Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 31


__ADS_3

Malam berganti pagi. Cessa kini berada di dapur sedang memasak sarapan untuk pagi ini. Entah mengapa Cessa sangat ingin makan telur mata sapi. Cessa ingin kuning telurnya meleleh kental.


Saat Cessa sedang sibuk dengan masakannya Zino mengamatinya dari jarak yang terbilang cukup dekat. dan Tapi karna Cessa hanya fokus pada masakannya membuat Cesaa tidak menyadari keberadaan Zino.


"Emmm harumnya.." Cessa menghirup aroma sedapnya masakannya. Saat Cessa berbalik sudah ada Zino yang melipat tangan di dadanya dan menunggu Cessa dengan gayanya bersandar di dinding.


"Aaa..." Cessa terkejut melihat Zino dan tak sengaja menjatuhkan telur mata sapinya kelantai.


"Eehhh.." Zino juga terkejut dengan telur yang Cessa masak terjatuh dari piringnya dan tergeletak di lantai.


"Yahh... Jatuh.... kamu ini... Buat aku terkejut jadinya jatuh deh..." Omel keluar dari mulut kecil Cessa.


"Sepertinya masih bisa di makan, belum lima menit." Cessa memutik telur mata sapinya dan menaruhnya lagi di dalam piring yang masih ia pegang.


"Iiihh jangan... Itu sudah ada bakterinya.. Jangan di ambil ya..." Zino merampas piring berisi telur itu dan membuangnya ke dalam tempat sampai di dapurnya.


Kini wajah Cessa tanpak lesu. Zino hanya tersenyum melihat tingkah Cessa. "Mau aku bikinkan yang baru?" Tanya Zino ketika sudah sampai di depan Cessa.


"Tidak usah aku sudah tidak menginginkannya lagi." Cessa hendak berlalu dari Zino tapi Zino menahannya kali ini.


"Maaf... Berikan aku waktu 3 menit, maka Telur seperti yang kamu masak tadi sudah ada di depanmu. Dan siap di santap." Zino merayu Cessa yang sudah nampak merajuk.


"Baiklah.. Awas kalau gak enak." Cessa berlalu dan memilih menunggu di meja makan.


Zino dengan keahliannya dalam bidang memasak dengan lihainya memasak makanan yang di inginkan Cessa.


Cessa mengamati jam di dapur tersebut, tinggal 30 detik lagi waktu yang Zino punya.


"Waktumu tinggal sedikit tuan Zino.." Cessa setengah berteriak dari ruang makan ke dapur.


Tak berselang lama setelah Cessa berteriak, Zino datang dengan dua piring di tangan kiri dan kanannya.


"Silahkan yang mulia Ratu..." Zino meletakan kedua piring itu di depan Cessa.

__ADS_1


Cessa yang tanpaknya masih merajuk kepada Zino hanya fokus dengan apa yang ada di depan matanya.


Cessa menoleh lagi ke arah jam yang ada di dinding dapur cantik itu.


"Apa aku yang salah liat jam atau memang 3 menit sudah." Zino yang mendengar perkataan Cessa juga menoleh ke arah jam yang Cessa lihat.


"Memangnya kenapa?" Zino kembali menoleh pada Cessa lagi.


"Apa kamu yakin kamu yang masak sendiri." Cessa masih ragu dengan kemampuan Zino.


"Hahaha...Kenapa?? Tak percaya? Sudahlah coba kamu makan dulu dan rasakan betapa nikmatinya masakan seorang Zino." Zino membangga banggakan dirinya yang cukup pandai memasak.


"Oke... Aku coba kalau gak enak, aku gak mau ikut kamu hari ini jam 9 nanti, aku akan melihat lihat kebun buah saja." Cessa mengambil sendok dan garpu dan mencoba masakan telur mata sapi Zino mulai dari kuning telurnya karna itu yang paling Cessa suka dan yang ia inginkan pagi ini.


Cessa memasukan satu sendokan pertama ke dalam mulutnya. Merasai dan menikmati masakan Zino.


