
"Iya Karen aku masih mau dengar dan masih sangat penasaran" Cessa menguncang guncangkan tubuh Karen mewakili pera readers hehehe..
"Baiklah baiklah.. Aku lanjutkan. Satu tahun yang lalu aku menemukan semuanya, semua data yang ayahku sembunyikan dariku. Rupanya nama Ina itu bukan nama Aslinya. Rupanya, Ina memang di ambil untuk mendonorkan apa yang aku butuhkn saat itu. Waktu itu aku membutuhkan transplantasi jantung dan juga sum sum tulang belakang. Karna aku bukan hanya menderita leukimia,tapi jantungku juga bermasalah. Jadi harus ada yang mendonorkannya padaku. Awalnya saat Ina datang itu juga seharusnya aku di operasi,tapi karna melihat kondisiku yang belum stabil ayahku memilih untuk menghiburku dulu dengan keberadaan Ina di sampingku. Ina pun melakukannya apa pun yang ayahku perintahkan tapi Ina melakukannya dengan tulus hati dan menjagaku dengan baik. Seakan aku ini saudara kandungnya yang sering dia bicarakan. Dan hari hari pun kami lalui bersama dan aku kembali stabil. Ayahku juga mulai menyukai Ina juga. Tapi hari terburuk itu tiba. Ina mati matian menyelamatkan aku dan dia yang terluka parah. Ayah sempat membawanya ke rumah sakit tapi Ina sudah sangat kritis, tanpa aku ketahui Ina meminta ayah untuk meneruskan rencana awalnya yang menjadikan Ina pendonorku, ayah tidak ingin melakukannya kerna juga sudah sayang pada Ina, tapi Ina memaksa dan mengatakan 'kalau aku mati membawa apa yang Karen butuhkan akan percuma dan sia sia. Aku tidak akan membutuhkannya lagi di akhirat nanti, tapi Karen membutuhkannya di dunia ini.' Mendengar ucapan Ina itu ayah semakin sedih. Ina meminta ayahku untuk berjanji untuk menjagaku seperti Ina menjagaku. Berikan apapun yang di butuhkan aku utu yang terpenting sekarang. Tapi berjanjilah, jika Karen sudah sehat maka Karen harus bermain dengan Adik Ina. Janji yang cukup sulit untuk di lakukan. Karna beberapa permintaan Ina itu, ayah pun mengikuti kemauan Ina yang terakhir itu. Aku pun di operasi di hari Ina pergi selamanya. Saat di periksa rupanya aku dan Ina cocok, Sum sum tulang belakangnya bisa di donorkan juga. Ayahku kira hanya jantung Ina yang ia butuhkan, tapi rupanya Sum sum tulang belakangnya pun bisa. Ayahku memberitahukan Ina ia cocok. Dan Ina kembali berkata, 'ambillah. Hadia terbaik dariku untuk Karen.' Operasi pun berjalan dengan lancar. Tapi setelah selesai operasi, aku tidak sadarkan diri hingga 60 hari. Aku bahkan melawatkan 40 hari meninggalnya Ina. Ina pun pergi ke taman yang lebih besar dan teman teman yang baru juga. Aku pun tumbuh menjadi seorang yang lebih sehat dan normal seperti keinginanku, tapi aku merindukan sosok Ina. Saat itu adikku Lilen datang kerumahku. Seorang adik perempuan yang aku rasa mungkin hampir seumuran denganku. Karna rindu akan Ina aku pun sangat menyayangi adikku itu. Tapi adikku itu juga memiliki penyakit yang sama seperti aku saat masih kecil, diam mengidap leukimia juga dan aku mencoba mengecek apakah kami berdua cocok, dan ternyata sangat cocok dan aku bisa mendonorkan Sum sum tulang belakangku padanya, dan ada satu masalah lagi darah Lilen harus di musnahkan dan mengambil darahku juga, aku pun siap akan hal itu. Kami berdua pun menjadi saudara yang sangat dekat. Tapi kadang ibuku tidak menyukai hubungan dekatku dengan Lilen, karna Lilen bukanlah anak dari ibu, hanya anak wanita simpanan ayahku. Tapi aku masa bodoh dengan hal itu. Dan tetap menjaga hubungan baikku dengan Lilen hingga sekarang. Lilen sekarang harus menempuh pendidikannya di negri lain dan aku di sini bersamamu..." Karen mengedipkan matanya sebelah ke arah Cessa, karna sedari tadi Cessa tidak ada suara sama sekali. Cessa benar benar menjadi pendengar yang baik.
