Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 49


__ADS_3

Cessa dan Karen bersiap siap untuk piknik mereka ini, Cessa memilih makanan yang akan ia bawa, Karen memerintahkan anak buahnya untuk berjaga jaga dan saat ia dan Cessa pergi piknik.


"Sudah..." Cessa kembali ke hadapan Karen dan anak buahnya dengan keranjang pikniknya dan sudah menggunakan baju yang cocok untuk berpiknik, topi pink yang Cessa kenakan juga benar benar menambah kesan imut Cessa.


Cessa benar benar semangat untuk melakukan piknik ini. Awalnya Karen tak tertarik tapi setelah melihat Cessa yang sangat bersemangat Karen pun tak ingin mengecewakan Cessa.


"Semuanya sudah?" tanya Karen dan Cessa mengangguk dengan semangatnya.


"Baiklah ayo kita berangkat." Ajak Karen dan menarik keranjang Cessa dan memberikan keranjang itu pada anak buahnya yang ada di belakangnya.


Bukit yang di tuju Cessa dan Karen ini tidaklah jauh dari Hotel tempat mereka menginap atau tempat Cessa di sekap dengan nyaman.


Oleh karna itu Cessa dan Karen memilih untuk berjalan kaki menuju bukit itu. Di perjalanan, Cessa sangat menikmati pemandangan yang tersaji di depan matanya. Kebun teh yang besar, hotel tempatnya yang indah sekali rupanya di lihat dari luar, belum lagi angin sepoi sepoi yang meniup niup rambut Cessa.


Karen yang melihat Cessa yang begitu senang dan menikmati hari ini. Karen mencoba juga untuk ikut menikmati panorama alam ini.


"Wahhhh..." Pekik Cessa ketika sampai puncak dari bukit itu.


"Wah.." Karen juga tapjuk.


Pemandangan alam di sini benar benar indah dan memanjakan mata yang memandangnya. Rupanya di belalang bukit itu ada bukit lainnya dan terlihat seperti berbaris dengn rapinya. Belum lagi pemandangan kebun teh di sebrangnya lagi. Semakin terlihat dan terbentang dengan indah dan terlihat sangat kecil dan jauh di sana.


Perasaan stres Karen tiba tiba hilang betigu saja, belum lagi memandang Cessa dengan senyum indahnya yang semakin menyejukkan hati Karen. Melihat rambut Cessa yang terus tertiup angin dan kadang menutupi wajah Cessa.


Karen menepikan rambut nakal Cessa itu, Cessa sedikit terkejut tapi membiarkan Karen melakukan itu. Cessa lalu melempar senyum manis pada Karen.


Karen membantu Cessa menyiapkan karpet pikniknya dan juga menata makanan yang Cessa bawa tadi. Anak buah Karen juga menikmati pemandangan di depan mereka sambil menjaga tuan dan nonanya.


Cessa berdiri dan menatap bukit bukit yang berbaris itu. Cessa merentangkan kedua tangannya, menghirup oksigen sebanyak banyaknya. Merasakan Oksigen itu mendinginkan otak dan membuat syaraf syarafnya tenang, Cessa menghembuskan nafasnya lagi.


"Karen Cobalah.. Ini sangat menenangkan. Kamu harus melakukannya juga." Cessa memanggil Karen yang masih duduk dan hanya memandang Cessa yang sangat menikmatinya.

__ADS_1


Karen bangkit dan mengikuti Cessa. Tapi sedikit berbeda tentunya. Karen justru memeluk Cessa dari belakang dan menaruh dagunya di bahu Cessa.


"Ka.. Karen.." Cessa merasa risih.


"Tenanglah.. Sebentar saja ya.. Aku ingin seperti ini dulu." Karen memejamkan matanya dan meraup oksigen sebanyak banyaknya tapi malah wangi manis Cessa yang menyeruaki penciuman Karen. Wangi yang membuat Karen tenang saat amukannya kemarin.


Cessa pun tidak dapat berbuat apa apa. Hanya bisa mengukuti kemauan Karen. Cukup lama Karen dan Cessa dalam posisi seperti ini. Angin yang bertiup juga semakin menambah ketenangan Karen.


"Apa kamu merasa tenang Karen?" Ucap Cessa setelah sekian lama terdiam.


"Eeemm..." Karen hanya mampu menganggukkan kepalanya tak sanggup berbicara karna tak ingin menghilangkan ketenangan ini.


