
Lilen menggigit bibir bawahnya. "Jadi.." Lilen tudak tahu harus bertanya apa lagi.
"Iya.. Jake peduli sama kamu dan kandungan kamu.. Aki juga gak percaya tapi setelah subuh itu.. Aku yakin sama Jake. Dia juga laki laki yang baik. Diam tapi penuh perhatian.
Pipi Lilen semakin merona lagi. Ia mengingat malam itu lagi. Saat yang di hadapannya itu adalah Jake.
Lilen langsung menggelangkan kepalanya, menolak ingatan tentang Jake dan malam itu.
"Lilen... Makan..!" Panggil Bella dari dalam.
"Ahh. Iya Mommy.." Lilen sebenarnya tak ingin pergi dan makan bersama mereka karna ada Jake juga di sana. Ia tiba tiba merasa gugup bila di dekat Jake.
"Eeemm.. Sa.. Sini Karsa sama aku aja. Kamu makan sama sama mereka." Lilen mengambil Karsa dari gendongan Cessa.
"Eeehh kok aku lagi.. Makan aja sama mereka gak apa apa kok.." Cessa menolak juga.
"Eeemm aku malu sama Jake.." Lilen mengaku kepada Cessa.
"Heiii.. Gak apa kok.. Ayo.. Kita makan bersama, Karsa bisa di jaga pengasuhnya dan kita makan.." Mau tak mau Lilen mengikuti yang Cessa katakan.
Lilen bingung ia harus mengambil apa untuk sarapannya. Tak ada yang cocok di lidahnya.
"Lilen kok gak makan..?".Bella memperhatikan Lilen.
"Eeemm Lilen..." Lilen tak mendapat jawaban yang tepat.
"Apa kamu lagi gak mau makan seperti yabg di bilang Jake kemarin..?" Bella terus bertanya
Lilen melirik Jake dan saat itu juga Jake menoleh padanya.
"Astaga jangungku.." Lilen memegangi dadanya.
__ADS_1
"Eemmm Lilen mau makan biskuit Lilen aja Mommy.." Lilen bangkit dan segera mencari biskuitnya.
Lilen menemukan biskuitnya. Tapi hanya sedikit. Lilen membawanya saja agar terlihat makan, itu yang penting.
"Sayang.. Itu sedikit sekali.. Mana cukup.." Bella bisa melihat hanya beberapa keping biskuit di pegang Lilen.
"Gak apa Mommy. Ini sudah cukup.."
"Apa gak ada lagi sayang..?" Bella juga ikut mencari ke seluruh lemari di dapur itu.
"Enggak ada Mommy.. Hanya ini yang tersisa.." Sahut Lilen.
"Ya ampun.. Ibu hamil ini.. Jake.. Nanti bawa Lilen cari biskuitnya ya.. Kasian nih gak ada lagi biskuitnya padahal Lilen suka biskuitnya.." Oceh Bella lagi.
"I.. Iya Nyonya.." Sahut Jake.
"Nyonyq Nyonya, aku ini Mommynya Lilen, kamu panggil aku Mommy juga Jake.." Bella kembali duduk di tempatnya tadi.
"Ooohhhh Mommy kenapa harus Jake.. Kenapa gak Cessa aja.." Rengek Lilen dalam hatinya.
"Kamu gak sibuk kan Jake..?" Tanya Bella lagi.
"Ya aku gak Sibuk Mommy.." Sahut Jake.
"Sudah satu Minggu kok kamu rakit tembakan kamu itu masa belum selesai juga.." Sahut Zino juga.
"Iya.. Sudah kok.."
"Waahh Jake keren ya.. Bisa rakit rakit yang gitu.." Jake hanya nyengir kuda mendengar pujian dari Bella.
***
__ADS_1
Lilen mondar mandir di kamarnya. Dia bingung apa dia akan benar benar pergi bersama Jake.
"Gak.. Gak usah aja.." Lilen menggelengkan kepalanya.
Tok tok tok..
Ketukan di pintu kamar Lilen.
"Eeehh siapa itu..?" gumam Lilen. Akhirnya ketukan itu bertambah tapi tapi tak ada suara dari luar sana. Akhirnya Lilen membukakkan pintunya.
"Jake.." Gumam Lilen.
"Apa sudah siap..?" Satu pertanyaan Jake membuat satu tubuh Lilen beku.
"Eemm ya.. Sebentar ya.. Aku ambil tas dulu.." alasan Lilen.
"Mantel juga.. Hari ini dingin.." Ucap Jake lagi.
"Oohh oke.." rasa yang sangat aneh menerpanya. Ucapan Jeka benar benar penuh arti dan membuat Lilen merinding.
"Mantel.. Mantell.. Mana kamu mantel..?" Lilen tiba tiba tak menemukan mantelnya karna terlalu kepikiran dengan ucapan Jake.
"Gak ada kah..?" Suara Berat Jake tiba tiba sudah di belakang Lilen.
"Aahh.." Lilen berbalik dan tetap gugup.
"Sini aku cari.." Hati Lilen seperti di cubit sesuatu.
"Eemm kamu gak punya mantel yang tebal.." Jake menutup lemari Lilen itu lagi.
Jake..
__ADS_1