
Cessa juga begitu, ia mengkhawatirkan Zino. Cessa menoleh ke arah kebun teh yang luas.
"Aku yakin Karen melindungi Zino lagi. Dan aku yakin juga Zino bisa melakukannya demi Karen..." Ungkap Cessa. Ia menatap langit biru cerah ini.
"Ayo kita mulai taburkan abu.." Ajak Cessa terlebih dahulu.
"Mommy.." Cessa menatap Bella.
"Sayang.. Mommy rasa ada yang lebih berhak akan itu.." Bella menatap Baby Karsa yang masih terus di gendong Cessa sejak tadi.
"Oohhh iya.. Mommy lupa Karsa... Maaf sayang.." Cessa segela mecium Baby Karsa sambil terus meminta maaf.
"Ya Karsa yang lebih baik duluan. Dia satu satunya darah daging Karen.." Bella mengelus bayi cantik ini.
"Oke Granma.."
Di bantu Bella, Cessa memegangi tangan mungil Karsan dan meletakan sedikit abu di telapak tangan Baby Karsa. Lalu dengan perlahan juga Cessa membalik tangan Karsa untuk melepas abu, abu pun berterbangan ke udara seperti bebas.
Bella menitikkan airmatanya. "Karsa hebat.." Puji Bella.
"Cessa sayang.." Bella mengangguk. Memberi intruksi untuk Cessa menabur abu Karen.
Cessa mengeleng. "Mommy yang duluan, aku gak ada hak untuk melakukannya Mommy yang berikan darah dan daging untuk Karen..." Yang Cessa katakan ini benar adanya.
Dengan berat hati pun Bella melakukannya. Ia mangambil sedikit abu lalu membuangnya perlahan. Bella menangis, ia begitu hancur melihat abu yang berjatuhan itu.
Cessa memberikan Baby Karsa pada pengasuhnya dan Cessa menenangkan Bella.
Cessa membawa Bella ke tempat yang lebih teduh dan memeluknya.
"Selamat jalan Karen sayang... Kamu akan selalu jadi putra terbaik Mommy.." Tangis luruh Bella.
Setelah Bella tenang Cessa menatap yang lainnya di sana. Ada Lilen yang terus menatap guci putih abu Karen.
"Mommy, Lilen boleh juga melakukannya kan..?" Cessa bertany dulu pada Bella, mengingat cerita Karen kalau mommynya tak menyukai Lilen.
__ADS_1
"Boleh.. Bagaimana pun Karen sangat sayang sama adiknya itu.." Bella menatap Lilen yang langsung menangis mendengar ucapannya.
"Lilen.." Panggil Cessa dengan guci di tangannya.
Ia bawa mendekati Lilen. "Lakukanlah buat Karen bahagia." Cessa meyakinkan Lilen.
Lilen hanya mampu mengangguk dan mengambil abu segenggam dan menaburnya. Abu terbawa angin lagi jatuh ke dasar bukit.
"Karen... Kakak.." Lirihnya. "Dulu kamu pernah larang aku panggil kamu Kakak. Tapi hari ini aku gak akan takut lagi larangan kamu.. Aku akan terus panggil kamu kakak.." Lilen menangis sesegukan.
Cessa menenangkan Lilen lagi dalam peluknya. "Kenapa Karen larang kamu panggil dia kakak, bukannya dia sayang banget kamu..?" Cessa bertanya saat Lilen menghapus airmatanya.
"Dulu gak ada yang mau berteman sama aku, mereka takut Karen.. Mereka kira Karen nanti marahin mereka, karna setahu mereka Karen kakak aku.. Karen tahu, makanya dia larang aku panggil dia kakak demi aku bisa dapat teman di luar sana. Dia juga ngaku kalau aku cuma pekerja di rumahnya, jadi aku bisa bebas bergaul sama siapa aja, semenjak itu Karen minta aku panggil dia cukup dengan Karen, gak pake kakak.. Tapi hari ini... Dia kakakku.." Lilen menangis lagi.
Bella melihat betapa terpuruknya Lilen sebagai adik Karen. Begitu erat ikatan mereka berdua. Ikatan persaudaraan yang tak sedarah pun sangat kuat apalagi jika sedarah. Ada rasa lain saat Bella menatap Lilen yang terpuruk. Rasa yang sama sedihnya.
