
"Aaawww"
Rindu mengibas ngibaskan tangannya yang meninju dada bidang Jake.
Sementara Jake dengan wajah santainya tersenyum biasa biasa saja.
"Apa sakit?" Tanya Jake melihat Rindu tampak kesakitan tangannya.
"I... iya sakit" Kata Rindu yang masih melanjutkan mengelus elus tangannya.
"Baiklah mari kita mulai pembelajarannya." Jake adalah berjalan ke arah tas kecil yang tadi ia tinggalkan begitu saja.
"Ambil ini, pakai seperti apa kamu memakai tasmu seperti biasa." Intruksi Jake.
Rindu menuruti perintah Jake dan memakai tas itu di lengannya dan kembali menatap Jake yang masih tersenyum.
"Tapi sebelum itu aku ingin lihat seperti apa kamu mengepalkan tangan." Pinta Jake lagi.
Rindupun melakukan apa yang Jake perintahkan, Rindu mengepal tangannya dan meperlihatkan tangannya yang kini telah mengepal.
"Kepal lebih kuat lagi" Kata Jake lagi.
Rindu pun mengepal tangannya lebih kuat. Jake pun memperhatikan tangan Rindu itu yang mengepal ke arahnya seakan menantang.
Sekejap Jake tersenyum dan berkata "pantas saja tanganmu sakit saat meninjuku, bentuk kepalannya saja seperti ini" Jake menjentik kepalan tangan Rindu.
Hanya dengan jentikan berhasil membuat Rindu mengaduh dan mengelus tangannya lagi.
__ADS_1
"Usahakan, jari jempolmu tidak berada di samping seperti ini, letakan jari jempolmu seperti mengunci jari jari lainnya dan jangan melipat jari jempol ke dalam jari yang lainnya karna itu hanya akan mengakibatkan kamu kehilangan satu jari jempol, kalau kamu kehilangan satu jari jempol maka tinggal 1 jari jempol saja lagi. Dan usahakan bagian atas kepalanmu itu tidak ada jari yang lebih menonjol seperti ini." Jake menunjuk kepalan Rindu yang salah dalam ilmu bela diri.
"Kamu harus membuat semuanya rata, dan itu akan membuat pukulanmu terasa lebih kuat di banding bila kepalanmu tidak rata, kenapa? karna kepalan tanganmu padat" Jake menerangkan cara yang tepat kepada Rindu.
"Oke sekarang coba kamu ambil lipstikmu dari dalam tasmu itu."
Rindu pun mengangguk dan mengambil lipstik dari dalam tas yang iya tenteng itu. Rindu menemukan lipstik itu dan memperlihatkan lipstik itu pada Jake.
"Ya bagus coba kamu genggam lipstik itu" Titah Jake lagi.
Rindu pun menuruti apa yang Jake perintahkan. Ia mengambil lipstik dan menggengamnya seperti yang Jake perintahkan.
"Usahakan kamu menggenggamnya kuat dan padatkan kepalanmu itu." Intruksi Jake lagi.
Rindu mencoba melakukan apa yang Jake pinta. Kini posisi kepalan dari tangan Rindu sudah sesuai Jake mengangguk anggukan kepalanya dan menunjuk dadanya lagi.
BUUUGGHH...
Suara tinju Rindu terdengar satu ruangan latihan, Jake melipat bibirnya kedalam menahan tinjuan Rindu tapi tetap menegakkan tubuhnya.
"Wowww..kamu belajar dengan cepat." Jake belagak tak terkena apa dan membuka kepalan tangan Rindu dan mengambil lipstik itu.
"Kamu tau kenapa pukulan kamu makin bagus saat ada lipstik ini di dalam kepalanmu?" Jake bertanya dan Rindu hanya menggeleng tak paham.
