Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 68


__ADS_3

Bagaikan disambar petir rasanya ingin lari jauh sejauh mungkin mengejar Loretn. Jake tak terima rindu dibawa oleh Lorent dan Apalagi setelah melihat foto-foto kebersamaan mereka benar-benar tidak sanggup mata Jake melihatnya "Aku harus pergi..." Pergi begitu saja meninggalkan Zino dan juga anak buahnya yang lainnya masih tidak mengerti Sebenarnya apa yang terjadi pada Jake Kenapa ia tiba-tiba pergi tanpa memberitahu dirinya. Zino tidak tahu perasaan Jake kepada Rindu, Jake sangat menyukai Rindu bahkan menaruh hati padanya dan begitu pula sebaliknya rindu juga menyukai Jake Tapi sayangnya sebelum Jake dan rindu tidak sempat mengungkapkan perasaannya sebelum musibah ini terjadi dan mengakibatkan keduanya berpisah.


Setelah menemukan Rindu dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk menyatakan perasaannya. dengan susah payah Jack memulihkan Rindu, Tapi kini Jake malah menemukan rindu kembali dibawa oleh Lorent. Kini tujuan Jake adalah menemukan Lorent dan membawa Rindu kembali dan Itu otomatis membantu rencana Karen dan juga Lorent karena yang mereka pancing adalah Jake. Ketika Jack keluar dari tempat persembunyiannya maka Lorent dan Karen akan menemukan tempat persembunyian Zino, dan otomatis dan pastinya rencana Lorent berhasil maka akan menemukan Zino Dan juga Lilen.


Jauh di suatu tempat samar-samar seorang pria tersenyum.


"Kita harus melancarkan serangan berikutnya, serangan pertama kepada Karen Stone, maka serangan kedua adalah Zino Louis Smith."


Di depannya sudah banyak anak buah Berdiri tegap dan beberapa box TXT yang akan ia gunakan untuk penyerangan berikutnya atau bisa dibilang sebuah peringatan. Inilah Dia Stev Paul musuh dari Zino dan Karen satu-satunya karena ia termasuk orang yang bermusuhan dengan Zino dan juga sekaligus Karen.


Rencananya kali ini begitu besar yaitu sekali tepuk 2 lalat mati.


Sedangkan itu yang juga mengejar sekali pukul dua lalat mati yaitu Karen juga sedang bingung menyusun strategi berikutnya bagaimana ia akan menghadapi seorang Stev Paul, tapi di sisi lain ia harus bertemu dengan Zino dan berhadapan bahkan hanya untuk menyelamatkan adiknya dan bukan hanya itu karena ia juga memiliki misi untuk memiliki Cessa. Karen Menoleh kearah Cessa yang masih tertidur pulas setelah ketakutannya tadi mendengar Bom untuk yang pertama kalinya.


Karen membaringkan Cessa diatas tempat tidur di dalam kamar mereka karena ia harus mengerjakan pekerjaannya sebagai ketua geng mafia yang dilambangkan dengan gambar elang.


Tok tok tok.


Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, Karen membukakan pintu dan ternyata dibalik pintu tersebut sudah ada Lorent yang tersenyum dengan gembira.


"Ada apa ada kemajuan?" Masih tersenyum sumringah


"Tentu saja ada kan aku yang jalankan tugas pasti ada kemajuan dong"


bangga Lorent pada rencananya yang berhasil.


"Ini titik koordinat di mana pergerakan Jack analisis teranalisis."


Lorent menyerahkan gawainya kepada Karen, Karen pun memperhatikan titik koordinat yang dikirimkan oleh Jake. Titik koordinat ini ditemukan oleh Lorent di saat Jack membuka media sosialnya dan melihat foto-foto yang sengaja Loren kirimkan, dari sinilah Lorent mendapatkan titik koordinatnya.


"Rupanya Ada juga guna media sosial ya..." Ucapkan yang awalnya tidak yakin dengan rencana Loren akan berhasil.

__ADS_1


"Tuan kan tidak memiliki media sosial jadi tuan tidak tahu kegunaannya apa saja" ucap Lorent dengan bangganya.


Lagi-lagi Karen hanya bisa berdecih "Baiklah lanjutkan tugasmu kirimkan ini kepada Zino... " Karen menyerahkan sebuah amplop surat sepertinya kepada Lorent


"Kalau dia tidak menerimanya maka serahkan yang ini, kalau dia tidak menerimanya lagi maka serahkan yang ini, dan jika tidak diterima lagi maka serahkan yang ini"


Karen menyerahkan yang pertama 1 lembar, yang kedua 2 lembar, yang ketiga 3 lembar, dan yang terakhir 1 paper bag besar yang semuanya berisi amplop surat yang sama


sepertinya Karen sangat niat memberikan semua surat itu kepada Zino. Cessa baru saja terbangun dari tidurnya ketika mendengar Karen berbicara dengan seseorang dan Cessa pun menyaksikan hal yang sama dimana Karen menyerahkan selembar surat, dua lembar surat, tiga lembar surat, dan 1 paper bag besar yang semuanya berisi surat.


