
Cup..
Karen mengecup kening Cessa dengan sangat lembut.
"Kamu ratuku.. Kamu milikku.." Setelah mengatakan itu hujaman kecupan Karen berikan di kening Cessa bertubi tubi.
Awalnya Cessa terkejut dengan kecupan awal yang sangat lembut itu tapi Cessa tak ingin membantah karna takut akan di gelitiki habis habisan lagi oleh Karen. Tapi kecupan yang Karen berikan padanya bertubi tubi perlahan membuat Cessa tenang dan nafasnya segera normal.
Setelah puas mengecup Cessa dengan posesifnya Karen menarik Cessa dan menyandarkan kepala Cessa di dadanya mendekapnya penuh cinta.
Cessa pun bisa merasakan cinta dan kasih sayang yang Karen berikan lewat pelukkannya ini. Pelukan yang erat tapi sangat lembut di tubuhnya.
"Zino tidak akan marahkan jika aku mencintaimu?" Ucap Karen ingin mendengarnya langsung dari mulut Cessa. Selama ini yang Karen tahu, Zino dan Cessa tidak memiliki hubungan lebih, hanya karna satu malam di tempat hiburan itu Cessa mengandung anak Zino, dan Zino merasa dirinya harus bertanggung jawab atas kehamilan Cessa dan mencari Cessa dengan semua kemampuaannya.
"Aku dan Zino tidak lebih dari teman, Zino hanya melindungi aku karna aku pernah hamil anaknya, itu menurutku." Ucap Cessa mengatakan apa yang ia rasakan dengan Zino beberapa hari kemarin.
"Jadi tidak apa apakan aku menyambilmu darinya." Ucap Karen serakah.
"Bukankah kamu sudah mengambil aku dan membawa aku kemari." Ucap Cessa sangat benar dan tepat.
"Ya itu hanya rencana untuk Zino.. Aku sebenarnya hanya ingin main petak umpet bersamanya, ingin bermain dengan adikku sebentar dan setelah itu aku akan berhenti dan membiarkan dia yang menguasai dunia Mafia. Biar dia yang akan menjadi Rajanya. Secepatnya aku akan berhenti dan menikahi kamu. Jika Zino meminta semua aset dari Mafiaku aku akan memberikannya padanya, tapi asalkan kamu tetap bersamaku" Ucap Karen mungkin sedikit berlebihan di telinga Cessa.
"Cih.. Memangnya kamu pikir aku ini apa? Barang yang kalian para Mafia perjual belikan? Aku ini juga manusia ya.." Ucap Cessa tak terima dengan ucapan Karen yang seolah menukarnya dengan semua aset asetnya.
"Bukan begitu sayang..." Cessa hendak bangun tapi Karen mencekram tanganya dengn erat dan menariknya lagi berbaring di atas tubuhnya.
"Karen.. Kamu.."
"Kalau kamu mau bangun lagi dari posisi yang sudah aku berikan maka aku akan semakin mendekat dan jangan salahkan aku jika aku gelap mata. Ya.. Paling lebih dekat dari ini, penyatuan mungkin." Gertak Karen sangat menakutkan di telinga Cessa, meringsutlah niat Cessa ingin lepas dari dekapan Karen.
__ADS_1
"Baiklah aku tidak akan bangun lagi tapi tolong posisinya jangan seperti ini" Ucap Cessa menawar.
" Eemm eemm." Karen menggelengkan kepalanya dua kali. "Aku tidak akan tertipu lagi dengan rayuanmu yang seperti itu. Nanti kamu akan menipu aku lagi dan lari dari dekapanku." Karen hafal dengan gerak gerik Cessa yang pastinya akan merugikan Karen.
"Astaga... Karen.. Tidak.. Karen Tidak.. Aku tidak akan mengulanginya lagi.." Cesaa memelas.
"Kamu mau apa lagi?" Tanya Karen sepertinya mudah sekali di bujuk Cessa.
"Aku mau posisi tadi... Gak mau posisi kayak gini.." Ucap Cessa lagi malu malu. Dan ya Cessa lebih nyaman posisi seperti tadi saja dari pada harus berbaring di atas tubuh Karen seperti sekarang ini.
"Oke.. Aku ada syaratnya dulu." ucap Karen dengan maksud terselubung.
"Apa?" Tanya Cessa ingin tahu.
Karen pun menurunkan tubuh Cessa dan kembali seperti posisi awal tadi. Tanpa peringatan Karen langsung saja membungkam bibir kecil dan manis Cessa dengan bibirnya.