"Lipstik ini menambah kepadatan kepalanmu dan membuat pukulanmu semakin kuat. Ini adalah salah satu cara untuk melakukan perlawanan di saat terdesak jika kamu tidak menemukan alat atau apa saja yang dapat kamu jadikan senjata untuk mepertahankan diri, maka kamu bisa menggunakan alat yang paling dekat denganmu misalkan tas yang berisi lipstik dan alat perempuan lainnya, barang barang itu bisa menjadi salah satu penolongmu. Karna biarpun kecil, barang barang itu bisa menambah kekuatan tanganmu dalam melakukan perlawanan, misalkan kamu tidak menemukan atau tidak membawa tas dan barang barang itu, kamu bisa mengunakan benda yang tergeletak di tanah, misalnya batu, pasir, bahkan ranting kecil, semua itu bisa membantumu saat keadaan genting, saat kamu sudah tersungkur atau jatuh dan orang itu sudah berada di depanmu, yang harus kamu lakukan mengambil pasir yang ada didekatmu dan jangan ragu untuk melemparkan pasir itu kelawanmu, itu akan membuat lawanmu terkecoh bahkan kelilipan, dan saat itulah saat untuk yang tepat untuk melarikan diri. Baiklah mari kita lakukan gerakan lainnya kali ini kondisinya lawan kita dengan atau tanpa senjata tajam. Karna zaman sekarang ini banyak penjahat atau semacamnya yang pastinya mereka menggunakan senjata tajam, dan ini akan sangat perlu kamu ketahui sebagai seorang wanita. Mari kita lakukan" Akhir dari penjelasan Jake dan awal daru latihan selanjutnya.
"A..Ap.. apa?? Senjata?? Aku?? Melawan orang bersenjata??" Rindu merasakan hawa semakin mencekam sekarang, dimana ia akan menghadapi lawan yang menggunakan senjata.
__ADS_1
Sementara itu kinj kedua manusia sedang berada di dalam satu kotak bergerak. Zino dan Cessa kini berada di dalam lift mereka hendak menuju kamar mereka masing masing.
"Zi kalau boleh tau kenapa tombol lift itu bergambar mahkota?" Tanya Cessa tiba tiba karna sedari tadi Cessa penasaran dengan maksud gambar mahkota itu,
"Ooohhh ini kan ini artinya ratu. Kau lihat, ini mahkota seorang ratu" Jelas singkat Zino.
"Tapi kenapa mahkota ratu, bukannya lebih baik kalau di situ mahkota raja?" Tanya Cessa lagi.
"Ya karna yang akan menggunakan lift ini kan hanya seorang ratu. " Zino menoleh ke arah Cessa yang malah menaikan satu alisnya ke atas karna tak mengerti apa yang Zino maksud.
Tak lama kemudian, lift yang tadinya hanya berwarna emas kini terang benarang karna tidak ada dinding rumah Zino tapi hanya kaca transparan yang ada, membuat pandangan di luar rumah itu terlihat dengan jelas, taman bunga, kebun, pavilium, dan beberapa pohon rindang yang Cessa lihat.
"Woooww.. Ini sangat indah." Cessa kagum dengan pandangan yang tersuguh di depannya.
Zino tersenyum senang juga melihat Cessa yang terkagum kagum dengan pamandangan di depannya.
"Eehhh Zi itu kebun apa???" Tanya Cessa saat melihat kebun dari lift transparan itu.
"Ooohh itu kebun sayur, itu kebun baru di garap, karna aku ingin yang terbaik untukmu. Saat aku tahu kamu sedang mengandung, aku ingin saat aku menemukan kalian aku dapat memberikan kalian berdua nutrisi yang baik dari sayur sayuran yang ditanam sendiri dan kamu dapat melihat bagaimana proses penanamannya." Zino menghentikan ceritanya dan menoleh ke arah Cessa yang sedari tadi tak ingin menoleh ke arahnya, kalau tadi saat Zino bercerita maka Cessa akan manatap Zino tak percaya tapi kini Cessa justru terdiam seribu kata.
Zino tau apa yang kini Cessa rasakan, Cessa sedang merindukan kandungannya. Mau bagaimana lagi Cessa sudah terlanjur mencintai kandungannya itu. Tapi Cessa harus menerima kenyataan bahwa kini ia sudah tidak memiliki kandungannya. Kandungannya malah berpulang ke pangkuan sang penciptanya dengan cepatnya.
Cessa menarik nafas panjang agar oksigen masuk melewati saraf saraf yang tagang menghembuskan nafasnya perlahan menetralkan pikiran.
Cessa berusaha tetap tenang dan tak ingin melepaskan genangan yang ada di bawah pelupuk matanya.
off dulu kawan..
__ADS_1