Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 60


__ADS_3

Selamat membaca, : Part Karen dan Ceesa dulu ya


Kini Karen sudah rapi dengan kemejanya yang tak di kancin habis, menyisakan leher dan dadanya sedikit terbuka menampakan sedikit bagian tubuh Karen itu. Kemeja Putih polos dan berpasangan dengan celana panjang coklat yang Karen kenakan menambah kesan tampannya dan juga sangat dewasa.


Sementara Cessa sudah siap sedari tadi dan kini tinggal menanti Karen sepertinya sangat banyak persiapan. Cessa mengenakan dress selutut berwarna pink kalem dan juga sepatu putih bersih. Sesekali Karen mencuri pandang Cessa yang sedari tadi menunggunya di tepi ranjang.


"Halo.. Lorent apa semuanya sudah siap?" Tanya Karen sambil menelpon dan mengenakan sepatu hitamnya.


"Ya tuan kami juga sudah menangani kelompok Zini yang sepertinya akan menghalangi kepergian tuan ke Amerika." Ujar Lorent dari sebrang telpon.


"Heemm.. Apa kondisinya sangat parah?" Karen menghentikan geraknya dan memegang ponselnya dengan benar karna sedari tadi ponselnya di apit bahu dan juga telinganya saja.


"Eemmm tidak juga tuan, bila ada kawalan untuk nyonya maka tuan dan nyonya bisa lewat dengan Aman, karna dari yang kami lihat lihat mereka hanya sedang mengincar Nyonya Cessa." Mendengar ucapan Lorent Karen pun menoleh pada Cessa yang juga memperhatikan Karen yang sedang bertelponan.


"Eeheemm.. Ya baiklah lanjutkan pekerjaanmu Rent..." Ucap Karen dan menutup telponnya.


"Apa sudah siap Karen..?" Cessa melihat Karen yang telah selesai betelponan.


"Iya tapi..." Karen menatap Cessa yang juga menatapnya. Cessa bingung dan memerengkan kepalanya.


Karen tak henti henti menatap Cessa. "Apa yang harus aku lakukan Cessa.. Aku bingung, di sisi lain Lilen, di sisi lain Cessa.. Aku harus pilih yang mana." Karen kemudian mengehala nafasnya. "Ya ayo kita berangkat, cepat kita berangkat cepat juga kita sampai." Ucap Karen dan Cessa bangkit dari duduknya dan maraih koper hitam milik Karen yang Cessa gunakan untuk membawa pakaiannya dan juga pakaian Karen juga.


"Sini..." Karen meraih koper itu dan menyeretnya dan Cessa berjalan di samping Karen.


Kini keduanya sudah di dalam mobil Cessa menoleh ke belakang mobil yang ia tumpangi bersama Karen.


"Karen. Kenapa banyak mobil hitam di belakang kita?" Cessa menghitung mobil itu mungkin ada lima atau enam mobil.


"Mereka akan mengawal kita sampai Amerika." Ucap Karen santai dan mengenggenggam tangan Cessa. Cessa menoleh merasa tanganya di genggam.


"Aku ingin yang terbaik.. Aku akan melindungimu.. Walau itu dengan nyawaku..." Karen sangat serius dalam ucapannya, Cessa merinding mendengarnya.


"Karen... Kamu berlebihan..." Cessa berusaha melepaskan tangannya tapi Karen tetap menggenggamnya dengan semakin erat.


"Gak ada yang berlebihan untuk kamu.. Tetap ikuti dan patuhi aturanku oke. 24 jam kedepan kamu akan menjadi tawananku. Tawanan cinta.." Karen mengubah air mukanya yang sejak tadi serius dan kini tersenyum lebar.


"Karennnnn..." Cessa berterik pada Karen yang tadinya serius kini malah merayu.

__ADS_1


"Hahahahaha.. Sabar sayang. Ya gak mungkinlah aku jadikan ratuku ini tawanan, di ikat, di lakban, memangnya kamu maunya gitu...?" Karen mendekatkan dirinya lada Cessa.


"Ya gaklah.." Cessa menoleh ke arah lain dan sudah tahu apa yang ingin Karen lakukan kalau sudah mendekat seperti itu.


"Makanya di jadikan tawanan cinta aja, kayak gini.." Karen memeluk seluruh tubuh Cessa.


"Eeeh apa ini.." Cessa terkejut.


"Ya kan di ikat dengan peluk cintaku.." Karen terus mengombal Cessa tak ada saingannya.


"Astaga Karen.. Sudahlah.." Cessa sungguh tak sanggu terus mendengar rayuan maut Karen.


"Oke karna tawananku ini tidak dapat diam maka akan aku lakban mulutnya." Karen memegangi tengkuk Cessa dan mengunci rapat rapat bibir Cessa dengan bibirnya.


Cessa meremas kemeja Karen di kerahnya membuat Karen semakin terpancing. Dan tanganya juga nakal ingin menerobos masuk tapi dengan sebisanya Cessa mencegahnya.


Sopir mobil Karen dan Cessa sangat sulit mencari nafasnya yang rasanya tersendat sendat melihat aksi tuanya di kursi penumpangnya.


Karen menghentikan aksinya dan menatap Cessa yang masih di pelukannya dengan bibirnya yang semakin memerah karna ulah Karen. Karen menggigit bibir bawahnya sendiri dan setah itu Karen menempelkan keningnya dengan kening Cessa. Terasa nafas hangat Karen terhembus kepada Cessa.


