
"WARNING WARNING WARNING"
"Hah... Kamu ini... Masih berencana kasih hamil lagi? Terus yang berdua itu gimana... Kalau misalnya salah satunya atau dua duanya anakmu.. Bagaimana kamu mempertanggung jawabkannya. Kamu bisa belas diri jadi tiga? Memangnya kamu amuba?" Bella meremehkan ucapa anaknya ini. Sedangkan Cessa benar benar yakin dengan yang baru saja Karen katakan dan mulai siaga.
"Tenang saja mom... Kalau wanita yang bersamaku ini hamil, tidak perlu mommy repot repot meminta cucu lagi. Tiga pasang aku kasih langsung pada mommy. Dan mereka itu... Kita tunggu dulu mereka lahiran, dan kita tes DNAnya. Apakah cocok dengan DNAku.. Kalau memang cocok berarti itu anakku.. Tapi kalau tidak cocok berarti bukan. Aku tidak yakin mereka hanya mendapat bibit dariku. Mungkin banyak bibit lain yang mereka dapatkan dan setelah itu mereka engaku sedang mengandung anakku. Mommy sangat pahamkan.." Yakin Karen saat ini.
"Iya mommy paham maksudmu nak... Lalu wanita yang bersamamu kini apa kamu yakin bila dia hamil itu anakmu.. Bukan anak laki laki lain?" Introgasi Bella.
"Tidak mom.. Aku yakin dengan wanitaku ini... Dia berbeda." Ucap Karen membanggakan Cessa tapi Cessa sama sekali tidak bangga akan ucapan daro Karen.
"Baiklah kalau begitu... Lakukanlah jika itu menurutmu benar. Dan Karen.... Ingat... Bisnis yang kmu jalankan bukan hanya bisnis gelap Daddymu saja, bisnis mommy harus kamu jalankan juga dengan benar. Mommy gak mau ada kerugian. Kalau kamu tidak bisa mengurusnya dengan benar, maka cepat berikan aku cucu. Biar cucuku yang akan meneruskan bisnisku." Bella sangat mengingin cucunya.
"Iya mom... Karen usahakan semuanya, usaha Daddy, usaha Mommy, dan cucu mommy" Di kalimat teakhir Karen menoleh pada Cessa dengan nakalnya.
Cessa mengeleng dengan cepat, bagaimana jika Karen benar benar amanah dengan ucapannya Itu. Cessa belum siap. Cessa dan Karen baru saja berkenalan 10 menit yang lalu jika Cessa ingat ingat. Bagaimana bisa sekarang Kare sudah mengajaknya untuk memberikan cucu untuk ibunya itu.
Panggilan video Karen dan sang ibu usai. Karen bangkit dari sofa dan melipat laptopnya lagi dan meletakannya di atas meja kaca itu. Karen lanjut membuka baju berkerahnya itu, sehingga hanya bertelanjang dada saja.
Siaga 1 Cessa kini. Cessa takut, benar benar takug jika Karen melakukan apa yang bari saja ia katakan pada ibunya. Karen berjalan ke arah Cessa yng masih di ranjang dan berbalut selimut bagaikan kepompong ulat sutra di mata Karen.
Ingin rasanya Cessa lari tapi lari pun tak ada gunanya. Tempat ini sudah di penuhi anak buah Karen. Tidak ada celah untuk Cessa kabur. Apa lagi jika sudah berada di dalam kamar seperti ini bersama Karen.
Karen naik ke ranjang, Cessa sedikit bergeser. Karen yang senang sekali melihat ekspresi Cessa yang kini benar benar ketakutan.
"Oh sungguh mainan baru..." ucap Karen di samping Cessa. Cessa benar benar takut mendengar ucapan Karen itu yang pasti di tujukan padanya.
"Ka... Karen.. Kamu..." Cessa memberanikan diri dan hendak melakukan negosiasi dengan Karen. Jari telunjuk lentik Cessa di arahkan ke depan wajah Karen tapi Karen sama sekali tidak terusik dengan jari kecil itu.
__ADS_1
"Apa..."Karen malah memperbaiki duduknya di ranjang dengan santainya.
"Kamu... Kamu... Benar benar hamili wanita wanita itu?" Cessa tiba tiba malah menanyakan hal itu.
"Hemmm... Entah..." Jawaban yang mengantung dari Karen, bukannya membuat Cessa lega malah membuat semakin penasaran dan jengkel dengan jawabannya itu.
"Iya.... Aku juga tidak tahu. Tapi... Aku tidak merasa sesuatu... Orang bilang kalau wanitamu mengandung, ikatan anak dan ayah itu juga ada. Bukan hanya ikatan ibu dan anak yang kuat, ayah dan anak juga kok..." Senyum manis dan menyejukkan hati di bibir Karen di perlihatkan pada Cessa.
"Lalu... Kamu tidak merasakan sesuatu itu bagaimana?" Tanya Cessa sama sekali tidak paham.
"Ya rasa gitu... Apa kamu dan Zino tidak merasakannya saat kamu mengandung anaknya kemarin?" Karen mengulik ngulik kelemahan dari Zino ini.
