
Rupanya semua itu hanya mimpi belaka.
Zino terbangun dengan nafas yang terengah engah. Wajahnya memucat, keringat dingin di wajahnya.
"Zi... Ada apa?" Tanya Billy yang masih bersama Zino dam berusaha menenangkan Zino.
"Cessa... Cessa Bill... Cessa... Dia di hamili Karen..." Wajah Serius Zino dengan mata yang sedikit memerah bak orang gila.
"Zi.... Zi.. Zi... Tenang.. Itu hanya mimpi.. Mimpi Zi..." Billy menguncang guncang lagi tubuh temannya itu. Perlahan Zino tak berkata apa apa dan terduduk di tepi tempat tidurnya.
Zino menangkup wajahnya, seolah mengeluarkan semua pengelihatanya di dalam mimpi itu tadi. Anak perempuan itu, Cessa dan Karen. Semuanya ingin ia keluarkan.
Tiba tiba Zino terdiam, terdiam untuk waktu yang lama. Zino mengangkat wajahnya dan kini tatapannya berbeda, lebih dingin dari pada batu es.
Tatapannya penuh amarah yang membara walaupun dingin menjalar di dalam matanya.
"Baiklah Karen. Kamu yang bermain main.. Aku akan ikuti permainanmu." Zino memiliki rencananya sendiri kali ini. Seolah mendapat bisikan iblis di hatinya.
***
Sinar matahari diam diam masuk ke dalam kamar, menyinari Cessa dan Karen yang masih terlelap dengan nyenyaknya.
Karen yang marasa ada cahaya yang menggangu matanya mulai mengerjapkan matanya. Rupanya hari sudah pagi. Karen menoleh pada Cessa yang masih terlelap di pelukkannya.
"Apa tidak apa jika aku serakah?" Guman Karen sambil menatapi Cessa.
Satu info untuk kita semua, Karen sebenarnya hanya ingin bermain main saja dengan Zino. Bukan untuk menyakiti atau apa pun, hanya ingin bermain dengan adiknnya itu, karna satu tahun yang lalu Karen baru mengetahuinya. Rahasia yang begitu besar.
Karen terus mengelus elus wajah Cessa dengan lembut. Awalnya Cessa tak terganggu, tapi lama kelamaan elusan itu menganggu, Cessa perlahan membuka matanya. Saat Cessa membuka matanya, pandangannya langsung bertemu dengan pandangan Karen yang tak henti mamandannya.
"Selamat pagi..." Sapa Karen dengan sangat semangat melihat Cessa yang juga memandangnya.
"Oohh... Ya selamat pagi.." Jawab Cessa dengan ragu.
Dengan cepat Cessa bangkit dari tidurannya. Karen pun sama melepaskan peluknya dan bangkit juga.
__ADS_1
Cessa bingung harus melakukan apa. Sementara Karen bangkit dari ranjangnya dan menoleh lagi pada Cessa yang masih terdiam.
"Mau mandi sama aku..." Goda Karen.
"Tidak tidak..." Jawab Cessa dengan cepat. Sambil mengoyang goyangkan tangannya.
"Oohh kiranya mau.. Ya udah aku mandi dulu." Karen berlalu dan masuk ke dalam kamar mandi.
Cesaa memegangi dadanya. "Huh... Hampir saja." Otak Cessa membayangkan jika dirinya dan Karen mandi bersama.
Dengan cepat Cessa mengelengkan kepalanya lagi. Dari pada Cessa tidak ada pekerjaan, Cessa memilih untuk memberskan tempat tidur, merapikan bajunya di dalam Paperbagnya kemarin, dan sekarang Cessa melihat baju Karen yang berantakan di buat Karen semalam.
Cessa tidak ingin menyentuhnya, tapi akhirnya Cessa menumpukan semuanya menjadi satu saja. Dari pada berhamburan kemana mana.
Karen pun sudah selesai ritual mandi keluar hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Rambutnya masih basah dan mengalir hingga wajahnya, dadanya juga terlihat indah dan nampak lebih segar karna ada beberapa tetesan air masih betah di sana.
Wajah Karen tak berhenti tersenyum melihat Cessa yang sedang berkacak pinggangnya di depan tumpukan baju Karen.
"Kenapa? Apa bajuku mengganggumu?" Goda Karen mulai mendekati Cessa.
"Apa kamu mau mandi juga?" Cessa hanya menganggukan kepalanya.
"Oke tunggu dulu ya... Aku pakai baju dulu." Karen dengan santainya mengambil baju baju yang sudah di tumpuk Cessa sembarang itu, tentu saja kumal dan tak rapi lagi. Tapi Karen tak peduli ia tetap mengambilnya dan mengenakannya.
Dan tepat di depan Cessa tanpa malunya.
