Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 52


__ADS_3

"Siapa namanya Karen...?" Cessa kesal Karen tak memberitahukan nama asli dari Ina. "Karen... kenapa...?" Cessa kembali menguncang guncangkan Karen


"Itu... aku tidak bisa memberitahukannya padamu." Ucap Karen dengan wajah tak enak pada Cessa yang sudah sangat penasaran.


"Ooowwww Karen... Jahatnya kamu.." Cessa merajuk dan melipat tangannya.


"Cessa.. Merajukkah? Hehehe maaf ini belum saatnya kamu tahu. Nanti ya.. Bagaimana kalau aku beri tahu tentang wanita wanitaku yang sedang hamil itu?" Tawar Karen agar Cessa tak merajuk seperti ini padanya.


"Apa serunya Karen... Kamu juga pernah bercerita tentang itu.. Aku tidak tertarik" Cessa sepertinya tidak tertarik pada cerita baru yang Karen tawarkan.


"Tadi pagi saat aku menunggu kamu bersiap siap dengan makanan makanan ini, Mommy menghubungiku, dia bilang salah satu wanita itu sudah melahirkan, anaknya laki laki.." Seketika Cessa menoleh dengan cepat pada Karen.


"Benarkah???" Cessa amat terkejut dan membulatkan matanya.


"Iya... Benar.. Laki laki.. Beratnya hanya 2 kg dan tingginya 50 cm." Ucap Karen lagi.


"Lalu apa kamu tidak ingin melihatnya? Apa kamu tidak ingin menjenguknya? Apa anak itu sehat sehat saja?" Tadinya tak tertarik tapi setelah mendengar cerita Karen tentang anak bayi itu Cessa malah jadi sangat penasaran dan berbagai pertanyaan bertubi tubi pada Karen.


"Hei tadi bilangnya tidak tertarik... Katanya aku sudah pernah ceritakan.." Ledek Karen.


"Iya aku kira kamu hanya akan menceritakan bagaimana kamu membuatnya bersama mereka, ternyata sudah keluar toh.. Kan aku senang dengarnya. Pasti dia imut sekali kan..?"


"Iya dia imut.. Tapi untuk apa juga aku menceritakkan bagaimana aku membuatnya jika aku bisa saja mempraktekkannya denganmu. Dan untuk apa kamu senang jika kita belum tahu itu anakku atau bukan Cessa..." Ucap Karen lagi sambil menyenggol nyenggol Cessa.


"Ooohh.. Hah?" Cessa awalnya mangut mangut tapi setelahnya ia terkejut.


"Hahahhaahahahaa..." Karen tertawa dengan kerasnya.


"Kenapa? Mau coba? Dua looo.. Kalau baru kamu.. Ha.. sebentar juga jadi. Aaaaaaaaaaaa" Cessa tiba tiba mencubit dada Karen dengan kerasnya dan membuat Karen mengerang sakit.


"Bodoh... Itu sudah dua masih kurangkah? Dan kamu mau menjadikan aku yang ketiga?" Kini Cessa malah nusuk Pinggang Karen dengan keras dan membuat Karen tertawa kegelian dan kesakitan secara bersamaan.

__ADS_1


"Ampun.... Ampun... Haaaaaa" Anak buah Karen sampai sampai kesulitan menahan tawanya melihat intraksi kedua orang di depan mereka ini.


"Ahahhh... ahahhhhh haa..." Suara nafas Karen yang terbaring tak berdaya di atas karpet itu di buat Cessa dengan jari kecilnya.


Cessa kembali meneguk air minumnya dan Karen bangkit dari baringnya dan manatap Cessa yang tengah minum.


"Apa liat liat... Mau lagi..?" Cessa menoleh ke arah Karen yang masih menatapnya dan setelah itu Karen tertawa lagi dengan sendirinya.


"Hahaha.. Kenapa kamu bilang kamu jadi yang ketiga?" Tanya Karen memiringkan kepalanya.


"Ya...... Kan sudah ada dua wanitamu yang mengandung anakmu, terus kalau kamu tambah aku, bukankah itu artinya aku yang ketiga?" ucap Cessa sepertinya cerita mereka kini sudah melantur kemana mana.


"Astaga sayang... Kalau kamu yang hamil, kita langsung masuk Altar setelah dari atas ranjang. Dan aku akan jadikan kamu ratuku satu satunya." Ucap Karen dengan wajah yang berseri seri membayangkan itu semua.


"Iisss... Lalu kadua wanitamu itu bagaimana? Kamu akan menelantarkan mereka dan anak anaknya begitu saja?" Cessa mengeleng gelengkan kepalanya.


"Ya seperti yang aku bilang tadi, aku juga belum tahu apa itu anakku atau bukan.. Jika itu anakku, kita akan merawatnya jika bukan kita akan tetap membiayainya." Ucap Karen dengan wajahnya yang kalem lagi.


"Iya kita.. Karna kamu akan jadi milikku." Karen tersenyum sangat lebar kali ini.


