
Beberapa hari kemudian Lilen benar benar tak menampakkan dirinya, ia benar benar merasa malu.
Hari pertama Jake tak menyadarinya, hari kedua, Jake bertanya tanya, dan Hari ketiga Jake mulai mencari tapi tak berani menemui Lilen langsung yang sedang bersembunyi di dalam kamarnya seorang diri.
Lilen tak ingin bertemu dengan Jake karma rasa malunya ini. Yang ia temui adalaj Cessa, Bella dan Bibi yang ia mintai makanan.
Selebihnya tak ada yang melihat Lilen. Berkali kali juga Cessa mengajak Lilen untuk keluar kamar. Tapi Lilen senantiasa menolak. Entah sampai kapan Lilen akan bersembunyi di kamarnya ini.
Jake mencari tempat biasanya ia mengintip Lilen, Jake mengintip dari tempat favoritnya.
Jendela Lilen tertutup rapat sehingga Jake tidak bisa melihat apa yang di lakukan Lilen di dalam sana. Hato Jake mulai gelisah, ia tidak tahu apa yang sedang Lilen lakukan, apa Lilen baik baik saja, apa Lilen makan dengan teratur. Semua itu menggangu pikiran Jake.
"Apa aku ketuk aja kamarnya, apa aku tanya nyonya Cessa aja.. Jangan nanti Zino ledek aku, eemmm gimana ya..?" Jake menggaruk kepalanya.
"Aku turun dulu aja." Sebenarnya di atas
pohon yang langsung menghadap jendela kamar Lilen. Dari sinilah tempat terbaik untuk melihat Lilen.
"Aarrgghh.." Jake terpelest di salah satu dahan dan Jake terjatuh bebas.
"Aawww.." Jake memegangi bahunya.
"Aaisshhh lumayan rasanya.." Sepertinya lengan Jake terluka parah, bukan hanya terluka goresan, tapi luka dalam juga, lebih tepatnya di tulangnya.
Jake berjalan tertatih tatih ke dalam rumah.
"Tuan Jake kenapa..?" seorang anak buah melihatnya.
__ADS_1
"Gak apa apa.. Bisa panggil dokter kah.. Atau apakah.. Aku luka.." Jake memperlihatkan bahunya yang berdarah.
"Astaga.. Tuan.. Saya cari dulu.." Pria muda Itu langsung berlari secepatnya.
"Tolong tuan di mana ada dokter atau perawat..?" Pria itu bertemu Lorent.. Emm aku kurang tahu, coba tanya Nyonya Cesaa. Aku masih belum hafal orang orang di sini.." Sahut Lorent. Lorent orang yang terlalu repot dan peduli. Setelah mengatakan itu, Lorent kembali fokus pada pekerjaannya sedangkan pria muda itu berlalu mencari Cessa.
***
"Ayolah Lilen sebentar aja temani aku ke kebun.." Pinta Cessa.
"Aduuuhh Cessa.." Keduanya sudah di luar kamar Lilen, menuju pintu belakang.
"Nyonya.. Tolong.. Di mana ada dokter atau perawat..?" Pria muda itu menemukan Cessa.
"Eeeemm kalau gak salah ada di valipuim belakang. Semuanya di sana.." Jawab Cessa.
"Itu nona, Tuan.. Tuan Jake.. Bahunya.." Pria itu mengatur nafasnya setelah berlari mencari Cessa ke seluruh penjuru Rumah besar ini.
"Jake..?" Lilen membulatkan mata.
Tanpa menunggu Lilen langsung buru buru mencari Jake.
"Cepat ikuti dia.. Bawa dia ke Jake.." Perintah Cessa pada Pria itu.
"Ya Nyonya.." Pria itu berlari lagi mengikuti Lilen.
"Nona, tuan Jake di sana.." Pria itu menuntun Lilen.
__ADS_1
"Itu tuan Jake.." Tunjuknya. Lilen terenggah engah sampai di depan Jake.
"Kamu.." Jake terkejut yang di bawa anak buahnya itu adalah Lilen.
Mata Lilen tak bisa lepas dari bahu Jake yang berdarah tergores dahan dahan pohon.
"Jake.." Lilen menghampiri Jake.
"Lilen.. Aku.. Eemm.." Jake bingung menjelaskan seperti apa.
"Kamu bisa gak sih hati hati.. Luka kan..! Sakit..!" Marah Lilen dengan mata tajam tertuju pada Jake.
"Ya aku gak konsen tadi jadinya jatuh.." Ucap Jake.
"Jatuh dari apa..?" Lilen masih marah besar pada Jake.
"Dari pohon.." Jake menggigit lidahnya setelah menjawab.
"Apa..? Pohon..?" Nada bicara Lilen makin naik.
"Lilen.. Aku.. Maaf.." Sepertinya lebih sakit di marahi Lilen dari pada luka bahunya.
"Maaf..? Ck.." Lilen meneliti bahu Jake.
Jake...
Off dulu..
__ADS_1