
"Mati kau.."
Marino menarik pelatuk pistolnya.
Zino ingin maju tapi sayangnya sudah di kepung anak buah Marino.
"Karsa..!!" Zino memeberontak dan malah mendapat pukulan keras dari mereka, sayangnya Jake dan Lorent juga sudah di tahan anak buah yang lainnya.
Dan ternyata pistol itu kosong atau tak memiliki amunisi.
Kekurangan tenaga dan anggota membuat Zino dan yang lainnya kalah telak. Belum lagi anak buah Marino yang sudah meningkat banyak dari perkiraan Zino.
Zino tadi sempat meremehkan Marino, tapi ternyata terlalu meremehkannya bukanlah hal yang baik untuk Zino. Keadaan berbalik kini, Marino tak selemah dan seceroboh yang dulu. Dia lebih dewasa dan sudah menyiapkan semuanya dengan sempurna.
"Takut..?" Marino memainkan tangan Karsa.
"Ck ck ck.. Tangan ini.. Kecil sekali.. Kalau aku patahkan juga gak apa apa kan..?" Ancam Marino lagi.
"Isi pistolku.. Kamu.. Diam di sana..!" Marino menunjuk Zino dengan angkuhnya.
"Payah" Zino kesal dengan keadaanya sendiri.
"Ini tuan.." Anak buah Marino memberika lagi pistol yang sudah di isi amunisi.
"Ini baru betul.." Marino menatap pistolnya yang sudah di isi itu.
"Marino.. Apa pun yang kamu minta akan aku berikan.. Jangan lukai Karsa.. Karsa segalanya.." Zino melakukan penawaran yang di inginkan Marino.
"Maaf Zino sayang.. Gak bisa.. Tadi kamu tahu sendiri, aku juga mau Tulip Hitam.. Kalau kamu mau anak kesayangan kamu ini.. Maka..?"
__ADS_1
Dorr..
Marino melesatkan satu tembakan ke atasnya.
"Kalau tidak juga tak apa.." Ledek Marino lagi.
"Kenapa juga kamu mau anak pela**ur ini..? Sementara kamu juga bisa buat..?" Ledek Marino lagi.
"Karsa ku.. Bukan anak pela*ur.. Dia anak Karen.." Satu pisau di leher Marino.
"Siapa kamu..?" Marino tidak bisa sembarangan bergerak, karna pisau yang tajam itu mencium leharnya. Mengalirkan setetes dua tetes cairan merah.
***
Di tengah ketakutan dan kepanikkan orang orang di rumah semuanya berkumpul da saling menguatkan.
Semua penjagaan ketat di seluruh rumah, tapi ada yang janggal. Bella menatap sekelilingnya.
Kini yang berkumpul di ruangan itu hanya Bella, Lilen, Rindu, dan beberapa Bibi dari dapur yang sama ketakutan juga mendengar salah satu di antara mereka ada yang di habisi ya itu pengasuh Karsa.
"Iya.. Mana Cessa..? Cessa..?" Rindu panik melihat tak ada Cessa, padahal tadi Cessa ada di sampingnya.
"Tolong liat apa Cessa ada di kamarnya..!" titah Bella pada satu penjaga.
"Eeemm maaf Nyonya.. Nyonya Cessa melarang kami untuk tinggalakan kalian di sini.." Salah satu anak buah Zino berjaga di dekat Bella dan yang lainnya.
"Tapi Cessanya mana..?" Bella mulai marah.
"Nyonya.. Dia.." Salah satu anak buah itu juga memberikan penjelasan.
__ADS_1
***
"Siapa kamu hah.. Beraninya kamu.." Marino memberikan peritnah anak buahnya untuk menolongnya.
"Jangan mendekat atau pisai ini..?" Pisau itu terus membuat rasa perih itu semakin besar.
"Sial.." Marino tak bisa melakukan apa apa kecuali mengumpat.
"Jatuhkan senjatamu itu..!" Titahnya lagi.
"Siapa kamu berani perintah aku..?" Zino memperhatikan anak buah pemberontak itu.
Mengenakan baju serba hitam dan penutup wajah dan hanya meninggalkan sela mata saja yang terlihat.
"Dia..?" Zino seperti mengenalnya.
"Mata itu..?" gumam Lorent.
"Dia..?" Jake tak percaya yang ia lihat ini.
"Aku..? Aku.. Dengarkan aku. Atau..?" Orang itu mendekatkan pisaunya lebih lagi.
"Kamu mau apa..?" Marino menjatuhkan pistolnya.
Kaki orang misterius itu mengambilnya perlahan.
"Aku mau... Bayi kecil itu..!!" Orang ini lebih ganas lagi dan bukan hanya mengancam, tapi juga dengan tindakan.
"Siapa kamu..?" Marino mencirigai suara orang ini.
__ADS_1
"Aku..
Off dulu ya...