Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 48


__ADS_3

Zino menghembuskan nafasnya dengan kasar. Masih pikirkannya Cessa yang masih di dalam tangan Karen saat ini.


Sejenak Zino rindu akan Cessa tapi tiba tiba ingatan tentang video yang Karen kirimkan timbul di ingatan Zino. Cessa yang tak mengenakan apapun di buka buka oleh Karen dan tidur bersama Karem dengan nyenyaknya.


"Ck... Bodoh.. Kenapa kamu malah memikirikannya sekarang Zino.. Fokus Zino fokus." Kata Zino ada dirinya sendiri.


***


Pesta Lilen dan kawan kawannya berjalan dengan baik. Kini semuanya sudah selesai, Lilen memilih untuk menginap dulu di hotel ini.


Setelah memesan kamar pada resepsionis Lilen menuju kamarnya dengan senandung kecil di mulutnya.


Lilen tak sengaja menabrak seseorang di koridor hotel itu. "Maaf maaf tuan" Ucap Lilen takut orang itu akan marah.


"Nona bisa lihat jalan anda? Anda menabrak tuam saya." Ucap Pria asing di depan Lilen.


"Ah.. Saya benar benar minta maaf tuan saya tidak lihat." Ucap Lilen padahal laki laki itu yang salah dan menabrak Lilen, tapi Lilen memilih mengalah saja.


"Jake... Biarkan saja aku tidak apa apa." Ucap Zino pelan. Ya inilah rencana Zino. Adik dari Karen adalah sasarannya.


"Silahkan nona." Zino dan Jake berlalu pergi meninggalkan Lilen yang menepi. Zino memang tak langsung menyerang atau menyandra Lilen tapi Zino ingin menyakiti secara perlahan dan ingin bukan hanya Lilen yang sakit tapi Karen pun harus ikut sakit.


Itulah tujuan Zino kali ini, Lilen hanya terdiam untuk sesaat. Lalu menoleh pada arah laki laki dan anak buahnya itu berlalu. "Sangat mirip kak Karen." ucap Lilen dalam hati kecilnya. Gaya Zino dan karisma Zino saat menabraknya benar benar mirip dengan Karen.


"Apa itu adik Karen Stone?" tanya Zino ssat keduanya di dalam Litf.


"Iya tuan itu yang namanya Lilen Robiana. Adik dari Karen Stone yang menerima donor sum sum tulang belakang Karen langsung. Bukan hanya itu, darah perempuan itu di musnahkan dengan sinar X dan di ganti dengan darah Karen Stone. Jadi otamatis Lilen dan Karen Stone satu darah tuan",Jelas Jake pada Zino.


"Bagus itu informasi yang sangat bagus." Zino memandang dirinya di dinding Lift yang berwarna keemasan itu.


***


Pagi hari menanti pasangan ini tapi keduanya masih nyaman di dalam selimutnya, apalagi Karen dia benar benar menikmati hal ini.


Karen sudah mengingat semuanya, tak ada lagi yang Karen khawatirkan. Tapi sekarang masalahnya Karen sedang di goda dengan apa yangcada di depan matanya.


Karen dan Cessa masih dalam posisi yang sama, Cessa yang masih memeluk Karen dan karen dalam pelukkan Cessa dengan nyaman tak ada duanya. Bagaimana tidak? Karen sedang berada di depan surga dunia. Empuk sekali yang bisa Karen rasakan saat menyentuh barang itu.

__ADS_1


Karen ingin meneruskannya tapi takut Cessa akan sadar. Karen mulai mencoba dengan tangannya. Tangan nakalnya masuk dan tak ada pergerakan dari Cessa. Karen mengeluarkan lagi tangannya dan mencoba membukanya. Terbuka tapi tak ada pergerakan terganggu oleh Cessa. Karen pun memutuskan untuk melanjutkannya.


Sentuhan pertama dari lidah imut Karen ke barang itu. Dan tak ada reaksi juga. Karen pun dengan santainya meraup dan menikmati kenikmatan itu. Setelah beberapa menit berlalu dan Karen masih dengan kegiatannya, Cessa pun menunjukan reaksi terganggu. Karen segera memperbaiki baju Cessa dan menutup apa mainannya barusan seperti tak terjadi apa apa dan langsung pura pura tidur.


Merasa ada rasa yang berbeda di dadanya, Cesaa mencoba membuka matanya. Tidak ada yang terjadi padanya. Hanya saja Karen masih tidur di dalam pelukkannya dan Cessa mengecek asetnya itu yang merasa terganggu tadi.


Tidak ada yang aneh juga hanya sedikit mengembang.


"Ah mungkin mimpi saja dan Karen sedang bergerak tadi" Ucap Cessa dalam hatinya.


Cessa ingin bangun dari baringnya dan ingin segera lepas dari Karen tapi nampaknya Karen masih butuh istirahat.


Tapi tiba tiba Cessa teringat Karen belum makan apa apa dari kemarin. Akhinya Cessa berinisiatif membangunkan Karen.


"Karen.. Bangun.. Ini sudah pagi.." Ucap Cessa dengan lembut pada laki laki di depannya itu.


