
Bella datang dengan membawa anak bayi yang sepertinya baru saja lahir.
"Karen....!!!!" Tangisnya pecah juga. Karen adalah satu satunya anak Bella dan kini Karen malah akan meinggalkan Bella selama lamanya
"Hei anak bodoh.. Bangun, bangun.. Kenapa kamu malah duluankan Mommy hahhh... Kamu..." Bella tak mampu berucap lagi ia luruh dalam tangisnya.
"Karen..." Bella mengelus pipi mulus Karen yang bila tersenyum selalu ada lesung pipit menghiasi.
"Nak.. Kamu gak mau peluk Mommy kah..? Kamu gak kangen mommy lagi kah..? Mommy nangis nak..." Bella mengenggam tangan lembut dan sejuk Karen yang terlipat di dadanya.
"Maaf apa semua keluarga sudah hadir.. Kremasi akan segera kita lakukan." Seorang petugas datang.
"Gak... Anak aku baik baik aja, dia kuat..." Bella masih tak bisa menerima kenyataan Karen telah meninggalkannya.
"Nyonya..." Lorent menghampiri Bella.
"Lorent... lorent kamu tahu Karen kan, dia kuat kan.." Mencekram Lorent dengan erat.
"Ya Nyonya tuan Karen sangat kuat, dan sekarang tuan Karen tidak akan merasakan sakit apa pun lagi. Dia akan tenang di sana.." Kata kata bijak Lorent menyadarkan Bella.
"Kamu betul Lorent.. Karen gak akan sakit lagi." Bella mengelus kaki Karen yang terbalut kain putih.
"Dulu Karen sangat menderita dengan kakinya yang sulit bergerak. Dia sering menangis sendiri. Dia mau main bola. Dia mau lari maraton, dia mau main trampolin, tapi kakinya.. Ina... Ina beri kehidupan baru untuk Karen.. Ina juga mengorbankan nyawanya untuk Karen di detik detik terakhirnya. Mungkin sudah saatnya Karen menemui Ina." Senyum sedih timbul di bibir Bella.
Zino mendengar jelas apa yang di latakan Bella. Pasti yang di maksud Ina adalah Zina. Kembali Zino mengingat ucapan terakhir yang Karen ucapankan setelah terkena tembakan Stev.
"Aku berhasil kan jadi kakakmu.." Dengan tubuh tegak berdiri di depan Zino melindunginya dari peluru yang melesat cepat tak terlihat.
"Kenakan ini.. Aku sudah punya.." Karen menyerahkan baju anti pelurunya pada Zino.
"Ini milikmu.." Karen memberikan pistolnya pada Zino.
"Tidur denganku.." Karen meminta dengan sangat pada Zino.
"Karennnnn..." Teriak Zino pada Karen yang memeluknya saat tidur satu kamar.
"Misi mengganggu Adik.." Pertama kali bertemu dengan Karen dan Cessa di rumah yang Karen sewa.
"Karennn..!!!" Teriak Zino pada Karen yang jahilinya saat mendekati Cessa.
"Hei Zino... Aku merindukan kamu.." Karen langsung memeluk Zino dengan Erat. Itu kejadian beberapa waktu lalu sebelum mereka tidur bersama satu kamar.
"Aku mohon Zino aku mau peluk kamu dulu.. Jangan lepas..." Karen memejamkan matanya.
Semua kenangan itu bergulir di ingatan Zino. Semua waktu yang ia lewati bersama Karen.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrgggggggg!!" Zino menghantupkan kepalanya ke dinding beton itu.
__ADS_1
"Bodooooooohhh.. Bodoh..." Zino terus melakukannya hingga kepalanya mengeluarkan darah.
"Tuan Zino..." Jake menghentikan tuannya.
Bella mendengar nama Zino di ucapakan langsung berbalik.
"Kamu Zino..?" Mata Bella masih penuh dengan air mata.
"Ya nyonya itu tuan Zino. Saudara kembar Ina.." Lorent membantu Bella untuk bangkit dan mengambil bayi yang di gendong Bella sejak tadi.
"Zino..." Bella mendekati Zino.
"Maafkan aku..." Zino merasa bersalah pada Bella karna ia, Karen mengalami ini semua. Zino juga tak berhenti menangis hingga air matanya dan darah dari kepalanya bertemu menjadi satu.
"Zino..." Bella malah memeluk Zino dengan Erat.
Zino terkejut tentunya dengan hal ini tapi ia tetap membalas pelukkan Bella, bersama sama menumpahkan air mata untuk Karen.
Setelah puas menangis dengan Zino Bella melepas peluknya.
"Di.. Dimana yang namanya Cessa...?" Bella menatap orang orang di sekitanya, apalagi wanita wanita yang tak ia kenali selain Lilen.
Ada Rindu dan juga Cessa.
Yang paling terpuruk adalah Cessa dab Bella bisa menebaknya itu adalah wanita yang ia cari. Bahkan Cessa hanya fokus pada peti Karen dan tak mendengar ada yang memanggilnya. Air mata Cessa terus mengalir dari mata hingga pipi dan jatuh entah kemana.
"Cessa...??" Bella mendekati Cessa lagi.
