Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 90


__ADS_3

Cessa merasa tak enak badan karna di ceburkan ke dalam kolam di tengah hari yang terik. Setelah memastikan Stev tidak kembali lagi, ia pun membaringkan tubuhnya di tempat tidur itu.


Dengan segera Cessa terlelap dalam tidurnya.


"Setelah ini semua kamu lakukan, kamu siapkan senjataku ya.. Semuanya seperti apa yang aku pernah katakan padamu, aku ingin senjata baru dan perlengkapan yang baru oke.. Aku akan kembali ke kamar dan mengeceknya..." Stev berlalu dengan kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celana panjangnya.


Knop pinyu kamar di putar, Cessa tidak mengingat apa apa karna sudah terlelap sangat dalam tidurnya. Stev pun masuk dan melihat Cessa sudah terlelap dalam tidurnya.


"Wah senyaman itu dia tidur..." Stev berkacak pinggang melihat Cessa yang dengan imutnya meringkuk di balik selimutnya.


Setelah meneliti Stev menemukan kejanggalan pada Cessa yang terlepa di tempat tidur, Stev pun maju dan memeriksakan keadaan Cessa.


Stev perhatikan Cessa sedikit bergetar dari balik selimut tebal itu. Stev mengulurkan tangannya dan menempelkannya pada kening Cessa.


"Dia Demam rupanya.." Stev yakin dengan itu karna panas di kening Cessa begitu terasa.


Stev mengambil tempat persedian obatnya, ia mengambil parasetamol tablet yang akan ia berikan pada Cessa.


"Tunggu.. Dia tertidur... Bagaimana minumnya..?" Stev melihat obat yang ia pegang ini.


Akhirnya Stev memasukan obat itu ke dalam mulutnya sendiri dan menghancurkanya, setelah yakin obat itu hancur, Stev mendekati Cessa dan menyatukan bibirnya dengan Cessa dan memasukan obatnya ke dalam mulut Cessa.


Cessa hampir tersadar, tapi dengan cepat Stev memeluknya dan mengelus elus rambut Cessa dan Cesaa terlelap lagi.


"Telanlah obatnya..." Ucap Stev perlahan di telinga Cessa.


Karna sudah terlanjur masuk dan berbaring bersama Cessa maka Stev tetap melanjutkannya dan bahkan masuk ke dalam selimut Cessa. Otomatis Stev melihat tubuh Cessa di balik selimut itu bahkan menyentuhnya.


Stev menyalurkan hangat tubuhnya Untuk Cessa dan tampa ragu memeluk tubuh Bayi besar itu.

__ADS_1


Menit berlalu menjadi Jam. Sudah 2 jam lebih Stev dan Cessa di dalam selimut itu. Berkat obat yang di berikan Stev demam Cessa Lebih cepat turun dan mereda.


Merasa sudah baikan Cessa membuka matanya. Alangkah terkejutnya melihat Stev di sampingnya dengan bertelanjang dada dan lebih parahnya lagi Stev memeluknya.


"Oohh tidak.." Sekuat tenaga Cessa melepaskan tubuhnya dari dekapan Stev.


Setelah berusaha susah payah, Cessa akhirnya lepas juga. Ia pun menghembuskan nafas leganya.


"Puas kamu sudah di peluk aku..?" Suara magnetis Stev terdengar jelas di telinga Cessa. Suara bass yang halus dan lembut di telinga Cessa itu bagaikan sambaran petir.


"Apa kamu terganggu aku bangun..?" Cessa baru kali ini beebicara dengan Stev lebih dari tiga kata.


"Gak juga.. Aku terganggu karna pelukku di lepas..." Stev juga bagun dan menatap Cessa dengan tatapan tajamnya.


"Maaf..." Mungkin itu kata yang pas.


Stev bangun dengan dada yang polos tanpa pengahalang, pinggang terlihat jelas, tatonya semakin jelas di lihat dari dekat seperti jarak Cessa dan Stev.


"Untuk apa melihat aku kalau kamu juga dalam kondisi yang sama..?" Stev memandangi tubuh Cessa dari rambut sampai bagian yang di tutupi selimut.


