
Karen buru buru mengenakan baju berkerah dengan lengan pendek ysng terlihat formal tapi kekinian.
Karen berlanjut menyisir rambutnya. Nampak bingung rambutnnya yang tak rapi rapi juga, Karen mulai panik. Tiba tiba Karen menoleh ke arah paperbag Cessa di dekat cermin itu. Dengan buru burunya Karen mengeluarkan semua isi dari paperbag itu.
Semua barang dari dalam paperbag itu berhamburan keluar. "Ya ampun dia benar benar kesurupan..." Cessa berjaga jaga waspada.
Karen menemukan minyak rambut khusus wanita milik Cessa yang Karen minta anak buahnya belikan hari ini tadi. Dengan segera Karen mengunakannya.
Cessa menghirup aroma stroberi dari arah Karen. "Oh tuhan... Lindungi hambaMu ini..." Cessa semakin yakin Karen sedang kesurupan.
Karen sama sekali tidak memperdulikan Cessa yang tengah bingung melihatnya, dan tetap melanjutkan apa yang tengah ia lakukan. Setelah yakin rambutnya rapi, Karen berlari lagi ke arah kopernya yang sudah tak berbentuk seperti koper. Banyak baju yang bertebaran di sekitar koper itu membuat Karen kesusahan mencari kacamatanya yang seingatnya ia taruh di situ.
"Aduh dimana sih?" Jengkel dirinya tak menemukan kacamatanya itu.
"Ka.. Kamu cari apa?" tanya Cessa dengan ragu hingga terbata bata.
"Kacamataku tadi Cessa'' ucap Karen seperti sudah sangat akrab dengan Cessa.
Cessa menoleh ke nakas di sampingnya, dimana tadi Karen meletakan kacamatanya lalu duduk bersama Cessa di atas ranjang.
"Ka... Karen.. Ini Kacamatamu..." Cessa mengambil kacamata Karen dari nakas dan memperlihatkan pada Karen.
"Oohhh astaga Karennn.." Karen meneriaki namanya sendiri dan berjalan ke arah Cessa yang masih di posisinya.
Karen mengambik kacamatanya itu dan langsung mengenakannya. "Terima kasih" Karen mengedipkan matanya dari balik kacamata itu, setelah itu berlalu menemui anak buahnya itu yang setia menanti tuannya di depan pintu.
"Kemarikan..." pinta Karen pada anak buahnya itu, laki laki itu menyerahkan Laptop yang sepertinya sudah tersambung panggilan video dengan seseorang.
Karen meletakan laptop itu depannya dan setelah itu tersenyum cengir kuda. Cessa yang tak jauh dari situ pun semakin merasa aneh dengan sikap Karen. Seorang yang dengan tenaganya bisa memaksanya melakukan apapun yang ia mau, mempunyai anak buah yang banyak, senjata senjata modern. Tapi kali ini tunduk takluk di depan sebuah laptop? Cessa hanya bisa mengeleng gelengkan kepalanya. "Siapa yang menghubunginya? Kenapa dia terlihat ketakutan seperti itu." Dan hanya berani bertanya dalam hatinya.
"Halo Mommy... Apa kabarmu?" Tanya Karen setelah cengar cengirnya.
"Kamu kok lama sekali.. Ngapain tadi? Lama loh mommy tungguin..." Terdengar dengan sangat jelas suara wanita yang sepertinya sedang marah.
Cessa yang juga mendengar suara wanita itu semakin penasaran. Mungkinkah istrinya? Di dengar dari omelannya persis sekali istri istri posesif di luar sana. Pikir Cessa saat ini.
__ADS_1
"Maaf Mom aku tadi itu sibuk..." Jawab Karen pada wanita yang sedang marah marah itu yang adalah ibunya, Bella Stone.
"Oohh ibunya... Kira istrinya". Akhirnya Cessa tak penasaran lagi akan siapa yang menghubungi Karen seperti itu dan membuat Karen panik seperti orang yang sedang kemasukkan setan.
"Hah sibuk? Kamu itu mana ada sibuknya... Paling paling juga sibuk main sama j*l*ng. Benarkan.." Karen membulatkan matanya.