"Hoooo...Cessa.. Karen sangat cinta kamu.." Bella menangis lagi di depan Cessa.
"Dia.. Dia ada hubungi aku dua hari yang lalu. Kata Karen entah kenapa dia kangen sama aku.. Padahal selama ini, Karen gak pernah hubungi aku duluan, selalu harus aku yang hubungi dia. Dia tanya kabar aku, dia tanya aku makan apa, dan dia cerita banyak hal. Dia cerita banyak hal bukan hal yang berbeda, dia cuma cerita tentang kamu... Wanita yang sangat dia cintai di dunia. Tapi aku gak paham maksud dia...? Dia bilang dia titipkan lesung pipitnya untuk kamu.. Aku gak paham Cessa..." berkali kali Bella mengeleng.
"Lesung pipit..?" Cessa menyentuh pipinya seperti yang pernah Karen lakukan adanya.
Cessa menusuk kedua pipi kiri dan kananya dengan jari agar membuntuk sebuah lekukan di pipi.
"Dulu Karen lakukan ini pada ku.. Dia bilang nanti lesung pipit akan ada di sini.." tangis Cessa pecah lagi.
"Mana Karen... Mana gak ada ini...???"
Entah karna terkejut atau karna apa, tapi anak bayi yang Lorent gendong tiba tiba mengangis juga.
Semua orang melihat ke arah Lorent dan bayi tersebut.
"Baby..?" Bella segera bangkit.
"Kenapa sayang..?" Bella mengendongnya.
__ADS_1
Bella membawa bayi itu ke dekat Cessa.
"Cessa... Ini anak Karen.." Bella tersenyum melihat bayi cantik itu.
"Bayi ini..? Sudah lahir.. Tapi Karen...?" Cessa tak bisa meneruskan kalimatnya.
"Apa perempuan..?" Cessa hanya menebaknya.
"Ya.. Cantik kan.." Bella juga senang melihat cucu cantiknya.
"Cantik...." Cessa menangis lagi dengan kencang.
Dengan sisa tenaganya Cessa berjalan lagi ke peti Karen.
"Karen.. Kamu mau anak perempuan kemarin.. Ini anakmu perempuan.. Liat dia cantik.... Karen...!" Cessa menguncang guncang Peti sebisanya.
"Cessa..." Zino mendekati Cessa dan berusaha menenangkan Cessa lagi yang kembali histeris.
"Zino kamu tahu, Karen sangat mau anak perempuan.. Dia mau anak pertamanya perempuan.. Dia mau punya yang cantik, dia bilang sama aku gitu... Dia mau anak perempuan Zino.." Cessa memukul mukul Zino yang manarik tangannya dari peti Karen.
"Karen.." Cessa berhasil di jauhkan dari peti Karen.
"Aku juga dengar itu Cessa, Karen bercita cita punya anak perempuan, entah itu dari kamu atau orang lain. Kata Karen itu cita cita terindahnya.." Sambung Lorent juga.
"Cessa.." Bella mendekati Cessa lagi.
"Heeemm.." Cessa tak sanggup.
"Karen minta kamu untuk merawat anak ini.." Ucap Bella.
"Apa..?" Cessa tiba tiba mengangkat kepalanya.
"Saat Karen menghubungi aku, aku sudah beritahu dia kalau wanita yang mengaku hamil anaknya sudah lahiran. Dan tinggal tinggu hasil tes. Karen bilang dia mau kamu yang rawat anaknya karna kamu cintanya... Dan ada yang lebih aku gak paham.. Kata Karen cuma kamu yang tahu nama yang dia siapkan untuk anak ini.. Makanya sampai sekarang bayi ini belum punya nama.." Bella memperlihatkan lagi wajah bayi yang lugu dan polos itu.
"Bayiku..." Cessa mengambil alih bayi kecil itu.
Cessa melihat lagi peti Karen. Ia bangkit dengan membawa bayinya.
"Karen.. Ini bayi kita.. Cantik looo.. Kamu minta aku janji di mobil karna dia kah? Ini dia.." Cessa memperlihatkan bayi itu pada Karen yang menutup mata.
"Saat di mobil kamu menanyakan apa aku ingat nama nama anak yang pernah kamu katakan sama aku.. Tentu aku ingat. Bayi ini perempuan sesuai mau kamu.. Dan sesuai permintaan kamu.. Bayi manis dan cantik ini namanya.. Karsa... Karsa Stone." nama yang pernah di ucapkan Karen pada Cessa.
"Benar kan Karen.." Cessa menatap lagi mata Karen yang tertutup.
"Baby Karsa.. Sayang.. Ini Daddy.. Hai Daddy.. I love you.. Miss you... Liat Daddy tampan kan.. Ya sayang ini Daddy kamu.." Cessa mengeluarkan tangan kecil Baby Karsa dan mengelus pipi Karen dengan jari bayi yang kecil kecil itu.
"Tuu.. Daddy.." Cessa terus mendekatkan wajah Karen dan wajah anaknya hingga pipi Baby Karsa dan pipi Karen bertemu.
__ADS_1
"I love you Dad.."
Off guys.. Sedih banget.. Off dulu.. Author nangis smpai idung tersumbat nihh.. Lanjut lagi besok ya...