
"Melawanmu???" Rindu terpekik kaget dengan ucapan Jake.
"Hehehe bukan malawanku, tapi aku akan mengajarimu cara mempertahankan diri saat ada yang menyerang, atau membela dirimu sendiri, ayo kita ke tempat latihanku." Jake bangkit dan membawa Rindu ke suatu tempat.
Kini keduanya berada di dalam ruangan, di ruangan itu di tengahnya sudah tergerai matras berwarna hitam. Rindu dan Jake sudah berganti pakaian dengan pakaian khusus latihan beladiri, Rindu melihat Jake yang sudah berganti pakaian dan di pinggangnya sudah berikat dangan sabuk hitam, itu tandanya Jake sudah berada di tiggkat yang paling tinggi.
Rindu menoleh pada Jake, Jake pun sama menoleh pada Rindu.
"Ayo kita mulai dari awal dulu. Eemm biasanyakan kalau wanita itu berjalan jalan, mereka pasti membawa tas, boleh aku tahu apa saja isinya?" Jake bertanya pada Rindu yang masih bingung apa yang harus ia lakukan.
"Eemmm biasanya kalau aku pasti akan membawa beberapa lembar uang, eemm kadang aku juga membawa lipstik kadang juga aku membawa botol farfum yang mini hehehe siapa tau saat dijalan aku memerlukannya." Jawab Rindu dengan seadanya dengan yang sering ia lakukan.
"Baiklah tunggu sebentar ya." Jake meninggalkan Rindu sebentar dan kembali beberapa menit kemudian, tapi kini ia membawa sebuah tas kecil bak seorang perempuan.
Entah dari mana Jake menemukan tas itu.
"Untuk apa itu Jake?"
"Ini adalah tas yang akan melindungimu. tapi yang pertama" Jake menaruh tas kecil itu kelantai dan berjalan ke arah Rindu. "pertama tama kamu tinju dulu aku" kata Jake memberi intruksi.
"Haaahh? Ti.. Tinju?" Rindu menganga tak percaya.
"Iya.. Tinju aku sekarang" Titah Jake lagi.
"Ta.. Tapi.." Rindu masih tak percaya.
"Ayolag kamu coba, aku tidak menyuruhmu untuk melakukan hal yang tak pernah kamu lakukan. Meninju itu hal yang sangat mudah." Jake meyakinkan Rindu kembali.
"Aku hanya ingin melihatmu meninju, apakah cara kamu meninju itu sudah benar, oleh karna itu aku menyuruhmu meninjuku. Aku akan menilainya."
__ADS_1
"Emmmm baiklah akan aku coba" Rindu dengan ragu ragu mengepal tangannya dan..
BUUGGGHH
"Aaaawwww"
Sementara itu kini Zino dan Cessa sudah selesai makan siang, kini Zino masih sibuk dengan cucian.
Zino benar benar tak memperbolehkan Cessa mengerjakan pekerjaan apapun, Zino terus melarang dan melarang Cessa saat Cessa ingin membantunya.
Zino membersihkan semua perabotan dapur untuknya memasak dan makan tadi bersama Cessa. Masih kembali mengenakan celemek biru berbunga bunganya, Zino kini dengan telatennya membasuh satu persatu piring, menyabuninya, dan membilasnya, sungguh pemamdangan yang sangat jarang dilihat mata kepala dan mata batin. Seorang bos mafia, mencuci piring? Mengenakan celemek? Berbunga bunga lagi!!? W.O.W
Setelah lima belas menit kemudian Zino selesai dengan cuciannya, Zino mengelap tangannya dan melepas celemeknya dan mengantungnya di tempat semula. Zino berjala ke arah Cessa yang masih mamandangnya dengan pandangan kebingungan.
"Kamu pikir apa? Kok kayaknya berat?" tanya Zino ketika sudah sampai di samping Cessa dan mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Ooohh itu yang kamu pikirkan. Ya aku tidak memiliki pembantu atau asisten dan apalah itu. Ya mungkin ada tapi mereka adalah anak buahku yang aku tugaskan di sekitaran rumah ini. Seperti Jake si sopir tadi, dan kadang bila aku inginkan dan bila aku ada perlu dengan mereka. Aku tinggal sendiri di rumah ini jadi buat apa aku harus membayar pembantu bila aku sendiri bisa melakukannya seperti memasak, mencuci, menyapu. Itukan hal yang sangat mudah." Kata Zino menjawab pertanyaan Cessa.
"Tapi bukankah kamu seorang bos, kamu pasti banyak tugas yang harus kamu lakukan, belum masalah mafiamu, belum lagi bisnismu. Apa kamu memiliki waktu untuk sekedar memasak dan lainnya?" Cessa bertanya lagi.
"Hehe.. Ya ada donk buktinya sekarang ini aku ada waktu bersamamu dan bahkan memasak bersama dan makan bersama lalu aku mencuci piring dan kini kembali bersamamu." Ucap Zino berbangga diri.