"Iss.. Aku mah gak mau punya suami mafia, yang kemana mana itu gak bisa jauh dari wanita, minum minuman, rokok sana sini, iiihh gak.." Cessa melempar daun yang baru ia petik dari pohon kecil di dekatnya ke arah wajah Karen dan hanya di tertawakan Karen.


"Hei aku bukan mafia lagi setelah misi ini selesai, jika kamu siap maka kita akan menikah, memiliki anak, aku sangat ingin anak perempuan dan setelah itu anak laki laki. Dan kita hingga tua bersama. Kita memiliki cucu dan cicit.. Waahhh indah bukan." Karen sangar bersemangat dan penuh penekanan di setiap impiannya itu.


"Iss.." Cessa masih mengelengkan kepalanya.


"Kenapa? Apa salah jika aku memiliki cita cita yang indah seperti itu. Selama ini aku tidak pernah memiliki cita cita yang indah, satu satunya cita cita indahku yang tercapai adalah bangun dari kursi roda dan menjadi lebih berguna. Tapi cita cita itu memerlukan pengorbanan dari orang terdekatku." Wajah Karen berubah sedih lagi. Cessa merasa bersalah melihat ekspresi Karen yang berubah sedih itu. Apa salahnya juga Karen bercita cita yang indah seperti itu.


Cessa memegangi bahu Karen dan Karen menolehkan kepalanya ke arah Cessa. "Iyalah.. Tidak salah kok.. Aku tidak melarangnya." Cessa tersenyum menghibur Karen.


"Jadi boleh aku membayangkan kita dan anak anak kita...!?" Wajah Karen sangat antusias dan mungkin terlihat konyol tapi tetap tampan dengan lesung pipitnya juga menambah kesan tampannya.

__ADS_1


Cessa menghela nafasnya seakan tak sanggup menjawab tapi akhirnya Cessa mengangguk.


"Yes... Kita anak memiliki anak yang cantik dan tampan, anak perempuan dan laki lakiku akan memiliki lesung piput sepertiku.. Aaa.. Indahnya." Karen menususk nusuk lesung pipitnya sendiri sangkin senangnya.


Cessa pun sama, dia pun terhibur melihat tingkah konyol lelaki di sampingnya ini.


"Karen.. Boleh aku sentuh juga lesung pipitmu itu.. Aku dulu sangat iri pada temanku yang memiliki lesung pipit, aku ingin tahu seperti apa sih rasanya" Cessa memiringkan kepalanya dan terus menatap Lesung pipit Karen yang ia tusuk tusuk tadi.


"Baiklah nanti aku akan membagi lesung pipitku ini padamu. Aku janji, tapi untuk menunggu itu kamu harus bersabar ya.. Silahkan kamu sentuh, agar kamu tahu seperti apa itu lesung pipitku.." Karen menghadap Cessa dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Cessa dan tetap tersenyum lebar membuat lesung pipitnya semakin dalam.


Cessa dengan kedua jaring telunjuknya mulai menyentuh pipi Karen itu dan menusuknya dengan perlahan.


Sedangkan Karen terus memandang Cessa yang sibuk dengan lesung pipitnya.


"Suka? Nanti akanku bagi.. Di sini" Karen juga menusuk pipi Cessa di kiri dan kanannya dengan jari telunjuknya.


Keduanya tertawa bersama sama. Ini adalah hari terbaik untuk Karen, bisa menikmati hari yang indah ini bersama Cessa. Hatinya merasa tenang dan nyaman melihat senyum dan tawa indah Cessa mengalihkan dunia Karen. Dan tempat ini, Karen melihat sekelilingnya.


"Cessa ini tempat terindah yang pernah aku datangi. Aku harap bisa tinggal lebih lama di sini..." Ucap Karen tiba tiba menatap pohon pohon di atasnya.


"Tidak ada yang melarangmu kok.." Ucap Cessa sambil mengigit apel di tangannya.


Karen melihat hal itu dan ingin mengigit apel yang sama di tangan Cessa itu.


Krappp..


Karen mengigit apel itu tampa minta izin pada Cessa.


Readers... Author mau tanya nih.. Mau lanjut dulu cerita Karen dan Cessa yang lagi piknik dan berbagai cerita menarik Karen atau mau lanjut Zino yang masih galau dan menyusun rencana terbaiknya? Readers mau yang mana.. Silahkan koment... Yang paling banyak komenannya itu yang akan author buat. Ayo silahkan pilih Zino atau Karen... Author tunggu sampai lusa ya.. Dan satu hari besok author libur di sini..


Author mau lanjut kisah di sebalah dulu, kalau mau mampir boleh, judulnya Aku Yang Di Simpan. Inget author tunggu lo... selama author gak tahu mana yang banyak di minta maka author akan tetap tunggu baru kalau udah ada hasilnya baru kita bikin babnya ya.. silahakan koment...

__ADS_1


__ADS_2