Cessa sedikit menjauh dari Karen tapi tetap saja bisa melihat dengan jelas apa saja yang Karen lakukan. "Ini handukmu.. Mandilah setelah itu baru kita sarapan pagi oke..." Cessa lagi lagi tak menjawab dan hanya menganggukan kepalanya lagi.
"Kamu itu bisukah? Kok aku bicara kamu gak jawab." Wajah Karen sudah tak bersahabat seperti tadi, sepertinya Karen jengkel dengan tingkah Cessa yang tidak menjawab perkataannya.
"Maaf..." Cessa hanya berani mengatakan itu saja.
Karen kembali mencoba sabar. "Baiklah. Mandi sana... Aku tunggu..." Cessa pun dengan berlari ke kamar mandi.
"Oohhh hal sedikit saja dia bisa marah. Aku harus berhati hati." Cessa berbicara sendiri dengan dirinya di kamar mandi.
__ADS_1
Setelah di sini tinggal Cessa mandi, Karen mendudukkan dirinya di sofa dan mulai membuka Gawainya lagi. Karen mulai membaca pesan pesan dari Anak buahnya.
"Apa.... Bagaimana bisa..?" Karen keluar dari kamarnya dengan sedikit berlari.
***
Zino kini dengan koper besarnya dan beberapa orang di sampingnya. Zini kini berada di bandara, sepertinya ia akan berpergian jauh kali ini.
"Zi... Apa kamu yakin dengan apa yang kamu rencanakan ini? Apa kamu yakin ini yang terbaik untuk hubunganmu dengan Cessa..?" Rico dan teman temannya yang lain mengantarkan Zino hari ini.
"Iya Co... Aku yakin ini yang terbaik." ucapnya singkat tak menoleh pada lawan bicaranya.
"Zi... Apa Cessa tidak akan sekit hati nantinya jika tahu apa yang kamu lakukan ini?" Billy juga ikut angkat bicara.
Zino berpikir sejenak. " Aku rasa tidak. Mungkin dia akan lebih bahagiaku rasa. Ada Karen di sampingnya. Misiku ini hanya untuk menyakiti Karen saja, jika Cessa ikut sakit hati, kan ada Karen." Jawab Zino dengan ekspresi Zino tak bisa di baca taman temannya.
"Zi... Kamu tahukan kemarin itu cuma mimpi saja.... Tidak mungkin Cessa mau mengandung anak dari Karen. Dan apa kamu yakin mereka melakukannya?" Johan juga membantu Rico dan Billy.
"Aku tidak tahu. Tapi jika Karen mau, kenapa tidak. Cessa saja bisa bersamaku karna aku paksa... Berarti jika Karen memaksanya bisa saja mereka melakukannya." Kata Zino berbelit belit.
Benar juga yang di katakan Zino. Itu semua bisa saja terjadi. Dan ketiga orang itu tidak dapat membantah lagi ucapan Zino. Mereka hanya bisa melihat kepergian temannya itu. Sebelum Zino masuk kedalam Jetnya, Zino sempat menoleh ke arah teman temannya lalu ia tersenyum dan melambaikan tangannya dan setelah itu barulah Zino masuk ke dalam Jetnya.
"Apa itu tadi Zino...?" Billy merasa tidak mengenali temannya itu sendiri.
"Semoga saja Zino tidak salah langkah untuk yang satu ini."Johan khawatir juga karna rencana Zino kali ini benar benar akan menyakiti banyak orang. Bukan masalah fisik, tapi masalah hati.
***
"Kenapa kalian ceroboh sekali... Dua hal kalian lalai, lihat... Sekarang Zino berangkat, dan Kini ada lagi satu orang penganggu baru. Memang kali ini aku tidak mempermasalahkan semua kepemilikanku di dunia hitam, semua hartaku di dunia hitam silahkan habiskan. Tapi orang ini.. Orang ini mengancam nyawa, bukan mengancam harta. Dan nyawa itu adalah aku dan Zino. Dam tentu saja kalian semua. Aku sudah katakan bukan,.. Ini misi terakhirku dan setelah itu aku berhenti. Tapi jika ada orang ini... Maka... Oh Astaga..." tekanan berat sedang melanda Karen banyak masalah baru yang berdatangan.
Cessa yang mendengar suara Karen marah marah dari bawah pun turun dari kamarnya ingin melihat apa yang terjadi. Baru di anak tangga Cessa sudah dapat melihat Karen yang tampak seperti orang gila saja.
Cessa sampai di lantai bawah itu dan sedang melihat langsung amarah Karen pada anak buahnya, Karen memang tak menyakiti mereka tapi omongannya sangat kasar dan beberapa kali membanting barang yang ada di dekatnya.
Seorang laki laki berkacamata melihat kedatangan Cessa, laki laki itu mendekati Cessa dan...
__ADS_1