Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 92


__ADS_3

Stev bangkit dari duduknya dan melepas bajunya juga. Sehingga kini Stev yang tak mengenakan baju.


Stev langsung naik ke ranjang tempat Cessa dan bebaring dengan nyamannya. Cessa yang tersiksa dengan hal ini. Bagaimana Cessa bisa tidur nyenyak jika ada laki laki yang tak ia kenal juga tidur dengannya di tambah lagi, busana yang di kenakan Cessa ini sungguh tidak mendukung.


Dan Stev, ia tidak mengenakan bajunya juga sangat menganggu. "Bagaimana jika dia khilaf dan..." Cessa menggelengkan kepalanya menghilangkan pikiran buruknya.


Stev memejamkan matanya, ia tidur terlentang dengan kedua tanganya dibawah kepalanya. Seakan memamerkan dadanya. Cessa tidak ingin tidur bersama Stev. Maka ia bangun dan berjalan ke sofa dan memilih duduk di sana.


Tiba tiba Stev bangun dari baringnya dan mencari keberadaan Cessa di dalam kamarnya. Cessa sangat terkejut melihatnya karna Stev bangun dengan begitu cepat.


Stev menaikkan satu alisnya melihat Cessa duduk di sofa. "Kamu ngapain di situ...? Kenapa gak bobok di sini...? Sini cepat..!" Wajah Stev sangat tak bersahabat membuat Cessa menurut saja dan kembali ke tempat tidur.


"Siapa yang suruh kamu ke situ, ada yang suruh...? Aku yang suruhkah..? Kalau aku gak suruh jangan macam macam ini tempatku aku yang berkuasa. Mengerti..!?" Tampaknya Stev sangat marah, Cessa menundukan kepalanya tak berani memandang Stev yang sedang memarahinya.


"Tidur...!" Stev menunjuk bantal di sampingnya.


"Iya.." Tanpa menunggu lama Cessa duduk dan langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


Stev juga membaringkan tubuhnya lagi tapi terus menoleh pada Cessa. Cessa memberanikan diri untuk melihat Stev di sampingnya. Mata mereka malah bertemu dan saling pandang sekejap.


Dengan cepat Cessa menarik pandangannya dan memejamkan matanya. Cessa kira Stev sudah tidak memandangnya, tapi ternyata kebalikannya.


Saat Cessa tengah memejamkan matanya Stev mendekat, meraih dagu Cessa dan membuatnya menatap dirinya, "Jangan macam macam denganku.. Aku gak sebaik itu, di tempatku.. Aku bolej melakukan apa pun yang aku inginkan.." Mata Cessa dan Stev saling bertemu.


Cessa terus memperhati mata coklat itu sedangkan Stev memandangi bibir mungil milik Cessa. Hanya itu tujuannya.


Stev mengeluarkan senyum misteriusnya dan langsung saja mengecup bibir mungil itu. Cessa tidak bisa menerimanya karna tahu ujung ujungnya dari aksi ini maka hal yang lebih besar dari pada sekedar ciuman semata.


"Jangan menolak... Aku gak suka penolakan.. Dan ingat, aku yang berkuasa..." Stev mencekram erat bahu Cessa, Stev merasa kurang menyenangkan karna Cessa tidak membalas ciumannya malah terkesan menolaknya.


Cessa merasa sangat takut saat ini. Ia hanya bisa mengigit bibirnya lalu setelah itu menatap Stev lagi dengan takut. Ekspresi menakutkan, rakus, menginginkan, menjadi satu di wajah Stev. Tanpa permisi lagi Stev melakukan apa yang ia inginkan dengan bibir mungil itu.


Cessa terpaksa menerimanya saja meski kadang aksi Stev sangat kasar pada bibirnya, Stev melepaskan bibir Cessa. Bibir mungil itu bergetar hebat karna aksi laki laki ini. Stev tersenyum bahagia melihatnya.


"Ya aku suka wanita yang patuh..." Stev mengelus rambut Cessa dengan lembut tapi memiliki siasat lainnya.

__ADS_1


Stev mengulanginya sekali lagi, sampai ia puas bermain main seperti yang ia inginkan. Cessa hanya bisa memejamkan matanya, menerima apa yang Stev lakukan padanya.


"Kenapa harus aku, aku harus berhadapan dengan para Mafia ini.. Kenapa aku selalu di perlakukan seperti ini.." Cessa hanya bisa mengeluh dalam hatinya.


Stev melepas lagi pengutanya dan naik ke atas tubuh Cessa. "Aku menginginkanmu.."