Sontak Cessa juga mengikuti arah pandang Stev dan baru Cessa ingat kalau tadi sebelum tertidur Cessa tidak mengenakan baju.


"Ahh..?" Dengan cepat Cessa menarik selimut yang ada dan menutupi tubuhnya yang sudah terlambat itu.


"Hahahaha..." Stev tertawa puas.


"Sudahlah aku haus..." Stev bangkit dan pergi meninggalkan Cessa yang masih dag dig dug.


"Wanita ini benar benar..." Stev keluar dari kamarnya hanya dengan celana panjangnya.

__ADS_1


***


"Karen kenapa kita belum menyerang... Kenapa kamu menuju tempat yang jauh jauh ini... Bukankah kamu sudah mendapat titik koordinat Stev dan Cessa..?" Protes Zino dengan rencana Karen.


"Zino kamu pernah dengarkan kalau Stev si cenayang...? Aku yakin Stev sudah tahu kalau kita akan menyerannya dalam waktu 24 jam ini. Maka pasti ia sudah bersiap siap. Jika kita mengulur waktu dulu dan menyerang tempat yang lebih jauh maka anak buah Stev akan kewahan, apalagi dengan jumblah anak buah kita yang aku rasa lebih banyak, kita bisa menyusup dengan mudah... Dan itu semua perlu kesabaran Zi.." Karen memberi pemahaman pada Zino yang sepertinya sudah tidak sabar ingin menyelamatkan Cessa.


Karen tahu itu juga tujuaannya tapi Karen jugal harus bisa mengatur strategi yang pas agar bisa menambah angka kemenangan mereka.


Zino menghela nafas, memang yang di katakan Karen ada benarnya juga, tapi bila jujur sebenarnya ada yang lebih di takutkan Zino. Ia takut, Stev akan melakukan sesuatu pada Cessanya, sudah cukup Zino bersaing dengan Karen jangan sampai bertambah saingan lagi. Dab semua pemikiran itu menganggu Zino sehingga tidak bisa berpikir dengan jernih.


Karen bukannya tidak memikirkan itu, ia memikirkannya juga tapi yang lebih penting menurutnya adalah keselamatan Cessa, mau ia di sentuh atau di lecehkan Stev ia tak peduli, ia akan tetap menerima Cessa apa pun yang terjadi.


***


"Makan malammu..." Stev mengantarkan piring berisi roti yang sudah di beri selai strowberi.


"Jangan kira aku akan memberi kamu makan seperti Karen dan Zino memanjakan kamu, ini aku Stev Paul. Aku berbeda dengan mereka." Stev berbicara dengan nada datarnya.


Tanpa menjawab pun Cessa menerimanya dan memakannya tanpa suara. Stev pun begitu ia mengambil bagiannya dan memakannya dalam diam.


Tidak ada suara dari keduanya meski satu kamar, tidak seperti Karen dan Zino yang pasti banyak bacotnya saat makan.


Cessa sangat merindukan keduanya. Karna sudah terbiasa saat makan keributan yang menambah lauk pauk di meja makan. Tak terasa Cessa tersenyum saat menyantap makanannya membayangkan betaa lucunya Karen dan Zino di meja makan.


Stev melihat Cessa yang tersenyum saat makan. Senyum Cessa tak pernah di lihat Stev. Senyum Cessa rupanya sangat cantik. Baru kali ini Stev melihat senyum secantik itu.


"Lumayan cantik rupanya. Pantas saja Zino dan Karen memperebutkannya.. Berarti aku juga boleh merebutnya..." Stev sepertinya juga tertarik pada Cessa, selain senyum cantik Cessa sepertinya masih banyak yang tidak di ketahui Stev dan itu semakin membuat Stev ingin tahu tentang Cessa.


Stev mengamati Cessa hingga lupa akan makanannya.

__ADS_1


Sedangkan Cessa hanya terus fokus dengan pikirannya. Jauh dari tempat Stev dan Cessa, orang orang yang sedang di pikirkan Cessa juga sedang makan malam ala kadarnya.


Off dulu kawan.. Seru gak nih.. Koment donk... Dan jangan lupa Like ya..


__ADS_2