
Cessa dan Zino pun begitu. Cessa malam ini sangat nyaman di pelukka Zino.
Sedangkan Zino tak bisa tidur nyenyak malam ini. Ia hanya menatapi Cessa lamat lamat.
"Aku sangat cinta kamu.. Gak akan aku biarkan seseorang ganggu hubungan kita. Bahkan dari masalalu tidak akan bisa.." Lirih Zino dan mengecup kening Cessa dengan lembut.
"Ini cuma beberapa langkah lagi.. Setelah itu kita akan bahagia sayang. Kamu dan Karsa.. Kita akan bersama.." Zino memejamkan matanya perlahan.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 02.34 barulah Zino bisa ikut terlelap.
.
.
.
.
.
Pagi menyapa semua orang di penjuru dunia.
Lilen bangun dan melihat Jake masih memeluknya.
"Jake.." Lirih Lilen dan menyentuh bibir Jake dengan jari telunjuknya.
Cup.
Tiba tiba bibir yang di sentuh itu malah melu**at bibir Lilen.
"Eeemmpphh.." Lilen tentu terkejut.
Jake melepas pengutannya. "Selamat pagi.." Sapanya lembut.
__ADS_1
"Ja.. Jake..?" Lilen masih membulatkan matanya.
"Apa..? Gak ucapakan selamat pagi untuk aku..?" Goda Jake.
"Apa aku ganggu kamu..?" Lilen menggigit bibirnya.
"Gak kok. Aku dari tadi sudah bangun.. Cuma pejam aja.." Jake menaikkan kedua alisnya bersamaan berkali kali.
"A.. Apa..?" pipi Lilen kembali merona.
"Sudah.. Gak usah malu malu gitu.. Detak jantung kamu juga gak nentu tuh.. Kasian Baby nanti.." Jake langsung mengelus perut Lilen.
Ini kali pertama Lilen merasa ada yang mengelus perutnya yang berisikan kehidupan baru.
Lilen rasanya sngat terharu merasakan sentuhan dari Jake. Matanya sudah berkaca kaca.
Jake juga luluh melihatnya. Tak ia sanka sentuhan kecil seperti itu sangat berguna untuk seorang wanita yang tengah mengandung.
"Kenapa..?" Bukan hanya itu Jake menyatukan kening mereka.
Lilen tak menjawab ia hanya menggeleng.
"Apa yang kamu khawatirkan..? Aku di sini dan..." Jake menatap Lilen lamat lamat.
"Aku cinta kamu.." Lilen menutup matanya mendengar pengakuan Jake itu.
"Aku dan Baby ada di sampingmu.." Jake menyelipkan anak rambut Lilen di telinganya.
"Jake.." Lilen membuka matanya dan di suguhkan dengan tatapan lembut penuh cinta Jake.
"Tapi.." Lilen menatap arah lain.
"Gak ada yang perlu kamu takutkan.. Kamu dan Baby itu punya aku.."
__ADS_1
"Dari mana kamu tahu..?" Lilen tampak tak percaya yang di katakan Jake.
"Aku rasa.. Aku merasakannya.." Ucapan yang sulit di cerna Lilen.
"Maksudnya..?"
"Malam itu.. Kamu minta mantel kamu itu biar wangi lagi, subuhnya aku bangun dan antar lagi mantel kamu.. Sampai di kamar.. Aku... Aku tergoda elus perut kamu.. Aku coba elus.. Itu pertama kalinya aku elus perut wanita yang tengah mengandung. Ada rasa yang gak bisa aku jelaskan dengan kata kata. Rasanya sangat nyaman dan... Mau lagi lagi dan lagi.. Tapi karna suhuh itu aku ada tugas lain.. Aku stop dulu elusnya.. Dari tadi aku elus dia.. Aku suka.. Dia rasanya makin besar ya.." Mata Lilen tak bisa menahan air mata yang tertampung di pelupuk matanya.
"Ck.. Kok nangis..?!" Jake segera menghapus air mata Lilen.
"Jake.." Lilen mulai menangis tersedu sedu.
"Ck.. Sudah sayang.." Jake menghibur Lilen.
.
.
.
.
.
Lilen sudah berhenti menangis karna Jake selalu menghiburnya.
"Permisi tuan mari kita periksa dulu ya.." Lilen pun turun dari bangsal Jake membiarkan perawat dan dokter itu memeriksakan keadaan Jake.
"Permisi ya tuan.." Dokter itu memegangi lengan Jake dan membuka perban luka Jake perlahan.
Lilen menatap sinis perawat itu. Perawat itu juga nakal dengan mencuri pandangan pada Jake.
Lilen..
__ADS_1