"Em.." Karen pura pura malas membuka matanya agar terlihat real baru bagun tidur.


"Bagun ini sudah pagi apa kamu tidak lapar..? Sejak kemarin kamu belum makan.. Kita sarapan ya.." Ajak Cessa lagi.


"Baiklah..." Ucap Karen, tapi bukannya bangun dari tidurnya Karen malah memeluk Cessa lagi dan mengosok gosokkan wajahnya di dada Cessa membuat Cessa kegelian.


"Hah..?" Tanya Karen seperti orang bodoh.


"Aku tadi ajak kamu sarapan bukannya bobok lagi.." Cessa melindungi asetnya itu dengan kedua tangannya yang ia silangkan.


"Oohhh.." Barulah Karen bangkit dan berjalan ke kamar mandi.


Tak sampai satu menit Karen di kamar mandi Karen sudah keluar lagi dengan wajah bantalnya yang pasti di pura purakannya.


"Cessa. Mana handuknya...?" Tanya Karen sambil menggaruk garuk rambutnya.


"Oohh iya aku lupa kembalikan ke kamar mandi semalam." Cessa bangkit dan mengambil handuk yang a tinggalkan di meja riasnya.


Barulah Karen tenang masuk ke dalam kamar mandi dan Cessa malah matung di atas ranjangnya. Cessa masih penasaran dengan rasa yang ia rasakan ketika masih tertidur tadi. Rasanya seperti ada yang tengah menghisapnya tapi Cessa sudah memeriksanya tapi tak ada apa apa yang terjadi. Rasa itu tak biasa bukan seperti mimpi mimpi lalu. Rasanya benar benar nyata.


***

__ADS_1


Cessa dan Karen hari ini sarapan di dalam kamar dan tentu saja makanannya sudah di periksa terlebih dahulu. Cessa melirik Karen yang tengah makan dengan santainya.


"Apa dia? Tapi tadi dia masih tertidur pulas dan harus aku bangunkan dulu baru sadar. Tidak mungkin dia kan.. Dan kalau dia pasti dia sudah meminta lebih dari itu." Gumam Cessa dalam hatinya yang mulai mencurigai Karen.


"Kenapa kamu menatap aku begitu?" Karen sadar akan tatapan Cessa yang fokus padanya hingga melamun.


"Hah..? Gak apa apa kok.." Elak Cessa.


Kini keduanya sudah selesai makan dan sedang bersantai di balkon. Cessa mengamati sekeliling dan Karen masih sibuk dengan Laptopnya.


Terkadang Karen meringis membaca kabar kabar dari anak buahnya. Ekspresi itu tentu mengundang penasaran Cessa yang berada di samping Karen saat ini.


"Kamu baik baik sajakan Karen?" Cessa memastikannya.


"Ah.. Iya.. ya. Aku baik baik saja." Jawab Karem dengan kaku dan bingung di wajahnya sangat nampak.


"Karen apa semuanya baik baik saja?" Tanya Cessa lagi karna takut Karen akan seperti kemarin lagi.


"Eeemm.." Karen bingung harus menjawab apa.


"Karen aku mohon jangan terlalu banyak pikiran dan minum obat yang di titipkan dokter itu. Aku takut kalau kamu seperti kemarin lagi.." Ucap Cessa sangat jujur dengan apa yang ia takutkan.


"Iya aku tidak akan banyak pikiran dan tapi jika untuk seperti kemarin aku tidak jamin karna kapan saja aku bisa melakukan itu" Karen sedikit menakut nakuti Cessa.


"Karen.." Cessa melipat tangan di dadanya dan mengalihkan pandangannya. Saat mengalihkan pandangannya ini Cessa melihat ada bukit yang sangat indah di matanya. Ingin rasanya Cessa naik kesana, pasti pemandangan yang di suguhkan oleh alam di sekitar sini indah jika di lihat dari bukit itu.


"Karen..." Cessa tak sadar memegangi tangan Karen membuat Karen terkejut.


"Apa?" Tanya Karen seraya melihat kearah Cessa yang masih terus menatap ke samping.


"Karen.. Kamu mau gak banyak pikirankan...?" Cessa akhirnya menoleh pada Karen dengan wajah yang lebih berseri seri.Karen memilih untuk mengangukan kepalanya saja.


"Kita piknik yuk.." Ucap Cessa dengan wajah yang semakin berseri serinya


"Hah? Kamu ajak aku piknik? Hahaha... Cessa aku bukan anak kecil lagi." Ucap Karen sembari terus tertawa.


"Iihh Karen.. Kamu tahu gak anak kecil itu gak punya penyakit yang namanya Stres.. Gitu juga kamu donk.. Kamu itu butuh relaksasi. Ayo yah... Aku bosan di dalam sini terus.."Ajak Cessa yang akhirnya memelas saja.

__ADS_1


Melihat Cessa yang memelas padanya Karen pun mengiyakan keinginan Cessa kali ini "Baiklah ayo kita pergi piknik tapi anak buahku jadi pengawal kita ya.." Nego Dari Karen Cessa tak mempermasalahkan itu karna yang penting ia keluar walau hanya sekedar piknik sederhana.


Karen dan Cessa...


__ADS_2