Cessa kembali mengingat ingat apa uang terjadi padanya dan juga Zino. Jake saat itu mengatakan kalau Zino mual mual dan bahkan muntah muntah dan mengotori jas Jake. Tapi karan itu semua Zino semakin semangat mencari Cessa dan kandungannya saat itu. Rena pun menceritakan itu pada Karen.
Karen sedikit menelan saliva dengan susah payah. Dia membayangkan itu terjadi padanya. Tapi jika Cessa yang mengandung anaknya Karen tak masalah jika itu terjadi padanya. Karna Karen tahu obatnya pasti hanya Cessa.
"Tentu saja... Kadang apa pun yang masuk perut tak lama kemudian keluar lagi. Waktu itu jadinya aku tidak nafsu makan, jadi hanya bergantung sama susu kehamilan aja. Tapi susu aja harus ada rasanya yang pas sama di dedek bayi. Waktu itu aku cuma suka susu rasa coklat, rasa lain gak ada yang cocok. Satu gelas di minum dengan yang lainnya juga keluar. Bahkan aku pernah sampai lemas karna gak makan dan belum ketemu susu yang pas." Cerita Cessa benar benar di simak baik baik oleh Karen. Karen benar benar ingin belajar dari sekarang menjadi seorang suami bahkan ayah yang serba bisa.
Tak terasa sambil bercerita dan dengar cerita Cessa dan Karen tampak semakin dekat bahkan sepertinya lebih cepat akrab dengan Karen dari pada dengan Zino. Kadang sambil tertawa kadang memasang wajah serius, ya... Begitu menyenangkan cerita antara keduanya. Cessa menceritakan ceritanya dan Karen juga menceritakn cerita kedua wanitanya yang mengaku ngaku hamil anaknya dan apa yang membuatnya tak yakin itu anaknya.
Malam semakin berlalu, Cessa dan Karen masih asik dengan ceritanya. Sedangkan itu, Zino sibuk mencari info tentang Karen dan Cessa. Zino tidak berhenti mencari informasi ini.
Rico datang dengan tergesa gesa, "Zi... Kenapa kamu tidak angkat telponku... Aku ada kabar bodoh..." Jengkel dengan Zino yang tak menanggapi telponnya.
"Apa? Dimana ponselku...?Oh astaga.. Maafkan aku Rico.. Apa kabarmu?" Zino baru menyadari ponselnya tidak ada di sakunya.
"Zi... Ini kabarnya..." Rico memberikan informasi yang ia dapatkan. "Ini penerbangan dari negara ini ke negara sakura. Coba kamu lihat namanya itu.. Itu nama Karen yang kamu carikan?" Rico menunjukan informasinya. Semua anak buah Zino juga ikut memerhatikan info dari Rico.
__ADS_1
Zino membaca nama yang tertera di laptop Rico itu. "Karen Stone, dan Nyonya Karen Stone.." Jake membacakan nama itu. Dan semua anak buah Zino mencari tahu siapakah yang di maksud Nyonya Karen Stone.
Sementara itu Zino mengepalkan tangannya. "Karen..." Geramnya memba a nama yang Karen sematkan dan Zino yakin Nyonya Karen Stone itu adalah Cessa.
"Menurut data... Karen Stone belum menikah, tapi kenapa ada yang namanya Nyonya Karen Stone?"
"Itu Cessa." Ucap Zino berapi api. "Aku tahu itu Cessa, pasti Karen yang membuat namanya seperti itu. Ingin mengambil milikku? No no... Tidak boleh Karen.." Zino mengebrak meja itu.
"Cari dam ikuti pesawat itu. Temukan Karen segera. Dan juga Nyonya Zino Louis Smith. Bukan Nyonya Karen Stone." Perintah dari Zino dan juga Ralat nama Cessa yang telah di ganti Karen dengan namanya, tapi Zino tak terima dan tetap memanggil Cessa dengan menyematkan namanya juga.
Anak buah Zino yang mendapat perintah langsung melaksanakan perintah dari Zino tuannya.
Sedangkan itu Cessa dan Karen kini hendak tidur. Tapi Cessa masih di balut selimut tebalnya. Karen melihat itu sedikit risih. Karna Karen ada niatnya sendiri.
"Hei buka selimutmu.. Kamu gak kepanasan?" Tanya Karen pada Cessa yang masih terduduk dan sandaran. Sedangkan Karen sudah membaringkan tubuhnya.
"Ah tidak kok..." Kilahnya.
"Hei... Buka selimutnya... Nanti kamu kesusahan bernafas." Bujuk halus Karen lagi.
"Tidak kok.. Tidak akan..." Cessa masih mengelak untuk melepaskan selimutnya, karna Cessa takut Karen akan melakukan apa yang tengah Cessa takutkan tadi saat mendengar Karen akan memberikan cucu secepatnya pada ibunya.
"Kamu..." Karen mulai jengkel. "Aku tidak mau ada penolakan ya... Mau aku buka selimutnya atau aku buka bajumu saja. Baru setelah itu kamu tidak berpakaian dan tak berselimut." Karen mengancam Cessa dengan menggunakan kata kata mesumnya dan membuat wajah serius pada Cessa.
Cessa
Yo... yo... koment yo....
__ADS_1