Begitu pula dengan Cessa, dirinya bukanlah j*l*ng seperti yang di sebutkan oleh ibu Karen.
Karen bukannya menjawab malah menoleh pada Cessa seakan mencari sesuatu dari atas sampai bawah Cessa ia perhatikan.
"Bukan mom.." Karen kembali fokus pada laptopnya yang masih tersambung. Tidak hanya mengatakan 'bukan', tapi Karen juga mengeleng dengan yakin.
"Ooohh bukan ya... Pasti Wanita penghangat ranjangmu." Lagi lagi Karen menoleh ke arah Cessa yang tampak sedang menganga mendengar ucapan dari mommy Karen itu.
Karen berkedip beberapa kali dan menaikkan satu alisnya. "Bukan mom" Karen kembali berbicara pada Mommynya sambil mengelengkan kepalanya.
"Ooohh bukan lagi... Eemm pasti.. selir selirmu yang kamu dandani seperti kucing dan mengenakan baju berwarna hitam dan putih, lalu memperlihatkan dada dan Paha mereka kan!?" Tabak Bella lagi dari dalam video terlihat dengan jelas Bella sedang manin tebak tebakan dengan anaknya ini.
Lagi lagi Karen menoleh pada Cessa yang nampaknya semakin tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia di sangka sangka seperti yang di ucapkan oleh mommy Karen itu. Bahkan kening Cessa sampai mengerut tak habis pikir.
"Bukan juga mom.... Kali ini mommy tidak bisa menebaknya." Ucap Karen bangga kali ini ibunya tidak tahu dengan siapa Karen saat ini. Karna biasanya semua tebakan Bella benar.
Dengan cepat Cessa mengelengkan kepalanya pada Karen yang kembali menoleh padanya di ranjang. Cessa tak ingin dirinya di cap seperti yang di katakan mommy Karen barusan. Jika mommy Karen melihatnya dan Karen satu kamar seperti ini, apalagi satu ranjang, pasti Ibu Karen akan mencapnya seperti beberapa yang sudah di sebutkannya tadi.
"Jangan..." Bisik Cessa pada Karen yang masih menatapnya. Sampai sampai Cessa membuat tanda X dengan kedua tangannya agar Karen mengerti.
"Tidak bisa mom..." Ucap Karen lagi.
"Lohh kenapa? Apa dia jelek?" Ucap Bella yakin sekali. Karna jarang ada Wanita yang menolak di lihat Bella, apalagi dirinya adalah wanita Karen. Pasti berlomba lomba untuk menarik perhatian Bella yang di gadang gadang menjadi mertuanya jika berhasil.
Karen menoleh lagi pada Cessa dan nampaknya Cesaa sudah bingung dengan percakapan kedua orang aneh itu. Sehingga Cessa hanya memijit keningnya sajalah.
"Tidak Mom, dia tidak Jelek.." Karen berkata sejujurnya karna menurutnya Cessa wanita yang cantik.
"Ooohh tidak ya... Berarti dia cantik..." pancing Bella.
__ADS_1
"Tidak Mom.." Jawab Karen lagi setelah menoleh dahulu pada Cessa. Secara otomatis Cessa mengangkat kepalanya dan menatap aneh Karen.
"Oohh pasti dia gak cantik gak jelek tapi gendut ya..." Masih tak bosan bosannya main tebak tebakkn dengan anaknya yang paling tampan itu menurutnya.
"Tidak juga mom..." Karen tak mengalihkan pandangnya pada Cessa dan tetap menjawab pertanyaan aneh Mommynya.
"Oh pasti kurus kering kurang daging." Nampaknya Bella mulai menyerah tidak bisa menebak lagi.
"Dia tidak kurus, dia tidak gemuk, Dia tidak cantik tapi tidak juga jelek..."Tutur Karen mempertemukan semua pertanyaan ibunya.
"Aahh iya ya... Terserah aja. Tapi Karen... Kurangkah dua wanita yang kemarin itu...?" Tanya Bella kini sudah lain topiknya.
