Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 82


__ADS_3

Zino juga sama bingungnya karna kedua kelompok mereka sangat banyak. Bagaimana Cessa dan yang lainnya bisa membedakan anggota mereka dan anggota lawannya.


"Emmmm..." Kadang Karen menggeleng gelengkan kepalanya berpikir keras.


"Tuan... Tuan berdua kan ada lambang masing masing. Kita pakaikan saja lambang lambang itu. Lambang lambang itu kan mudah di ingat dan nyonya dan nona nona ini pasti bisa mengingatnya dengan benar.." Saran Lorent dan sangat tepat.


"Oohh iya ya.. Bolehlah itu.. Oke.. aku Begini lambang kelompok aku Elang dan Lambang Zino, Bunga Tulip. Nanti kami akan memberikan lambang lambang itu pada mereka kalian bisa melihatnya di baju mereka. Mungkin baju mereka akan tetap sama seperti biasa, dominan Hitam, tapi ada tambahan di bajunya entah itu lambang tulip atau Elang maka itu adalah anggota kita. Mereka akan kami tugaskan menjaga kalian. Ingat ya.. Lambang Elang dan Bunga tulip adalah anggota kita." Ucap Karen menegaskannya lagi kepada semuanya yang ada di ruangan tersebut.


Semuanya mengangguk setuju dan paham dengan apa yang di ucapkan Karen. Karen menatap Cessa dan Cessalah yang paling di khawatirkannya. Karna dari gerak gerik Stev tadi, Karen bisa melihat yang di incar mereka pasti adalah Cessa karna Cessalah kelemahan dari Dirinya dan juga Zino. Jika Stev bisa mendapatkan Cessa maka itu sudah kekalahan telak untuk Karen dan Zino.


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Cessa akan tetap aman di sini..." Gumam Karen dalam hatinya.


***


Setelah selesia meeting perdana Cessa dengan para mafia kini ia dan Rindu sedang di dalam kamarnya dan saling bertukar Cerita.


Rasa khawatir pasti ada, karna bahaya di mana mana. Tapi Cessa merasa aman karna ada Zino dan Karen dan juga temannya Rindu juga aman bersamanya. Cessa sangat yakin dengan Zini dan Karen bisa mengatasi semua masalah ini.


"Cessa apa kamu tidak susah memilih...?" Tanya aneh Rindu.


"Susah memilih...?" Cessa memiringkan kepalanya.


"Iya... Di pihal sebelah Karen, pihak sebelahnya lagi Zino. Kamu tidak susah memilihnya... Atau kamu mau sama keduanya langsung... Tapi..." Rindu membayangkan bagaimana jika sahabatnya ini menikah dengan kadua laki laki itu.


Dengan cepat Rindu mengelengkan kepalanya lagi menghilangkan bayangan itu. Cessa bingung dengan Rindu yang mengelengkan kepalanya setelah terlihat sedang berpikir.


"Kamu pasti pikir aku akan menikahi keduanya dan setelah itu memiliki anak dan anakku tidak tahu Daddynya yang mana gitu kan...?!" Tebak Cekssa mencoba seperti Karen.


"Wah... Kamu sudah kayak canyang ya... Habat bisa baca pikiran aku.." Ucap Rindu kagum.


Cessa mamasang wajah datar menanggapi pujian Rindu padanya.


"Rupanya begitu cara baca pikiran orang lain..." Ucap hati kecil Cessa.


"Ya aku di sini ada gurunya looo... Makanya aku bisa baca pikiran kamu" Ucap Cessa dengan sebal.


"Iya ya.. Terus gimana tadi...?" Rindu ingin tahu kelanjutan topik mereka tadi.


"Ya... Aku tidak akan melakukan itulah.." Tegas Cessa.


"Hehehe... Kiranya... Mommy sebenarnya ayah dedek yang mana cih.. Yang ada lesung pipi atau yang mata biru... Hahahahahaa..." Tawa Rindu pecah menirukan suara anak kecil dan meledek Cessa.

__ADS_1


"Aku duluan pokoknya... Aku.."


"Mana bisa aku aku yang lebih tua dari kamu..."


"Aku..."


"Aku..."


Suara bising bising dari luar kamar Cessa. Suara yang cukup khas di pendengar Cessa dan sudah tahu itu pastilah kedual laki laki aneh itu.


"Cessa..." Keduanya mendorong pintu kamar Cessa bersamaan. Di belakang keduanya juga ada Lorent dan Jake yang setia mengikuti tuannya kemana pun karna takutnya ada perintah dadakan dari tuannya.


