
Lorent menatap Zino tajam. "Oke.. Kali ini aja aku ikut ikutan rencana bodoh kamu, gak kayak Jake itu yang apa aja mau kamu ikut terus.."
"Makasih Lorent.. Kamu memang yang terbaik.." Zino mencubiti pipi Lorent gemas.
"Eeiittss apa sih sentuh sentuh.. Cuma Rindu aku aja ni yang boleh sentuh pipi aku.." Cicit Lotent.
"Aaaww.. Tuh bilangnya gak kenal cinta.. Barusan itu bukan cinta kah..?" Ledek Zino lagi.
"Cinta.. Cinta istri.." Zino terkekeh juga mendengarnya.
"Ya dan gak lama lagi aku juga punya istri.. Ingat ya.. Besok oke.. Nanti sore aku kasih tahu Jake biar dia gak panik panik banget.. Kamu juga.. Kasih tahu anak buah yang lainnya, jangan mengahadapi dengan sungguh sungguh.." Titah Zino lagi.
"Oke.. Eehh Jake pulang kah..?" Lorent belum mengetahui berita kepulangan Jake.
"Iya.. Tadi ada Lilen telpon Cessa. Bilangnya mereka sudah boleh pulang.. Dan Jake bisa rawat di rumah aja, lagi pula ada Lilen juga yang bisa obati Jake. Biar mereka makin dekat.." Bisik Zino di ujung kalimatnya.
"Jadi mereka makin dekat.. Waahh baguslah.." Lorent mengangguk setuju dengan Zino.
"Baru aku dengar ya laki laki juga bisa gosip.." Rindu dan Cessa datang bersama Baby Karsa.
"Sa.. Sayang..?" Zino auto panik.
"Apa..?" Cessa menatap taham Zino.
"Jangan jangan dia dengar..?" Gumam hati kecilnya.
"Kalian ngomongi Lilen dan Jake..?" Cessa mencolek dagu Zino.
"Hehehe.. Maaf.. Aku cuma cerita kalau mereka akan pulang siang ini.."
"Hmmmm" Cessa menatap Zino dari atas hingga bawah.
"Awas aja.." Ancamnya.
"Mommy cari kamu tadi Zi.." Akhirnya Cessa mengatakan tujuannya mencari Zino.
__ADS_1
"Oh ya.. Oke.. Ayo." Zino menarik tangan Cessa agar ikut dengannya.
.
.
.
.
.
Lilen sedang mengurus data kepulangan Jake.
Setelah semuanya beres Lilen kembali ke ruangan Jake dan melihat perawat yang sama sedang melepas infus yang ada di lengan Jake.
Mata Lilen memanas melihatnya. Ia sangat tak suka melihat betapa centilnya perawat itu pada Jake.
"Oke.. Sudah.. Semoga lekas sembuh.." Serunya.
"Permisi.." Perawat itu berpapasan dengan Lilen.
"Hm.." Singkatnya
"Sini sayang.." Panggil Jake.
"Hmmm.." Lilen sepertinya merajuk pada Jake karna berani beraninya menjawab halus perawat itu tadi.
Jake menahan senyumnya melihat wajah Lilen yang sangat terlihat marah padanya. Jake juga paham apa penyebab utamanya.
"Apa mobil kita sudah sampai..?" Jake pura pura menanyakan masalah lain.
"Hm belum.." Lilen menatap arah lain.
"Hah.. Padahal aku mau cepat cepat pulang.." Desak Jake.
__ADS_1
"Hm.." Lilen benar benar tak tertarik apa yang di katakan Jake.
"Kamu gak mau cepat cepat pulang kah..?" goda Jake.
"Hmmm.." hanya lebih panjang saja dari pada yang sudah sudah tadi.
Jake menarik Lilen agar lebih dekat dengannya. Karna Jake sudah tak terganggu dengan infusnya dan bebas bergerak kemana pun ia inginkan.
"Kamu gak mau tahu kenapa aku mau cepat cepat pulang..?" Jake mengecup lengan Lilen.
"Hm.. Kenapa..?" Masih dengan raut wajah yang sama.
"Karna aku mau masuk lagi dalam kamarmu.." Bisik Jake. Bibirnya sampai menyentuh daun telinga Lilen.
"Eemm?" Lilen terkejut.
"Kenapa.. Gak bolehkah..?" Jake memeluk Lilen dari belakang.
"Bu.. Bukan.. Cuma.." Lilen malu malu.
Jake mengelus perut Lilen. "Sekali aja.. Aku mau liat dia langsung.." Lirih Jake.
"Kan dia belum lahir.." Cicit Lilen.
"Bukan lahir atau belumnya, tapi dia yang masih nyaman di dalam sini.. Aku cuma mau langsung dia yang masih di dalam ini.." Lilen makin bingung dengan pernyataan Jake.
"Langsung tapi di dalam sini..?" Yang di tangkap otak Lilen.
"Begini sayang.. Issshh gak paham maunya suami.." Jake berlutut di depan Lilen.
"Suami..?" Lilen tak menyangka ucapan itu akan keluar dari mulut Jake.
"Ssttt.." Jake menaikkan baju Lilen dan memperlihatkan perut kecil Lilen.
"Hah..?" Lilen menahan tangan Jake yang terus menaikkan bajunya.
__ADS_1
Jake..