"Iya iya. Tapi yang aku lihat kamu pintar memasak, apa kamu dulu pernah belajar memasak?" Tanya Cessa lagi.
"Tidak pernah belajar memasak, tapi aku selalu memasak, jadi bisa di bilang aku autodidak, dahulu aku hidup dengan ayahku dengan sangat sederhana, demi mencukupi kebutuhan kami berdua, ayah kerja banting tulang untuk mencari uang, dia berkerja serabutan, kadang menjadi kuli bangunan, kadang ayah diminta para tetangga bekerja di ladang atau kebun mereka dengan upah yang sangat terbilang kecil. Saat ayah mendapatkan uang sebisa mungkin aku membaginya dengan benar, membeli keperluan sehari hari dan keperluan ayahku yang waktu itu mengidap penyakit batu ginjal, bahan pangan di dapur harus ada dan obat obatan ayah juga harus ada. Oleh karena itu aku membelanjakan barang barang di dapur dengan porsi yang kecil, sayur, bawang, minyak, garam, gula, dan yang lainnya dengan porsi yang sedikit. Menurutku yang penting semua bahan itu ada dan dapat kami berdua nikmati sampai ayah mendapat uang lagi, kalau untuk obat ayah, aku membelikan terlebih dahulu pastinya setelah itu aku mencari kebutuhan dapur. Karna bahan yang sedikit dan sederhana aku berusaha sebisa mungkin memasak makanan yang enak saat ayahku pulang tapi tetap aku mengutamakan kehematan dengan bahan bahan itu. Agar untuk esok dan esoknya lagi aku dan ayah masih memiliki makanan untuk di santap. Oleh karena itu aku bisa memasak, entah itu sayur, atau ikan atau yang lainnya aku bisa memasaknya dan dulu aku utamakan ayah menyukainya, Kalau ayah sehat maka aku juga akan sehat. Kalau untuk makanan modern ya..Saat aku sudah berumur 14 tahun ayah meninggal, dan aku mencari perkerjaan yang dapat aku kerjakan di umur seperti itu. Akhirnya aku berkerja di salah satu rumah makan sederhana, aku berkerja sebagai pencuci piring dan pengelap meja, disana aku menemukan banyak orang, dan mereka yang sudah lihai dalam bidang memasak, mungkin mereka hanya berkerja di rumah makan biasa tapi mereka pandai dalam meracik masakan, aku dulu berlajar pada mereka oleh karena itu aku juga bisa memasak makanan modern, ya... Itulah lika liku hidupku dulu." Zino mengakhiri ceritanya.
Lagi lagi Cessa bagaikan seorang yang tengah di hipnotis, Cessa bertopang dagu dan menatap Zino yang dari tadi bercerita.
"Apa kamu yakin hidupmu dulu seperti itu?" pertanyaan aneh pun keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Iya, bahkan aku memiliki foto saat aku berkerja di rumah makan itu bersama para teman teman seniorku itu. Hehehe dulu karna aku yang paling muda aku memanggil mereka dengan sebutan kakak senior" Zino menambahkan lagi ceritanya tadi.
"Ooohhh" Jawab singkat Cessa padahal ia benar benar tertarik dengan masa lalu Zino tapi ia berusaha untuk tetap diam membiarkan Zino menceritakannya sendiri tanpa Cessa minta.
"Baiklah karna kamu sudah makan, sekarang waktunya kamu beristirahat, mau kan!!??" Uca Zino membuat Cessa memicingkan mata.
"Benar juga dari pada aku terus bersamanya lebih baik aku kembali ke kamar." Ucap Cessa dalam hati.
Senyum Cessa pun terlihat setelah berbicara dalam hatinya sendiri.
"Baiklah aku akan istirahat terimakasih untuk makan siangnya dan ceritanya, aku akan kembali ke kamarku." Cessa beranjak dari duduk dan dan hendak pergi dari dapur itu secepatnya.
"Heeii..." panggil Zino tiba tiba.
"Haduh apa lagi ini." Cessa dalam hati.
"Itu ada lift kamu bisa menggunakannya tinggal kamu tekan tombol yang bergambarkan mahkota maka kamu akan sampai di depan pintu kamarmu, maaf aku lupa memberi tahu tadi, kalau sebernarnya kita punya lift, kalau dari sini manuju kamarmu itu agak jauh makanya ada liftnya." Ucap Zino dengan senyum bahagia.
"Ooohhh I.. Iya.. Terimakasih" Cessa mulai masuk kedalam lift dan lift hendak tertutup tapi kaki Zino menahan pintu lift itu agar tak tertutup.
"Eehh" Pekik Cessa saat Zino menghalangi pintu lift.
"Maaf aku juga lupa bilang kalau aku akan ikut kamu dalam lift karna kamar kitakan ada di atas semua." Zino masuk juga ke dalam lift dan dia menutup lift itu lalu memencet tombol yang ia maksud tadi.
sementar itu..
"Aaaaww"
off dulu kawan.. seru gk ni cerita otor??? kalau seru terus lanjut baca ya...
__ADS_1