Tak sampai di situ saja, Karen benar benar mengekang Cessa dalam peluknya dan tak memperbolehkan Cessa bergerak menjauh darinya.


''Halo mom.. Kenapa..?" Ucap pertama Karen setelah menerima telpon ibunya.


"Sayang.. Mama sedih.." Ucap Bella dari sebrang Telpon.


"Sedih kenapa mom..?" Karen sudah mengetahui kenapa sang ibu sedih.


"Sayang.." Suara Bella seakan ingin menangis.


Karen sengaja speker telponnya agar Cessa juga mendengarnya.


"Iya mom.. Kenapa?" Karen terus tetap tersenyum dan Cessa sangat bingung dengn keadaan di depanya sang ibu sedih dan anaknya malah tersenyum bahagia.


"Bayi itu bukanlah anakmu sayang.. DNA kalian tidak samaaaaa.." Mommy Bella benar benar sedih. Tapi Karen hanya tetap tersenyum bahagia dan bahkan tertawa mendengar sang ibu malah mejadi melow sekali seperti ini.


"Mom.. Karen sudah tahu. Tadi ada Dokter Jordy kasih kabar kepada Karen." Ucap Karen dengan tenang dan malag mengelus elus lembut lengan Cessa.

__ADS_1


Dan Cessa juga merasa sedih mendengar kalau bayi itu bukan anak Karen, entah kenapa dia juga merasa sangat sedih. Tapi kembali Cessa menoleh ke arah Karen, Karen malah biasa saja dan tidak terlihat ekspresi sedihnya. Terkesan malah bahagia.


"Karen... Mommy mau punya cucu nak.. Kenapa kamu susah sekali sih kasih mommy cucu.." Terdengar suara Bella benar benar menangis dari sana.


"Mom.. Tenanglah.. Mungkin Tuhan belum mempercayakannya Pada Karen, tapi Karen yakin mom... Nanti Karen akan mendapatkannya." Karen menoleh pada Cessa penuh arti.


"Karen... Ingat.. Cucu buat mommy secepatnya ya.." Ucap Bella sangat penuh penekanan


"Iya mom pasti... Karen juga mau kok anak... Tapi ya Karen untuk sekarang harus sabar dulu. Tapi mom.. Bukankah ada satu lagi wanita itu. Kapan prediksinya dia melahirkan?" Tanya Karen mengalihkan topik agar ibunya tak sedih lagi.


"Gak tahu sayang, tapi sepertinya mommy sudah gak percaya lagi sama wanita seperti itu, nanti cuma kasih harapan palsu lagi sama kita." Bella jera dengan apa yang menimpanya ini, dia sudah sangat menantikan dan siap mencurahkan kasih sayangnya tapi ternyata semua itu hanya harapan belaka, bayi yang katanya adalah anak Karen rupanya tidak ada ke cocokan dengan Karen sama sekali.


"Jangan putus asa mom. Mungkin saja yang ini nanti benar benar anak Karen kan.. Tapi mom.. Karen juga akan berusah untuk membuatnya." Karen tersenyum nakal pada Cessa. Dan Cessa sangat paham senyum itu.


***


Kini Cessa dan Karen sudah tiba di bandara, memang ada beberapa halangan tadi di perjalanan tapi karna kesiapan Karen semua itu mudah ia lalui dan kini keduanya sudah aman di dalam pesawat.


Sejak tadi pula tak ada percakapan yang hangat di antara keduanya entah apa yang mereka pikirkan masing masing. Tapi tangan Karen tak henti hentinya memeluk tubuh Cessa dan Cessa yang awalnya risi kini merasa biasa saja karna sangkin lamanya Karen terus memeluknya.


Pesawat lepas landas dengan aman dan kini mengudara di langit jingga sore itu.


Karen menoleh pada Cessa. Melihat Cessa hanya terus melihat dari luar jendela dan menikmati pemandangan dari luar pesawat itu.


"Cessa...." Panggil Karen.


Cessa menoleh dan tak mengatakan apapun hanya matanya yang terus berkedip memandang Karen. Karen memperbaiki rambut Cessa dan menyelipkan rambut itu di daun telinga Cessa.


"Aku hari ini ingin bercerita banyak padamu.. Boleh..?" Tumen sekali bertanya dulu tapi Cessa sangat tertarik akan itu.


"Boleh.. Ceritakan saja." Cessa mengalihkan perhatiannya pada Karen.


"Ini tentang anak yang kemarin, dan yang belum lahir itu." Ucap Karen dan Cessa sangat antusias mendengarnya dan dengan cepat menganggukan kepalanya.


"Anak yang sudah lahir, bukan anakku.." Ucap Karen dan Cessa mengamati wajah Karen apakah ada gambar kesedihan. Tidak ada tapi Karen hanya menghela nafasnya dan itu sudah cukup menjelaskan pada Cessa kalau Karen juga sedih. "Tapi Kita tunggu saja dulu yang akan lahir nanti. Aku masih mengharapkannya anakku. Sudah dapat menghibur ibu juga sudah cukup." Ucap Karen lagi dan Cessa kini mengelus lengan kekar Karen dengan lembut. Karen menganggukan kepalanya dan juga mengelus elus lengan Cessa juga.


"Cessa aku ada sesuatu.." Karen merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan.

__ADS_1


Cessa.


__ADS_2