Lorent tidak dapat berkata apa apa lagi selain mengatakan 'iya'. Lorent pun meningglkan kamar Karen.


Karen berbalik dan melihat Cessa sudah terduduk di tepi ranjang dan melihat ke arah Karen juga.


"Apa aku dan Lorent mebangunkanmu?" Tanya Karen mengira pasti karna itu Cessa tersadar dari Mimpinnya.


"Eeemm tidak juga, aku hanya terbangun dari tidur, lagi pula sudah sangat lama aku tidurnya." Ucap Cessa dan menoleh ke arah jendela.


Karen paham Cessa pasti masih takut dengan bom yang meledak tepat du dekat jendela tersebut.


"Sayang..." Karen mendekati Cessa dab duduk di sampingnya.


"Gak usah khawatir.. Mereka gak akan menyerang kita lagi. Aku jamin.." Karen mengelus elus puncak kepala Cessa dan Cessa menatap Karen sangat dalam.


Karen tersenyum indah dan itu semakin menyejukan hati Cessa. Entah bagaimana tapi Cessa percaya yabg di katakan Karen dan yakin tidak akan ada lagi bom boman seperti tadi. Karna baru pertama kalinya untuk Cessa maka ia benar benar syok.


Ditempat lain kini, seorang pria dengan paper bag besar di tangannya baru saja turun dari helikopternya. Di sambut dengab todongan senjata laras panjang. Tapi tanpa rasa takut pria itu terus melangkah.


Tepat di depan pintu sudah ada seorang pria lagi menunggunya dengan wajah tak suka. Lorent kini sudah berada di hotel tempat Zino berada. Setelah lima belas menit barulah Zini mendapatkan siasat dari Karen dan Lorent tapi sayangnya Lorent sudah menuju tempat Zino dan Jake, dan Zino tidak memiliki banyak waktu lagi untuk pergi dan melarikan diri.


Sementara itu Jake seakan ingin langsung menerkam Lorent saat itu juga.

__ADS_1


"Buat apa kamu datang ke sini hah?" Bentak Jake langsung.


"Ee.. Aku ke sini karna ingin bertemu dengan tuanmu bukan denganmu, kenapa kamu yang Ge-Er.." Ucap Lorent dan melewati Jake begitu saja masih menenteng paper bag di tangannya.


"Selamat sore tuan Zino. Saya kemari untuk menghantarkan pesan dari tuan Karen. Ini...." Lorent menyerahkan satu amplop surat.


"Cih.." Zino berdecih "Pakai segala surat suratan, memangnya masih buta teknologi." Ucap Zino acuh. Tapi Zino tetap menerima surat itu. Tapi di luar dugaan Zino malah merobekmya dam menghamburnya di depan wajah Lorent.


Lorent tak bergeming, "Ini..." Lorent menyerahkan lagi amplop yang kedua.


"Ooohh sudah ada serapnya..." Zino menerimanya dan merobeknya lagi.


"Ini..." Lagi lagi Lorent menyerahkan surat ke tiganya.


"Astaga.. Seniat itu dia...?" Zino merasa Karen benar benar aneh belakangan ini. Karen yang Zino tahu adalah orang yang sangat hebat dalam masalah teknologi, tapi kenapa ini?


Zino menerimanya dan kembali merobeknya. "Aku yakin itu tidaklah penting, katakan saja apa yang mau kamu sampaikan." Ucap Zino dan berkacak pinggangnya.


"Ini..." Lorent menyerahkan Satu paper bag besar yang terakhir ia punya dari Karen.


"Oh Tuhan... Apa lagi ini.." Zino menerimanya dan membuka paper bag tersebut.


Zino melihat entah ada berapa ratus amplop yang sama seperti amplop amplop yang telah ia robek tadi.


Tak terasa Zino menganga melihat ratusan surat itu. "Maaf tuan.. Tuan Karen hanya memerintahkan saya untuk menghantarkan surat ini saja tuan, kalau begitu saya permisi..." Lorent pun pamit dan meninggalkan Zino yang masih bingung dengan semua surat di dalam paper bag besar itu.


"Hei apa kamu tidak mencari adik dari tuanmu?" Jake bersuara kini saat Lorent sudah di depan pintu.


"Eeemm tuan tidak memperintahkan aku untuk mencari Nona Lilen..."


Zino...

__ADS_1


Off dulu ya kawan.. hayooo siapa yang ketawa ngakak liat tingkah Karen yang super lucu.. silahkan koment dan like ya... Dan jangan lupa favoritkan....


__ADS_2