
Zino Ingin terus menikmatinya, tapi Zino ingat ada asap yang harus mereka lewati. Zino membawa Cessa bangkit hendak keluar dari tempat itu.
Tiba tiba angin dari luar meniup pergi asap asap putih itu. Helikopter terbang mengelilingi gedung itu. Seperti meniup pergi asap asap yang mengelilingi Zino berserta Cessa dan Karsa.
"Syukurlah.." Zino mengusap dadanya dan mencium Karsa.
Cessa manarik tengkuk Zino dan menciumnya lagi. Zino tak menolak dan malah menikmatinya.
Luma*an itu selesai dan Cessa mencium Baby Karsa lagi. Bayi itu bergerak terganggu dengan gerakan dadakan dari Cessa dan juga suara bising dari luar.
Bukan hanya Cessa yang menhujani Karsa dengan kecupan tapi Zino pun tak kalah banyaknya. Tak henti hentinya Zino berterima kasih pada sang pencipta karna telah menlindungi mereka bertiga.
***
"Dimana Cessa...!" Bella memarahi kedua penjaga itu.
"Nyonya dia mengikuti kedua orang yang tadi hendak menangkap Nyonya, Nyonya Cessa berpesan untuk melindungi kalian semua. Itu saja nyonya.." Jelasnya.
"Ya ampun Cessa.." Bella lemas seketika. Mengingat kejadian Karen yang pergi meninggalkannya, ia tak ingin terjadi lagi hal buruk pada Cessa mau pun Karsa.
"Ya Tuhan.. Lindungilah anak anak ku.." Bella menangis tergunggu.
"Mommy.. Aku yakin Cessa dan yang lainnya baik baik aja.." Lilen mencoba menenangkan Bella.
__ADS_1
"Lilen.." Bella memeluk Lilen erat.
Sedangkan Rindu berdoa sepenuh hatinya untuk Lorent dan yang lainnya. Yakin mereka akan pulang dengan selamat adalah harapan paling utama Rindu.
***
Zino dan Cessa sudah di titik aman di helikopter yang menjemput mereka. Tapi yang membuat keadan berubah adalah Karsa menangis karna suara bising dan juga getaran tak beraturan yang di rasanya. Meski sudah di lindungi dengan headphone khusus Karsa masih tak nyaman.
Cessa mencoba menenangkannya tapi tak bisa. Zino juga bingung apa yang harus ia lakuka.
"Sayang.. Apa dia lapar..?" Tiba tiba itu yang muncul di otak Zino.
"Iya.. Kayaknya dia lapar mungkin ini sudah jam minum susunya.." Cessa baru ingat juga.
Cessa berpikir sejenak, ia mendapat satu ide yang ia yakini dapat menenangkan Karsa.
"Sayang kamu mau apa..?" Zino terkejut melihat Cessa hendak mengeluarkan satu gundukkannya.
"Biar Karsa tenang Zi.. Kasian dia.. Nangis terus itu.." Cessa sudah hendak mengeluarkan lagi.
"Sayang.." Zino menahan lagi. "Jangan.." Zino tak rela Cesaa main keluarkan saja barangnya.
"Zi.. Ini demi Karsa.." Cessa mencoba memberi pemahaman pada Zino.
__ADS_1
Cup.. "Aku milik kamu Zi.." Cessa mengecup pipi Zino.
"Ya kamu memang milik aku.. Dan gak ada yang boleh liat.." Zino membuka tas yang ada di sana. Ia menemukan kain parasut. Zino membukanya dan menutupi tubuh Cessa dengan itu.
"Ya ampun Zino.." Cessa terkekeh melihat aksi Zino.
"Demi kamu dan Karsa sayang.." Zino tak peduli apa yang di pikirkan Cessa dan anak buahnya.
Akhirnya Cessa bisa menenangkan Karsa dengan caranya. Zino sedikit mengintip, melirik dan menatap.
"Kok makin besar aja keliatannya.." Lirih Zino.
Tak ada yang mendengarnya karna suara helikopter yang lebih nyaring dari suara lirihnya itu.
***
"Itu bunyi apa..?" Lilen seperti mendengar sesuatu.
"Helikopter nyonya.." ucap salah seorang penjaga.
"Zino.. Cessa.." Bella bergegas ke depan pintu, angin yang di buat helikopter itu benar benar kencang membuat Bella terhenti di depan pintu.
Setelah helikopter itu benar benar berhenti barulah, Zino turun meski sangat terlihat ia menahan rasa sakit di pinggangnya akibat pisau tajam tadi.
__ADS_1
Bella..