"Eemmm lumayan..." Cessa mengambil lagi putih telurnya dan mencobanya.


"Wow... Cukup krispi... Enak..." Mood bahagia Cessa kembali lagi. Cessa benar benar menikmati telur mata sapi buatan Zino.


"Babagaimana..?? Enak bukan... Maka kamu akan tetap ikut aku ke restoran baruku hari ini. Dan dengar. Di dalam kamarmu sudah ada baju yang harus kamu pakai. Aku baru membelimya semalam. Aku mau kamu mengenakan itu hari ini. Aku yakin kamu akan menyukainya." Zino juga mulai ikut sarapan dengan Cessa dan Cessa menanggapinya dengan mengangguk anggukan kepalanya.


****


Cessa dan Zino selesai dengan sarapan mereka dan kini Cessa sudah membersihkan dirinya dan siap mengenakan pakaiannya.


"Eehhh tadi dia bilang ada baju yang Zino bilang mana ya...?" Cessa baru saja ingin mencari baju untuk ia kenakan dari lemarinya.


Cessa menoleh ke sana ke mari dan mendapati bebuah paperbag di atas Sofanya.


Cessa mengambil dan membuka paperbag tersebut dan benar ini baju yang Zino suruh ia kenakan.


Dress cantik dengan brukat putih di belakangnya membentuk bunga mawar sedangkan untuk Dressnya panjang selutut dan panjang lenganya sesiku Cessa dengan warna crem. Nampak anggun dan cantik.

__ADS_1


Cessa memutar mutarkan tubuhnya di depan cermin besar di kamarnya. "Zino benar. Aku menyukai baju ini. Yap.. aku menyukainya."


Cessa melanjutkan merias dirinya, sekarang ia sedang menyisir rambutnya. Kemudian Cessa mengulung semua rambutnya membiarkan leher jenjang putihnya terlihat dan tidak menghalangi brukat cantik di punggungnya.


Cessa sudah selesai bersiap siap dan memilih untuk langsung menunggu Zino di ruang tamu di bawah.


Cessa menuruni tangga dengan anggunnya.


Zino yang juga sudah rapi dan lebih dahului menunggu Cessa turun dari kamarnya juga sudah sangat tampan. Rupanya Zino membelikan baju yang sama warnanya dengan warna baju Cessa yaitu Crem dengan celana panjang hitamnya berpadu dengan kemeja crem bergaris hitam dan jas crem polos.


Setelah sampai di ruang tamu Cessa baru menyadari sudah ada Zino menunggunya.


"Hei... Kamu sengaja ya...?" Cessa menunujuk baju Zino yang terlihat senada dengan bajunya.


"Ya kan hari ini kita berdua adalah pasangan untuk acara Restoranku... Jangan menolak ya aku mohon. Aku ingin membuka restoranku dengan berbeda kali ini.." Kata Zino meyakinkan Cessa agar tidak menganti bajunya.


"Dengan berbedanya itu seperti apa??" Cessa tidak paham apa yang Zino maksud.


"Iya biasanya kan.. Aku akan membuka reatoran baruku seorang diri tapi kali ini aku akan di temani seorang wanita cantik." Jelas Zino.


"Ooohh" Cessa hanya meng'ooh' mendengarnya.


***


"Ini dia Restoran barunya" Zino mempersilahkan Cessa melihat restoran barunya ini.


"ini restoran yang cantik dan nampak elegan. Apa namannya ZL lagi??" Cessa mengodai Zino lagi, mengingat ia pernah berkerja di resto milik Zino yang bernamakan ZL.


"Bukan yang kali ini Resto Kita." Kata Zino singkat


"Resto kita??" Cessa tak paham dengan ucapan Zino barusan.


"Aku memberi namanya Resto Kita. Bagus bukan, mudah di ingat dan membuat palanggan nyaman di sini. Karna ini Resto Kita." Zino tersenyum bahagia hari ini..

__ADS_1


Cessa..


off mata Author perih.... 😵😵


__ADS_2