
Karen sangat senang ketika Zino malah membantunya dan juga ikut melawan musuh yang meresahkan itu.
Keduanya sangat kompak dalam mengatur peyerangan. "Zino... Aku tidak menyangka kegesitan kelompokmu sangat di ancungi jempol juga..." Ungkap Karen, kini penyerangan Karem dan Zino lebih dominan dari Serangan lawan, dan di jamin sebentar lagi lawanmya itu pasti akan mundur.
"Iya... Lihat dulu bosnya..." Bangga Zino besar kepala di puji Karen.
"Haaallaaahh... Baru di puji sedikit aja sudah sombong." Soroh Karen lagi.
"Suka hati aku..." Zino pun berlalu memilih masuk ke dalam rumah lagi karna masalah dari luar Rumah sudah selesai dan tinggal menunggu.
"Heii.. Mau kemana kamu...?" panggil Karen yang melihat Zino berlalu.
"Minta hadia sama Cessa... Cium mungkin..." Zino terus melangkah dan hanya menjawab sebisanya tanpa menoleh pada Karen.
"Iisss.. Kamu...!!" Karen berlari juga mengejar Zino. Karen tak terima jika Zino menyentuh Cessanya.
"Hei adik ipar tunggu..." Zino mendengar suara Karen mengikutinya juga maka Zino juga berlari masuk ke dalam rumah.
"Aku duluan... " Teriak Zino juga semakin membuat Karen mempercepat langkahnya.
"Ooooyyy adik ipar..." Karen dan Zino masuk ke dalam Rumah itu dan sampaj di ruangan tengah hampir bersamaan, Karen hanya berbeda beberapa detik dengan Karen.
Semua pasang mata di ruangan itu melihatnya, Cessa tersenyum melihat rupanya keduanya sangat cepat sekali akrab.
Zino dan Karen malah main tangkap tangkapan, Zino ingin pergi menemui Cessa tapi Karen malah menahannya.
"Karen kamu ini kenapa...? Aku ingin menemui Cessa dulu, dari tadi aku belum bicara sepatah kata pun..." Zino memberontak dari rangkulan tangan Karen di lehernya.
"Heii kamu gak liat apa? Cessa lagi bicara sama temannya... Biarlah dulu..." Bujuk Karen dengan maksud yang lain.
"Lepas...!!!!" Rengek Zino.
"Rupanya mereka berdua sangat dekat bahkan dalam hitungan menit saja, pasti Zino sangat senang mendapat sosok kakak lagi, dan Karen juga merasa lega telah menjalankan pesan terakhir dari Zina..." Senyum Cessa terus timbul melihat kedua laki laki yang selalu ia cap aneh itu. Rupanya mereka sangat cocok dengn segala keanehan mereka.
Lilen mengamati kakaknya dan Zino yang saling mengganggu satu sama lain itu. Lilen masih tidak mengetahui kebenarannya karna Karen hanya menyimpannya sendiri.
__ADS_1
Lilen menatap lagi Cessa yang tengah menertawakan kedua laki laki itu, Lilen masih tidak percaya jika wanita ini sanggup menaklukkan dua laki laki sekaligus.
Karen baru menangkap sosok lain yang juag ada du ruangan itu. "Lilen.." Tangan Karen mulai lemah dan Zino langsung melepaskan dirinya dan berlari ke arah Cessa dan Rindu.
"Kakak..." Lilen menatap Karen juga dengan Senyum yang masih indah di bibirnya.
"Ooooooooooooowwww... Adikku akan memberikan aku keponakankah??? Aku bisa melihatnya dengan jelas.." Karen berjalan menuju Lilen dan memeluk adiknya itu.
"Maksudnya..?" Lilen tidak tahu kalau Karen melihat video panas yang Zino kirimkan, sementara itu Zino mulai tidak dapat mengatakan apa apa dan hanya mengaruk garuk kepalanya.
"Hei... Aku kakakmu, tentu saja aku tahu semuanya.. Kamu dan kamu sudah... Aw.." Karen menunjuk Lilen dan Zini bergantian dan menutup mulutnya seolah tak percaya. Tapi senyum nakalnya tetap ada untuk menggoda Zino.
"Sudah Karen..." potong Cessa tak ingin mendengarkan lebih banyak lagi.
"Iya kenapa sayang...?" Zino membulatkan matanya mendengar Karen memanggil Cessa dengan sebutan Sayang.
