licin licin deh..
Sekitar 20 menit berlalu dokter pun keluar dari dalam ruangan Cessa dan langsung mendapat kejutan bukan main di depannya sudah banyak orang yang memakai baju serba hitam di tambah lagi ada sang atasan yaitucBilly dan di sambut wajah panik Zino.
"Dok bagaimana keadaan teman saya dok apa dia dan janinnya baik baik saja?"tanya Rindu ketika melihat dokter yang menangani Cessa keluar.
"Teman anda baik baik saja dan mungkin sebentar lagi akan segera siuman, tapi untuk kandungannya kami tidak dapat menyelamatkannya nona, sepertinya benturan nona itu agak keras dan dalam usia kandungan nona itu sangat lemah, kandungannya kan baru berumur dua bulan di umur seperti itu sangat rentan karna masih masuk dalam trisemester pertama. Sekali lagi kami minta maaf tuan dan nona nona sakalian." Terang dokter yang menangani Cessa.
Gelap
Mata Zino mulai gelap ingin rasanya ia meninjam kekuatan Ironmen untuk mengejar dan menghajar orang yang telah membuat wanitanya dan calon anakya seperti ini. Tapi apalah dayanya ia hanya manusia biasa walaupun ia memiliki banyak anak buah tapi dia lebih memilih Cessa ketimbang ia harus mencari orang yang entah ada di mana sekarang. Yang penting sekarang Zino telah menemukan cessa dan kini tinggal Zino melindungi Cessa dengan segenap jiwa raga.
__ADS_1
"Dok bolehkah saya memindahkan pasien ke ruangan VVIP" Tanya Zino di tengah pemikirannya. Kini yang ia inginkan adalah perawatan terbaik untuk Cessa.
Dokter pun mengiyankan keingin Zino dan kini Cessa sudah berada di ruangan VVIP di dalam ruangannya ada Rindu, Johan, Billy, Rico dan tentu saja Zino sedangkan Jessy sudah pulang ke resto di pinta oleh Rindu karna pasti Leo sudah menunggu kepulangan mereka sebenarnya Rindu juga ingin pulang tapi ia tak ingin saat sahabatnya bangun hanya mendapati dirinya bersama para lelaki ini. Dan di tambah Johan yang tak memperbolehkan Rindu pulang takut takut Cessa akan syok bila tahu dirinya mengalami keguguran.
"Habisi orang yang telah membuat wanitaku seperti ini cari dan temukan. jangan beri ampun!!!" Perintah dari mulut Zino pun keluar saat ia menghubungi anak buahnya. Ia tidak ingin orang yang harusnya bertanggung jawab atas perbuatannya malah hidup tenang sementara ada orang yang tersakiti karna ulahnya.
Rindu yang menemani Cessa di dekat brankar pun mendengar titah tersebut hanya diam tak bersuara.
Tapi di sisi lain, yang terbaring di brankar kini mulai sadar hanya belum berani membuka mata karna saat dia ingin membuka matanya ia malah mendengar suara yang sepertinya ia kenal
"Ooohh tidak apakah dia menemukan aku? Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Cessa hanya bisa membatin dan saat mendengar titah itu Cessa hanya bisa mengengngam tangan Rindu yang sedari tadi setia memegangi tangannya.
Rindu yang menyadari apa yang terjadi, ia tahu kalau Cessa sebenarnya sudah sadar dan mendengar ucapan zino barusan karna tangannya yang di genggam oleh Cessa mengeratkan genggamannya.
Rindu menaruh jari telunjuknya di bibirnya untuk menyuruh keempat pria itu diam. Dan kini tangannya mengibas ibas meminta mereka keluar dan kembali menunjuk nunjuk ke arah tangannya yang di genggam Cessa dan kemudian menunjuk ke arah Cessa dan Rindu membuka matanya lebar lebar untuk memberi kode bahwa Cessa sudah sadar hanya saja masih pura pura tak sadar.
Keempatnya pun keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Rindu dan Cessa di dalam ruangan itu sendiri.
"Cessa aku tau kamu sudah sadar buka matamu!" Pinta Rindu pada Cessa yang masih terpejam. Perlahan pun Cessa membuka matanya dan menoleh ke kanan dan ke kiri ia tak mendapati laki laki yang ia dengar tadi suaranya.
"Rindu apa yang... Ahhh" Ucap Cessa terpotong saat ia akan bangkit dari baringnya hendak duduk tapi ia merasa ada rasa nyeri di bagian perutnya. Tiba tiba ia teringat akan kandungannya. Apakah kandungannya baik baik saja sekarang? Mengapa ada rasa nyeri di sana? Otak Cessa berpikir yang tidak tidak tapi sebenarnya iya.
Wahhhh otor gak nyadar udah panjang yang otor ketik nanti lagi otor lanjut oke.
maksih atas komentar dari salah satu readers tantang giginya otor. ya otor juga gk tau ni mau di apain ni gigi di cabut maka msih di masa yang begini lagi gk boleh keluar apa lagi kerumah sakit otor takut guys hehehehe... tapi ya moga aja kedepannya gk kambuh lagi ni gigi.
kalo otor dah sakit gigi ni ya lebih baik sakit hati dah dari pada sakit gigi kalo otor sakit gigi wahhh.. giginya otor marahin kanpa bisa sakit? pengen ku cabut aj ni gigi! sampe sampe satu kebun binatang pun akan keluar tu sangkin sakitnya gigi. tapi kalo otor sakit hati malah lebih santai kalo kata Bondan Prakorso Yasudahlah yeyeyeye.. hahaha koc otor jadi curhat ya hehehe... ya udh smpe ktmu lagi readers tersayang semuanya...
jangan lupa komen like favoritkan dan vote ya readers bye bye...
__ADS_1
salam dari Zino dan Cessa..