"Dua yang mana mom?" tanya Karen gak loading pertanyaan mommynya.
"Dua wanita yang kamu hamili itu... Sekarang dua duanya sudah hampir sampai bulan melahirkan. Yang satunya sudah 7 bulan, yang satunya lagi sudah 8 bulan. Dan kamu? Lagi asik asik main sama cewek lagi. Nanti hamil lagi gimana? Ini yang bedua itu aja kamu gak tanggung jawab. Kayak apa sih kamu Ren.." Omel Bella terdengar lagi.
Cessa mendengar dengan sangat jelas apa yang di katakan Mommy Karen itu. Karen sudah menghamili dua orang wanita dan sebentar lagi lahiran. Bukan hanya membuka mukutnya dengan lebar, tapi juga dengan segera menarik semua selimut yang ada di depannya dan membungkus tubuhnya.
Karen melihat tingakah Cessa yang begitu imut. Sekarang Cessa nampak seperti kepompong ulat sutra. Karen tertawa sekencang kecangnya.
"Hahahaha... Mommy mommy... Sabar Mom.. Sebenarnya mommy hubungi aku cuma mau bilang ini aja kah atau ada yang lain?" Karen sangat mengerti ibunya itu.
"Iya mommy takut aja dari dua wanita itu memang mengandung anak kamu gimana? Itukan cucu mommy. Mommy gak mau ya cucu mommy terlantarkan. Itu darah kamu yang mengalir dalam tubuh anak bayi itu. Mommy gak sudi ya kalau anakmu itu lahir terus di rawat sama itu perempuan perempuan j*l*ng..." Unek unek wanita berumur 50 tahunan itu.
Cessa auto syok mendengarnya, sedangkan Karen nampak biasa biasa saja. "Mommy... Mommy gak perlu khawatir... Ikuti aja alur yang sudah Karen buat. Karen juga gak sebodoh itu ya... Karen juga manusia mana kuat manusia biasa seperti Karen ini menelantarkan anak Karen sendiri. Benar kata mommy darah Karen akan mengalir pada calon anak Karen nanti. Tapi apa mommy sudah pikirkan, anak yang akan di lahirkan mereka nanti memiliki aliran darah Karen?" Karen bertanya balik pada mommynya.
Sekejap Cessa sedikit mengerti apa yang di maksud Karen. Dan begitu pula dengan sang ibu yang mengerti apa yang anaknya tengah lakukan ini.
"Baiklah Karen. Jika itu yang mau kamu lakukan. Mommy akan sabar menunggu." ucap Bella berusaha sabar. Bella sangat mengharapkan Karen memberinya cucu cucu yang lucu lucu. Tapi malah terjadi hal yang seperti ini. Ada beberapa wanita Karen yang mangaku tengah mengandung anak dari Karen. Karna mereka pernah melalui malam bersama, mungkin saja bibit yang Karen tanam tumbuh disana. Tapi di luar dugaan Karen tidak memperdulikan mereka, Karen tidak yakin kalau kedua wanita itu tengah mengandung anaknya. Entah apa yang membuatnya yakin.
"Apa mommy sudah benar benar menginginkan cucu?" Tanya yang sebenarnya tak perlu di tanya.
"Iya Karen Stone. Mommy ingin melihat Karen Karen kecil yang lucu dan imut... Karna Karen mommy kan sudah besar sekarang." Kata Bella penuh semangat. Sementara itu Cessa sedikit senang mendengar ibu Karen yang sangat antusias akan masalah cucunya.
Sedangkan Karen hanya mengusap bibirnya dengan kasar lalu menatap Cessa. "Iya mom... Karen usahakan... Bagaimana kalau Karen menghamili saja wanita yang sedang bersama Karen saat ini mom?" Tanya Karen dengan wajah nakalnya entah ke mommynya atau kepada Cessa.
__ADS_1
"WARNING.... WARNING... WARNING...." Terngiang ngiang kini di otak Cessa
Seru gak... Koment donk.... author aja cekikikan sambil baca ulang habis selesai ngetik... masa Readers gk...