"Sayang sayang..." Zino meraih tangan Cessa dan mengecupnya di depan semuanya lagi.
"Hei..." Karen tak terima melihatnya langsung menarik Zino menjauh dari Cessa.
"Tadi akur sekarang musuhan lagi.."
Tuk.. Tuk..
Cessa menjitak kening keduanya "Aaww.." sontak keduanya kesakitan bersamaan. Entah dari mana datangnya keberanian Cessa untuk menjitak mereka berdua, mungkin karna sudah biasa dengan perangai aneh keduanya.
"Sudah selesaikah yang di luar itu...?" Tanya Cessa setelah keduanya berhenti mengusap usap kening masing masing.
"Sudah..." Lorent masuk dengan bercak darah di bajunya dan ada beberapa luka kecil di wajahnya dan bahkan kacamatanya retak.
"Lorent.." Cessa terkejut melihat kondisi ayah dari anak yang Rindu kandung saat ini.
"Iya nyonya. Sudah selesai. Lawan sudah mundur dan tim kita semua aman tidak ada uang cedera serius." Ucap Lorent padahal dirinya sendiri cukup serius lukanya, terlihat darah baju Lorent sepetinya tak henti henti keluar dan semakin lama semakin membesarkan bekasnya di baju yang Lorent kenakan itu.
Rindu yang melihat Lorent dengan luka seperti itu bergetar dan takut seketika. Lorent mengerti Rindu pasti memiliki rasa khawatir melihatnya seperti itu. Maka Lorent mendekati Rindu dan mengecup kening Rindu
__ADS_1
"Aku tidak apa apa.. Eemm..." Lorent memegangi dagu Rindu dan terus tersenyum indah ke depan Rindu.
"Daddy gak apa apa nak.." Lorent kemudian mengelus elus perut Rindu dengan sangat lembut.
Sentuhan yang juga membuat Rindu merasa tenang dan mulai bernafas lega dan menganggukan kepalanya. Lorent melihatnya dan langsung menarik Rindu dalam pelukannya.
"Maaf ya... Aku harus obati dulu lukaku.. Kamu mau tunggu di sini atau imut bantu obati...?" Tanya Lorent masih dengan nada yang sama, begitu halus dan magnetis untuk Rindu.
"Cessa aku bantu Lorent dulu ya..." Cessa tersenyum melihat rupanya Rindu juga sangat mengkhwatirkan Lorent. Dan tentu saja Cessa setuju Rindu membantu Lorent untuk mengobati Lukanya.
Jake menghembuskan nafas kesalnya melihat Lorent dan Rindu yang sangat akur dan perhatian Lorent pada Rindu membuat hati Jake panas. Jake pun memilih untuk meninggalkan tempat itu. Lilen melihat kepergian Jake yang begitu saja. Lilen menatapnya dalam dalam. Entah apa yang di pikirkan Lilen ketika menatap punggung Jake.
Sementara itu Zino dan Karen mengangga melihat intraksi Rindu dan Lorent yang begitu mesra. Rindu dan Lorent sudah menutup pintunya, Zino dan Karen pun saling pandang satu sama lain. Masih dengan mulut mengangga dan sepertinya keduanya mendapat pemikiran yang sama.
Mata keduanya melihat ada serpihan kaca di lantai, mungkin karna dentuman bom membuat beberapa kaca di situ pecah. Karen dan Zino mengambilnya dan keduanya masing masing. Mengarahkan pecahan kaca itu ke lengan masing masing.
"Eeehhh..." Pekik Cessa melihat keduanya memegangi pecahan kaca.
"Apa..?" Tanya keduanya bersamaan.
"Itu mau ngapain...?" Pekik Cessa masih dengan nada yang sangat tinggi dan penuh tanya.
"Luka..." Masih bersamaan.
Perlahan otot wajah Cessa yang tadinya tengang melemas seketika mendengar jawaban keduanya.
"BODOH.......!!!" Cesaa menghentakan kakinya kesal.
"Siapa yang bodoh... Cuma mau sayang aja kok..." Karen sudah mulai menggoreskan kaca di lengannya dan tentu saja darah segar keluar.
Zino tak ingin kalah juga maka ia mengoreskan kaca juga di lengannya seperti Karen.
"Cessa aku luka... Bantu obati ya...!" Ucap Karen dan Zino bersamaan lagi.
Cessa menepuk keningnya tak mampu berkata kata apapun untuk keduanya.
__ADS_1
off dulu kawan..