Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 153


__ADS_3

"Siapa kamu..?" Marino mencurigai suara orang misterius ini.


"Aku Mommynya.."


Sreeeekk..


Satu tarikkan pisau di pegang Cessa membuat Marino berteriak keras. Saat itu juga Cessa mengambil Karsa dari tangan Marino.


"Karsa sayang..?" Cessa senang bisa melihat putrinya lagi.


"Kamu..?" Marino bangkit dan menarik penutup wajah Cessa dan benar itu adalah Cessa.


"Cessa..?" Zino tak percaya Cessa seberani itu menghadapi Marino.


"Ooohhh ini si ganas.. Ck.. Demi anak haram itu..?" Ledek Marino sambil memegangi luka di lehernya.


"Anak haram..? Ini anakku.." Cessa menatap berani Marino.


"Jake..?!" Zino memberikan kode Jake.


Jake mengangguk sekilas. Perlahan ia keluar dari tempat itu dan menyalakan pertanda minta tolong.

__ADS_1


Sayangnya saat Jake menyalakan kode permintaan bantuan, ada yang menyadarinya dan orang itu langsung menganiaya Jake sampai terluka parah di bagia wajahnya.


"Barani ya kamu.." Marino merampas pisau di tangan Cessa meski harus membuat tangannya sendiri yang terluka.


"Wanita cantik sebaiknya jangan bermain benda tajam.. Benda tumpul aja.." Marino mengarahkan pisau itu kearah Cessa.


"Cessa.." Zino langsung menerjang para anak buah Marino tanpa memikirkan apa yang akan terjadi padanya.


"Zino..!!!" Cessa melihat Zino yang hendak menolongnya malah di tangan beberapa orang bertubuh besar. Dan bukan hanya itu, Zino juga di pukuli.


Zino tak menyerah semudah itu, bukan Zino bila langsung menyerah begitu saja. Zino melawan dan mengalahkan satu pria bertubuh besar itu dan yang lainnya memegangi bagian tubuhnya yang terasa sakit di buat Zino.


"Kalau gak gak bisa buang anaknya, aku buang aja sama Mommynya kan..!" Marino langsung menikam Cessa dan Karsa.


"Zino..!" Pekik Cessa.


Pisau itu yang langsung bersarang di pinggang kiri Zino.


Marino menatap marah Zino yang menghalanginya. "Cuma itu..?" ledek Zino.


Zino langsung mencekik Marino. Menganggatnya sedikit ke atas dan tentu dengan rasa yang luar biasa di rasakan Marino.

__ADS_1


"Berani kamu sentuh mereka..? Dari tadi aku sudah bertindak baik dan sopan, meminta dengan baik baik, tapi kamu..?" dengan sisa satu tangannya lagi Zino mencabut Pisau itu dari pinggangnya.


Cairan meras bercucuran, mengalir dari pinggang hingga kaki Zino dan berlumuran di lantai. Cessa melirik Zino, sepertinya tak ada rasa yang Zino rasakan. Hanya amarah yang terlihat di mata Zino.


Saat saat genting di alami Marino, ia tidaklah bodoh dan langsung memencet tombol remot di dalam sakunya.


Seluruh ruangan itu di penuhi asap putih. Cessa terbatuk batuk menghirupnya. Begitu pula dengan Zino.


Saat itu Marino melepaskan diri dan melarikan diri secepatnya.


"Cessa..?" Zino menghampiri Cessa dan memeluk kedua orang kesayangannya itu.


"Zino.." Cessa sudah menangis sambil terbatuk batuk


"Karsa sayang..!" Asap Putih itu hampir mengenai Karsa kecil yang di lindungi Cessa.


Zino meniup niup wajah Karsa agar tak ada asap yang mengerumuni Karsa. Setelah yakin Karsa tak terganggu dengan asap itu, Zino meniup niup wajah Cessa juga untuk mengurangi asap mengelilingi Cessa.


Bukannya diam dan menerima saja, Cessa malah meraih Bibir Zino dan melu**atnya.


Begitu lembut yang di rasakan Zino. Ini pertama kalinya Cessa yang terlebih dahulu menciumnya.

__ADS_1


Ingin terus menikmatinya, tapi Zino ingat ada asap yang harus mereka lewati. Zino membawa Cessa bangkit hendak keluar dari tempat itu.


Tiba tiba...


__ADS_2