"Kalian..?" Cessa melihat keduanya bergantian.


"Mau apa..?" Tanya langsung Cessa tak ingin basa basi lagi.


"Mana hadiah kami..?" keduanya sama sama lagi berucap.


Cessa yang tadinya berkacang pinnggang hanya bisa terdiam kini mencerna ucapan keduanya.


"Hadiah...?" ucap Rindu juga dari belakang Cessa.


"Nyonya tolong selesaikan masalah ini.. Saya dan Jake sudah tidak bisa mengatasinya, tadi kami..."


Flashback on


Tadi Karen, Zino, Lorent Dan Jake sedang berdiskusi tentang penyerangan pada Stev.


"Kalau kita mengirim kirim tim Falco maka..." ucapan Karen terhenti melirik Zino yang tidak fokus dengan diskusi mereka.


"Zino kamu payah sekali... Bagaimana bisa kamu mengatur anak buah kamu kalau kamunya gak fokus kayak gini..." Protes Karen pada Zino.


"Hah.. Apa tadi..?" Ucapan Zino itu semakin mambuat geram Karen.


"Tuan tadi tuan Karen sedang memberikan saran dan juga menyusun taktik tapi tuan tidak fokus dan sepertinya memikirkan yang lainnya." Ucap Jake mengertikan Tuannya Zino.


"Oohh maaf aku hanya sedang memikirkan sesuatu." Ucap Zino mengusap rambutnya ke belakang.


"Apa?" Tanya Karen menyandarkan tubunya di meja yang penuh dengan peta itu.


"Aku tadi belum di beri hadiah sama Cessa kira kira apa yang patutnya aku minta ya...?" Tanya Zino polos dan seperti tidak ada Dosanya di hadapan Karen dan yang lainnya.

__ADS_1


Hanya memikirkan itu membuatnya tidak fokus dalam diskusi dan membuat Karen jengkel.


"Kenapa kamu saja yang harus mendapat hadiah.. Aku juga harus mendapat hadiah kan..?" Karen juga tidak mau kalah dengan Zino.


Dari situlah diskusi itu runyam dan mulai semakin jauh dari topik pembicaraan awal tentang penyerangan. Zino dan Karen malah sibuk berdebat dan Lorent serta Jake juga sudah saling mencoba menenangkan Tuannya masing masing. Tapi Keduanya rasa ini bukanlah tugas mereka dan hanya satu orang saja yang bisa mengatasi kedua tuan ini.


Jake dan Lorent pun membawa Zino dan Karen ke depan kamar Cessa dan tentu masih juga bertengkar.


"Cessa aku duluankan yang meyelamatkan kamu dari Stev, aku..." Ucap Zino dengan yakin.


"Aku juga kok aku gerak cepatdan bantuin kalian.." Ucal Karen tak mau kalah.


"Stop Stop... Oke oke... Udah aku capek dengar kalian berdua ribut ribut sendiri gini. Kalian mau apa donk..?" Akhirnya Cessa mengalah saja, karna Cessa juga melihar Lorent dan Jake yang tampaknya semakin pusing dengan tuannya masing masing. Belum lagi taktik yang belum rilis tadi.


"Eeemm apa ya... aku mau.." Ucap Zino tampak berpikir keras.


"Cium aku..." Ucap Karen terlebih dahulu.


"Ci.. Cium..?" Cessa mebulatkan matanya.


"Iya Cium... Aku mau di cium aja.." Ucap Karen dengan yakin.


"Aku juga..." Zino mengimbangi tentunya.


"Haaiisss.. Kalian dua ini.." Rasanya gemas sekali Cessa dengan keduanya. Ingin rasanya ia mencakar cakar keduanya bersamaan.


"Oke sini..!" Ucap Cessa dengan lantangnya.


Karen dan Zino maju bersamaan dan tentu saja pintu itu tidak muar mereka berdua masuki.


"Karen... Aku duluan baru kamu..." Desak Zino menyenggol nyenggol tubuh Karen.


"Eeeh kamu yang ngalah sama yang tua..." ucap Karen juga membalas sanggolan Zino.


"Satu satu..." Ucap Cessa lagi kini tampaknya ia marah pada keduanya.


Sontak keduanya langsung masuk dengan aman dan berdiri di depan Cessa berbaris rapi.


Cessa memajukan wajahnya dan...


off dulu.. Petir menyambar kemana mana ni.. takut author ngetiknya.. Maklum musim penghujan... Kalian gimana.. Kehujanan juga kah? Kabar kabaran donk sama Author...

__ADS_1


__ADS_2