Maka Bella bangkit dan berjalan ke arah Lilen lalu langsung memeluknya.
"Mom.. Mommy.." Tangis Lilen lebih kecang.
Cessa membuka mulutnya tapi tak bisa bersuara. " Cessa kamu..?" Rindu menemui Cessa yang terdiam dan mengikuti arah pandangan Cessa.
"Itu..?" Rindu tak percaya yang ia lihat ini.
"Ya.. Mereka datang..." Cessa tersenyum sambil menetaskan air mata. Rasa gelisahnya sirna begitu melihat Zino dan rombongannya datang.
"Lorent.." Rindu bisa mengenali Calon suaminya dengan jelas.
Semua orang menoleh melihat arah yang sama. Bella dan Lilen juga bangkit ikut melihat.
"Zino..." Bella sangat senang melihat adik dari anaknya ini pulang dengan selamat. Dari awal sebenarnya Bella tak suka Misi Karen untuk menganggu Zino, tapi setelah Lorent mengirimkan beberap Foto imut Karen bersama Zino. Bella percaya, Zino adalah kebahagiaan baru untuk Karen. Bahkan adik terbaik untuk Karen.
Dari jauh kini semakin dekat maka semakin terlihat jelas Zino dan yang lainnya. Rombongan anak buah juga tak ada habisnya. Sepertinya mereka ingin melalukan penghormatan terakhir untuk tuanya ini.
Sedikit lagi Zino sampai di depan Cessa dan yang lainnya. Cesaa kehilangan senyum ketika melihat karung goni yang di tenteng Zino.
__ADS_1
Melihat darah yang banyak mengotori tubuh Zino bahkan di wajahnya juga ada membuat Cessa yakin ada hal yang menakukan yang terjadi.
Dari karung goni itu juga mengeluarkan darah. Rindu berlalu menghampiri Lorent dan Cessa masih di tempatnya. Zino tiba di hadapan Cessa. Berdiri tegak di depan mata wanita tercintanya.
"Aku pulang.." Zino tersenyum pada Cessa.
Mata Cessa tentu sudah berkaca kaca menahan tangis. Tidak ada rasa takut lagi dengan apa yang ada di dalam karung itu. Cessa langsung saja memeluk Zino tanpa di minta.
"Kamu pulang.. Kamu pulang..." Tangisnya.
"Kan aku sudah janji mau pulang.. Apa lagi aku ada janji sama Karsa. Jadi harus aku turuti bukan..?" Cup.. Zino mengecup Cessa lembut.
"Kamu mau kan jaga dia meski dia sudah bekas aku..?" Karen mengedipkan matanya pada Zino.
"Aku gak peduli mau dia bekas kamu kah mau dia bekas siapakah tetap akan aku cintai seumjr hidup..." Jawab Zino.
"Baguslah kalau begitu.." Setelah mengatakan itu Karen tak bertanya lagi hal konyol.
Itu percakapan Zino dan Karen sebelum penyerangan. Tepat saat Karen tidak daat fukos dengan rencana dan hanya bertanya pertanyaan konyol pada Zino.
Sekilas itu seperti membisikkan Zino kalau waktu itu, Karen sudah tau kalau ia tak lama lagi akan pergi. Oleh karna itu ia menanyakan hal aneh pada Zino.
"Mana Karsa..?" Zino mencari keberadaan Karsa.
Cessa menunjuk pada Pangasuh yang sedang mengendong Karsa tak jauh dari mereka.
"Sayangku.." Zino segera mendekati.
"Hai.. Aku pulang.." Masih banyak lagi yang Zino katakan pada Baby Karsa meski ia tahu Bayi itu tidak akan menjawabnya.
Cessa senang melihat Zino yang begitu sayang pada Karsa. Tiba tiba Cessa menatap karung goni yang berada di bawah kakinya.
Karung yang mengeluarkan darah, dan sedikit terlihat dari dalamnya sehelai rambut hitam, karna karung itu sedikit terbuka maka Cessa bisa memastikan kalau itu kepala seseorang.
Flashback on
__ADS_1
Off.. Dulu kawan..