***


"Ini sudah larut, nona nona silahkan untuk beristirahat..." Seorang penjaga datang dan meminta Rindu dan Lilen untuk tidur karna sudah larut.


"Apa tidak ada kabar dari tuan Lorent..?" Rindu sangat ingin tahu itu.


"Mungkin besok tuan Lorent akan mengirim pesan, biasanya seperti itu nona. Hari ini tuan pasti sibuk mengatur anak buahnya..." Ucap penjaga itu.


Rindu mengangguk anggukan kepalanya. Penjaga itu tetap menunggu Rindu dan Lilen untuk pulang ke kamar masing masing.


"Aku boleh ke dapur dulu kah.. Aku ingin membuat susu sebelum tidur..." Penjaga itu mengangguk dan Rindu bangkit dan di ikuti penjaga tadi ke dapur.


"Seistimewa itu dia untuk Lorent. Aku senang lihatnya tapi juga sedih... Lorent.. Kamu sudah janji.. Mungkin aku perempuan paling tak beruntung..." Lilen tertawa dengan nasib yang meratapinya.


Lilen kembali terlebih dahulu ke kamarnya. Ia masuk dan bersandar di pintu kamarnya. Sedangkan Rindu mengaduk susu hangatnya dengan santai.


"Nona, cepat ya.. Tuan Lorent pasti tidak membolehkan anda lama lama di dapur, ini juga sudah larut sebaiknya anda tidur.." Penjaga itu rupanya sangat cerewet.


"Dia gak akan berani marah sama aku.. Kamu tenang aja. Ohh ya.. Yang itu tadi adiknya Karen kan..?" Rindu masih tidak mengerti semua yang terjadi di rumah ini, karna Lorent hanya mengurungnya di dalam kamar saja.


"Ya itu adalah nona Lilen, adik dari tuan Karen dan..." Penjaga itu tiba tiba diam.


"Dan apa..?" Rindu sangat ingin tahu kenapa sang penjaga yang cerewet itu tidak melanjutkan ucapannya.


"Tidak apa apa nona. Eemm cepat ya nona..." Pinta penjaga itu lagi.


"Ya ampun orang orang ini.." Rindu mulai meneguk susunya.


***

__ADS_1


"Jake.." Panggil Zino dan duduk di samping Jake yang sedang meresap rokoknya.


"Ya..?" Selayaknya anak buah yang patuh Jake menjawab.


"Apa yang kamu pikirkan..?" Satu pertanyaan aneh.


"Eemm rasa rokokku manis..." Jawaban yang aneh pula.


"Apa kamu memikirkan wanita..?"


"Wanita yana mana..?" Jake menoleh pada Zino dan Zino juga menoleh padanya.


Keduanya langsung tersenyum dan bahkan menahan tawa.


"Bodoh.." Sarkas Zino.


"Kamu..." Jake tak mau kalah.


"Ingat ya.. kalau dia sampai mengandung.. Itu anak kamu..!"  Zino mengambil putung rokok Jake dan meresapnya juga.


"Enak aja.. Kamu juga kok.. Masa punya aku aja..? Bagaimana pun juga aku hanya terima bekasmu saja.. Ada jalurmu.. Hahahahaha.." Tak tertahankan.


"Bodohnya.. Eh aku gak tanam ya.. Aku cuma lewat.. Kamu itu yang tanam tanam.." Zino menunjuk nunjuk kening Jake.


"Eeehh siapa tahu.. Tumpah dikit." Jake masih mengelak.


"Lah.. Kamu yang tumpah banyak gimana..?" Karen mendengarkan dengan jelas apa yang di biacarakan keduanya. Dan ia sudah tahu apa topik pembicaraan itu.


Ia juga tersenyum melihat Zino dan Jake yang berdebat masalah itu, masalah yang hanya mereka yang tahu.


"Dia cantik kok.. Cantik dari Rindu pula. Biarkan Rindu sama Lorent... Itu kan yang di dalamnya bibit Lorent bukan bibit kamu.. Nah kamu ya tunggulah bibit kamu di Lilen.." Zino benar benar tak tahu malu.


"Tapi kamu juga harus tanggung jawab, kamu yang buka, aku cuma lanjutkan. Jadinya aku gak tahu rasanya baru di buka itu seperti apa.." Jake juga sama bodroknya.


Zino mengeleng gelengkan kepalanya dan tertawa, ia mengingat lagi malam itu. Malam yang seharunya tak terjadi tapi ternyata Zino tidak dapat menahan dirinya, dan malah melakukanya, yang parahnya lagi ia memanggil Jake untuk ikut ikutan.

__ADS_1


Off dulu... Hahahahaa... Like Donk...


__ADS_2