"Ayolah Karen jangan putus putus ceritanya." Cessa sangat gemas dengan Karen yang malah mengodanya bukannya melanjutkan Ceritanya lagi.
"Hehehe iyaya.. Oke lanjut lagi. Aku kembali menyelidiki tentang Ina dan kenapa aku tidak pernah di bawa kepemakamannya atau cerita kremasinya juga tidak ada. Aku semakin curiga. Aku mencari lagi dan menemukan Ina di bawa oleh orang orang yang melukai kami di gudang, karna orang orang itu kira Ina masih hidup, setelah mereka tahu Ina sudah tiada mereka membuangnya di jalan sembarangan. Sungguh sadis, seharusnya mereka kembalikan saja ke rumahku dan biarkan keluargaku yang mengurus pemakamannya, bukannya malah membuangnya seperti itu. Dan aku akhirnya ketahui nama asli Ina. Namanya.."
__ADS_1
***
"Jake apa kita percepat saja rencana kita, banyak cara lain yang bisa membuat kita cepat mencapai kemenangan kita kan..?" Zino bertanya pada Jake apa yang sebaiknya mereka lakukan. Jujur Zino masih sangat gelisah dan ingin segera kembali saja ke negaranya dan mencari Cessa ke penjuru Negara itu, karna Zino baru mendapat kabar Cessa masih di negera itu dan tidak kemana mana, Karen sangat pintar menyekapnya, pikir Zino saat ini. Zino tak peduli jika Karen sudah menyentuh Cessa atau tidak, yang penting Cessa kembali padanya.
"Tapi tuan, nona Lilen bukanlah wanita yang bisa kita dekati dan kita culik begitu saja. Dari yang aku ketahui Lilen memang tak memiliki penjaga dari Karen, tapi ia bisa menjaga dirinya sendiri. Karen mengajarkan adiknya itu bela diri. Jadi jika anak buah kita yang menyerangnya mungkin mereka akan di serang balik oleh Lilen. Maklumlah adik seorang mafia seperti Karen... Sangat sukar untuk di dekati. Jadi kita harus dengan rencana yang bagus dan rapi tuan" Jake memberi saran lagi.
"Tuann... Apa tuan lupa, Lilen adalah seorang medis, dia bisa mengobati dirinya sendiri. Dan Lilen juga pasti memiliki data dari kakaknya itu. Lilen juga tidak ingin masuk dalam masalah kakaknya, karna dari data, beberapa tahun yang lalu ada yang ingin menyakiti Lilen dengan cara membius seperti yang di ucapkan tuan tadi, tapi rupanya Lilen sudah memiliki penawarnya dan dia membawanya kemana pun ia pergi. Dan jika bertemu dengan orang asing, Lilen sudah siap siaga meminum obat penawarnya itu. Jadi tuan tidak ada cara lain salian medekati dengan pelan pelan." Jelas Jake panjang lebar lagi meyakinkan tuannya apa yang terbaik.
__ADS_1
"Aaarrhhh.. Butuh berapa lama itu?" Zino frustasi dengan rencananya yang ugal ugalan itu pasti tidak akan berhasil.
"Mungkun butuh waktu paling lambat satu bulan tuan." Ucap Jake lagi sambil melihat laptopnya.
"Oohh Tuhan..." Zino menjambak rambutnya sendiri. "Baiklah lakukan yang terbaik, aku tidak ingin tahu." Zino bangkit dan memilih untuk memandang pemandangan kota besar di depan matanya yang masih di dalan kegelapan malam dan hanya berlampu dari apartemen yang masih menyala dan transfortasi yang masih lalu liliw.
"Cessa. Kamu milikku. Aku akan segera menjemputmu." Gumam Zino.
__ADS_1
😝😝😝😝 Sabar... hehehhee...