Sesekali Cessa memukuli dada Karen, tapi itu seperti rangsangan untuk Karen terus melakukan aksinya. Karen melepaskan pengutannya yang brutal itu dan memandang bibir Cessa yang tadinya tak berwarna kini memerah karna ulahnya dan sedikit basah.
Karen yang tampaknya semakin memanas melihat bibir Cessa yang masih mengodanya pun melakukannya lagi. Bahkan Karen naik ke atas tubuh Cessa dan mengekungnya dengan bibir yang masih saling bersentuhan.
Cessa meremas baju Karen karna aksi Karen sangat sangat berbahaya menurutnya, Cessa takutnya Karen tidak bisa menahan dirinya dan melanjutkan aksi nakalnya itu.
Perlahan tapi pasti Karen meyakinkan Cessa agar menikmati permainannya dengan mengelus rambut Cessa hingga pipinya. Mengambil kedua tangan Cessa dan meletkannya di dadanya. Dan perlahan pun Cessa menikmati ajakkan Karen itu. Karen senang bahkan sangat senang.
Tok tok tok..
Dengn cepat Cessa mencubit lengan Karen dan Karen membuka matanya dan menghentikan aksinya. Karen bangkit dari tubuh Cessa dan Cessa memegangi dadanya yang dag dig dug tak karuan karna Karen.
Karen membukakan pintu dan sudah ada dua anak buahnya disana salah satu anak buahnya menyerahkan gawai pada Karen yang memperlihatkan pencarian Zino di Amerika, sayangnya informasi terakhir Zino hanya terlihat di bandara san setelah itu tidak ada yang tahu di mana keberadaannya, sedangkan Lilen, Lilen kini sudah pulang ke apartemennya dalam kondisi baik baik saja setelah berpesta bersama teman temannya.
__ADS_1
"Pergilah dan terus cari, dia pasti meninggalkan jejak lainnya." Ucap Karen dan kedua anak buahnya itu pergi dari hadapannya.
Karen menutup pintunya dan malah melamun menghadap jendela di depannya. Cessa melihat perubahan Sikap Karen setelah menerima gawai itu, pasti di gawai itu ada berita bari dari anak buahnya dan sepertinya itu sekarang menjadi pikiran Karen.
Cessa bangkit dari tempat tidur dan menghampiri Karen di depan pintu kamar tersebut. Cessa meraih tangan Karen dan Karen terperanjak terkejut.
"Kamu tidak apa apakan..?" Cessa takut Karen akan kembali stres dengan berita dari anak buahnya dan menyakiti dirinya sendiri lagi seperti kemarin.
Karen tersenyum ke arah Cessa dan kembali murung dan terus memikirkan sesuatu dan hanya dirinya yag tahu. Cessa bingung harus melakukan apa untuk menghibur Karen agar tidak larut dalam pikirannya.
"Karen.. Kita makan dulu yah.." Ajak Cessa hanya hal itu yang terlintas di otaknya.
"Yakin gak mau makan sama aku..?" Tanya Cessa lagi tapi karen malah mengambil kacamatanya dan mengenakannya.
"Kamu makan aja sendiri dulu ya.. Aku masih ada kerjaan." Ucap Karen sama sekali tidak menoleh pada Cessa.
Cessa sedikit kesal dengan Karen yang memperlakukannya seperti itu, tadi Karen sangat menyayanginya dan mengungkapkan cintanya tapi kini menoleh saja tidak padanya. Cessa pun memilih berlalu dari hadapan Karen dan keluar dari kamarnya.
Satu menit, dua menit, tiga menit, empat menit, lima menit. Brakkkk.. Pintu kamar Karen banting dengan kerasnya nafasnya memburu. Dengan segera Karen berlari menuruni tangga. Di lihatnya sosok wanita yang baru saja ia cari kini sedang berdiri di ruang tengah hotel tersebut.
Bruggg..
Karen memeluk Cessa dengan erat dan posesifnya. Cessa tentu terkejut tapi ia tahu itu pasti laki laki yang mengabaikannya tadi.
"Sayang..." Lirih Karen dari balik punggung Cessa.
"Apa? Tadi katanya sibuk,.. masih ada kerjaan, suruh aku makan sendiri.. Ya udah aku bawa Lorent aja makan sama aku. Aku cuma mau di temani makan. Untung Lorent mau. Ya kan Rent..." Lorent membulatkan matanya tak percaya nyonya kecil ini sedang menggali kuburan sempit untuknya dengan mengatakan demikian.
Karen kini melepaskan tubuhnya dari tubuh Cessa tapi tidak dengan tangannya yang tetap merangkul pinggang ramping Cessa dan berjalan kearah Lorent yang mematung tak tahu harus apa.
__ADS_1
Karen..