Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 121


__ADS_3

Zino yakin pasti terjadi sesuatu pada Cessa. Tak pernah Cessa seperti ini.


"Cessa biarkan aku masuk sebentar aja.." Pinta Zino.


"Buat apa lagi.. Gak Baby Karsa sudah tidur.. Kamu juga tidur Zi.." Jawab Cess Dari dalam kamar lagi.


"Cessa..?" Zino semakin yakin.


"Zi aku ngantuk.. Tidurlah Zi.." Pinta Cessa lembut.


"Oke Selamat malam Cessa. Selamat malam Baby Karsa.. Aku sayang kalian.


Mimpi indahh.." Zino akan bertemu dengan Cessa esok pagi.


Maka ia akan menanyakannya langsung pada Cessa.


Zino naik ke tempat tidurnya ia terus mengintip lemari jalan rahasianya. Berharap ada suara Cessa membuka lemari atau yang lainnya. Agar Zino bisa memaksa masuk kamar Cessa.


Tapi sayangnya tak ada sama sekali. Perlahan pun mata Zino terpejam. Sedangkan Cessa di sebelah terus mendengarkan lagu yang tadi ia dengarkan. Rasa sedihnya terus mendera. Hanya bisa melepas kerinduaanya pada Karen lewat Karsa.


"Coba kamu di sini Karen pasti akan menyenangkan lagi.. Aku kangen di nyanyikan lagu romantis kamu.. Aku kangen tusuk tusuk lesung pipit kamu.. Aku mau di manja kamu lagi Karen.." meski tersenyum air matanya terus mengalir.


Kenangan kenangan indah bersama Karen tetap terukir indah di ingatan Cessa. Sifat perhatian dan penuh kasih sayang Karen sangat di rindukan oleh Cessa. Mungkin Cessa terlalu terbiasa dengan cinta yang mengucurinya selama bersama Karen.

__ADS_1


"Karsa sayang.." Cessa tidur memeluk baby Karsa dengan lagu yang terus di lantunkan ponselnya.


***


Pagi membantu Zino membuka matanya. Ia mencium aroma masakan yang sangat nikmat dari luar kamarnya.


"Apa Cessa sudah bangun..? Apa dia yang masak ini..?" Zino segera bangkit dan keluar dari dalam kamarnya dengan sedikit berlari.


"Ce.." Ucapan Zino terhenti ketika melihat bukan Cessa yang di dapur melainkan Rindu dan Lilen.


"Apa Zi...?" Rindu bertanya dan Lilen hanya menunduk.


"Eeemm Cessa mana..?" Zino mengaruk tengkuknya.


"Pagi.." Lorent juga datang membawa laptopnya.


"Pagi.." sapa balik Zino tapi lebih lesu.


"Tuan.. Sudah baca Email yang di kirim Zarco..?" Zino tak menjawab, dia hanya melamun pandangan kosong.


"Tuan.. Tuan...?" Lorent menyentuh bahu Zino barulah Zino sadar dan menoleh pada Lorent.


Lilen dan Rindu ikut greget melihat Zino yang tak fokus pada Lorent ysng dari tadi memanggilnya. Zino menatap semua orang yang ada di sana.

__ADS_1


"Apa..?" tanyanya polos seolah tak bersalah.


"Gak apa apa kok.. Tuan mungkin masih ngantuk..." Lorent langsung menutup laptopnya.


"Oohh mungkin sih.." Zino mengangguk asal saja.


**


Zino terus menunggu Cessa turun dari kamarnya. Pukul 8 pagi barulah Zino melihat Cessa dan baby Karsa turun dari ke ruang tengah dan bergabung bersama yang lainnya.


"Sini Karsa.. Daddy kengen.." Zino langsung mengambil Karsa kunci agar Zino bisa mendekati Cessa nanti.


"Apa kamu lagi gak enak badan..?" Rindu bertanya karna ia juga merasa ad yang aneh dengan Cessa yang setahunya Cessalah yang paling awal di dapur, tapi pagi ini berbeda. Rindu bangun tapi belum ada Cessa di dapur.


"Aku cuma mau coba malas malasan kok.. Aku baik baik aja.. Aku juga tunggu baby Karsa bangun juga.." Cessa seperti biasa tersenyum lebar.


Mereka menikmati pagi bersama, Cessa dan Lilen hanya sarapan roti dan selai saja sedangkan Zino malah asik bersama baby Karsa di teras.


"Apa Zino sudah sarapan..? Tumben gak sarapan sama kita..?" Cessa melirik Zino dan Baby Karsa.


"Tadi Zino bangun lebih awal, dia kayaknya cari kamu di dapur tapi kamu belum bangun jadi di sarapan sereal aja.." cerita Rindu.


Cessa...

__ADS_1


__ADS_2