Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 145


__ADS_3

Jake memandang Lilen yang khawatir bukan main padanya. Senang rasanya bisa melihat Lilen.


"Aaww.." Lilen menggerakan lengan Jake dan Jake merasakan sakit dari dalam tulang tulangnya.


"Sakitkah..?" Lilen panik melihat Jake kesakittan.


"Ya.. Sakit.." Jake meringis. Tak lama datang perawat di bawa Rena dan Zino.


"Permisi Nona.." Perawat cantik berambut pirang dan berkulit putih serta mata biru indah itu membawa semua perlengkapan lengkapnya.


"Jake.. Apa rasa sakit di dalam, di tulangnya..?" Dengan keahliannya Slink menyiapkan peralatannya.


"Aku sudah bilang hati hati.. Kamu pasti manjat pohon di belakang itux dan jatuh kan...?" Ucap Slink sambil membersihkan luka Jake.


"Ya.. Gitu lah.." Jake malu mengakuinya.


"Heeemm" Slink menggelengkan kepalanya.


Lilen bangkit perlahan. Mendengar pembicaraan Jake dan gadis cantik itu membuat hatinya teriris.


Jake juga melihat dengan jelas Lilen sakit hati. Jake juga merasa tak enak hati. Tanpa pikir panjang Jake memegangi tangan Lilen.


Lilen terkejut dan berbalik. "Duduk di samping aku.." Pintanya.

__ADS_1


"Kenapa..?" Lilen ingin meluapkan amarahnya.


"Temani aku.. Aku.." Jake ragu mengatakannya.


"Lilen.. Temani Jake.. Kasian dia lagi sakit itu.." Saran Cessa.


"Ck.." Lilen rasanya ingin menangis.


"Ayo pergi.." Bisik Zino pada Cessa.


"Ya.." Cessa tersenyum nakal juga. Sepertinya mereka berdua adalah dalang dari semua ini.


Lilen mau tak mau duduk di samping Jake. Jake tersenyum pada Lilen. Setelah itu mungkin karna gemas Jake mengacak rambut Lilen dengan tangannya yang lain.


"Jake.." Lirih Lilen dan matanya sudah berkaca kaca.


"Ya.. Aku di sini.." Jake mengusap lagi rambut Lilen.


Buugghh..


Lilen memeluk Jake. "Kamu terlalu nakal.." Rengeknya di dalam pelukkan Jake.


Slink ingin segera menyelesaikan tugasnya ini. Ia hanya di minta Zino untuk memanas manasi Lilen dan lihat apa yang akan terjadi pada keduanya.

__ADS_1


Tadi saat di tinggalkan Lilen dan anak buah itu, Cessa mencari perawat, saat itu juga ia bertemu dengan Zino. Cessa menceritakan pada Zino juga apa yang terjadi ada Jake. Zino langsung mendapat ide bagus untuk mengerjai Jake dan mendekatkan Lilen pada Jake.


Zino meminta Slink pura pura perhatian pada Jake di hadapan Lilen nanti, Zino yakin Lilen pasti marah karna cemburu pada Slink dan Jake. Dan ternyata benar, Lilen benar benar marah pada Jake dan ingin memarahi Jake lagi.


Jake menahannya dan itu yang paling menyenangkan dari rencana ini. Zino tak henti hentinya tersenyum lebar melihat Lilen yang kini di pelukkan Jake. Zino menyenggol nyenggol Cessa.


"Kamu liatkan.. Aku yakin seratus persen itu anak Jake.." Cessa memutar matanya malah mendengar Jika Zino membahas masalah itu.


"Sudah aaahhh aku mau sama Mommy dan Karsa aja.." Cessa berlalu dari hadapan Zino.


"Ikut donk.." Zino mengikut Cessa dari belakang dengan perasaan yang sangat senang.


Sementara itu Lilen masih nyaman di peukkan Jake. Wangi yang menenangkannya, wangi itu sangat ia rindukan.


"Tuan ini sudah selesai.. Saya permisi dulu.." Slink segera berlalu setelah mengobati Jake. Membalut lukanya dan menepatkan plastik khusus di bahu Jake yang di nyatakan patah.


"Nanti harus di gips untuk perawatan lebihnya.. Eemm permisi.." Slink ingin segera menginggalkan tempat itu.


Lilen masih nyaman dan tak peduli. Ia hanya ingin di peluk Jake saja. Jake terus mengelis punggung Lilen. Jujur ia juga mengkhawatirkan Lilen, nyaman dan tenng melihat Lilen di sampingnya bahkam mengkhawatirkannya.


"Apa kamu sudah makan siang..?" Jake mengusap puncak kepala Lilen.


Lilen..

__ADS_1


__ADS_2