
Zino memutar matanya malas. "Kan aku sudah bilang, aku gak peduli itu anak siapa, aku tetap cinta kamu Cessa..." Tetap pada pendiriannya.
"Tapi kamu gak tahu ini bibit Mendiang Karen atau..." Zino mengangguk paham.
"Aku gak peduli..." jawabannya tetap sama.
"Lalu gimana Lilen...? Kamu juga gak tahu itu bibit kamu atau bibitnya Jake.. Kok kamu tega gitu sam Lilen sedangkan sama Aku yang hamil anak Cowok lain kamu mau, Lilen cuma antara kamu dan Jake, tapi kamu berbuat apa apa untuk Lilen. Kasian Lilen Zi.. Kalau ada Karen pasti dia yang bantu Lilen. Bagaiamana pun juga Lilen adiknya.." Zino merenungi ucapan Cessa.
Cessa menghembuskan nafas kasarnya. "Kalau tenyata itu anak Jake dan bukan punya aku gimana..? Dan kalau aku sudah makin cinta sama anak itu gimana..? Kamu sama Karsa gimana..?" Kiranya Zino mengerti yang di bicarakan Cessa dan mencoba untuk menerimanya, tapi ternyata bukannya mengiyakan tapi ia malah bertanya yang lebih banyak lagi.
"Kamu gak usah khawatirkan aku sama Karsa.. Kenapa kamu begitu peduli sama aku dan Karsa..?" Cessa juga sudah menyipan sabar di ubun ubun.
"Karna aku cuma cinta kamu... Karna itu dan itu gak akan berubah.." Zino melotot pada Cessa. Ia tak suka cintanya terusdi tolak Cessa.
"Haaaaahhh.." Cessa hanya bisa menghela nafasnya.
"Aku janji.. Kalau misalkan itu memang anakku aku.. Pasti aku pertanggung jawabkan. Tapi kalau bukan ya gak akan.
"Aku pergi dulu.." Zino keluar dari kamar Cessa dengan pintu rahasianya.
__ADS_1
Cessa menatap punggung Zino. Ia juga bingung harus menjelaskan bagaimana pada Zino tentang apa yang ia rasakan.
Meski ia mengatakan tentang masalah hamil anak laki laki lain tadi, ia juga belum pasti akan itu. Cessa tidak berani melakukan tes kehamilan.
Zino nafasnya sudah memburu, ia benar benar tak suka cintanya di cobai dan di tolak mentah mentah hanya karna wnita yang belum di ketahui sedang mengadung anak siapa.
Berdiri di balik pintu lemari dan memcekram gagang pembuka pintu lemari dengan kuat.
"Kurang apa aku.. Sampai Cessa terus tolak aku.. Gak bisa kah dia terima aja cinta aku..." Frustasinya. Zino membaringkan tubuhnya sembaragan du tempat tidur. Akhirnya ia tertidur dengan posisi yang tak beraturan.
***
"Pagi.." sapa Lilen juga baru bangun tidur.
"Pagi.." Tak lama Rindu juga bergabung.
"Waaahh para ibu hamil aku sudah bangun." Cessa menyendokkan masakannya.
"Cobalah.." Pintanya pada kedua calon ibu itu.
__ADS_1
"Bubur...?" Lilen menyendokkan satu suapan untuknya. Ia menciumi aroma makanan ini sangat harum begitu pula Rindu ia menyuapkan satu suapan besar.
"Eeemmm..." Keduanya bersamaan dan saling melempar tatapan satu sama lain.
"Kayak apa..? Apa Enak...?" Cessa sudah sangat penasaran.
"Ini enak.." Lilen bahkan menyendokkan satu suapan lagi ke dalam mulutnya.
"Iya Lilen betul ini sangat Enak." Puji Rindu juga.
"Syukurlah kalian berdua suka.. Dan dengar mulai saat ini dan seterusnya aku gak urus masalah makanan dan nutrisi kalian di dapur.." Saat itu juga para laki laki tiba di meja makan ini.
"Karna aku gak percaya laki laki kalian bisa menjaga kalian dengan baik untuk masalah nutrisi." Tambahnya. Semua laki laki itu saling pandang.
"Aku..?" Lorent menunjuk dirinya sendiri.
"Bukan cuma kamu!!" Sarkas Cessa langsung membuat kedua laki laki lain salah tingkah.
Cessa..
__ADS_1