"Buka matamu Karen.. Lihatlah bukit bukit yang indah itu." Cessa menujuk perbukitan di depannya.


Karen perlahan matanya dan langsung menatap Cessa terlebih dahulu. Karen berdiam menikmati kecantikan Cessa. "Karen.." Ucap Cessa dan menoleh pada Karen yang masih terdiam itu.


Saat Cessa menoleh wajahnya dan wajah Karen begitu dekat. Mungkin hanya hitungan Centi saja maka akan bersentuhan.


Karen tak menyia nyiakan kesempatan langka itu dan mengecup bibir Cessa sekilas. Tentu saja hal itu mengagetkan Cessa hingga Cessa membelalak matanya.


Wajah Cessa bersemu memerah karna malu. Karen sangat senang menatap wajah cantik itu yang sedang malu malu lagi.


Karen dan Cessa sekarang menikmati makan siangnya di bawah Rindangnya pohon pohon di bukit ini. Setelah makan pun mereka berdua masih betah di sana.


"Karen... Apa yang sebenarnya membuatmu banyak pikiran..." Cessa memberanikan diri untuk bertanya. Mungkin ini juga bisa membantu Karen untuk tidak terlalu banyak pikiran


Sepertinya Karen ragu menceritakannya. Mungkin ini rahasia para Mafia yang tak mungkin boleh di ketahui orang biasa seperti Cessa.


"Baiklah jika aku tidak boleh tahu..." Cessa pun mengalah saja untuk memilih tak tahu apa apa.


"Tidak Cessa bukan seperti itu. Hanya saja aku... Malu menceritakannya" Karen menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Apa yang kamu malu? Anggap aja aku ini patung yang tidak dapat mendengar dan menjawab apapun yang kamu katakan." Bujuk Cessa lagi setelah mendengar ucapan pelik Karen.


"Baiklah. Kamu akan menjadi pendengar yang baik ya.." Ucap Karen menatap Cessa dan dan memberikan senyum indahnya.


"Iya aku akan menjadi pendengar yang baik." Cessa tersenyum juga membalas senyum Karen.


"Kita dalam bahaya sekarang." Ucap Karen tiba tiba. Sontak Cessa membulatkan matanya.


"Maksudmu?" Cessa tak mengerti.


"Iya ini semua karna aku, ide bodohku ini yang membuat kita dalam bahaya. Bukan hanya Kita, tapi Zino dan yang lain juga dalam bahaya." Karen mulai mengeluarkan semua rahasianya.


"Seperti yang kamu tahu, aku dan Zino adalah musuh bebuyutan. Kami berdua adalah penguasa dunia bisnis gelap dan Mafia. Kami berdua selalu bersaing hingga bahkan melukai satu sama lain. Tapi kali ini, ada sedikit pengganggunya. Biasanya hanya kami berdua yang berani bertarung seperti ini. Tapi yang kali ini seseorang juga ikut ambil bagian. Stev Paul, dia ini bukan temanku ataupun teman Zino. Kami dua Zino sama sama memusuhinya. Dan kini dia berusaha menghancurkan kami berdua secara bersamaan. Hanya karna misi terakhirku ini. Kalau aku tidak melakukan misi terakhirku ini mungkin semua ini tidak akan terjadi." Karen menghentikan Ceritanya dan meneguk air mineral di tangannya.


Sedangkan Cessa tidak dapat mengatakan apa apa karna ia masih tak mengerti. "Misi Terakhirmu?" Hanya itu yang Cessa mengerti.


"Iya... Misi terakhirku. Aku ingin melakukan ini sebelum aku berhenti menjadi seorang mafia. Aku akan berhenti dan akan menjadi orang biasa saja, aku akan menjalankan perusahaan ibuku dan berhenti untuk terus menyuruh Lorent. Pria temanmu itu." Karen menghentikan ceritanya lagi dan menoleh pada Cessa yang menatap Karen dengan tatapan polosnya.


"Temanku? Rindu?" Tanya Cessa tak percaya.


"Iya.. Kamu kemarin bertemukan dengan laki laki berkacamata? Nah itu namanya Lorent, dan dia itu adalah pria temanmu. Mereka menghabiskan waktu bersama. Tapi sayangnya anak buah Zino menemukan mereka dan terpaksa Lorent membebaskan Temanmu itu." Cessa membulatkan matanya.


"Tapi Rindu tidak apa apakan?" selidik Cessa lagi dengan wajah yang khawatir.


"Tidak... Temanmu itu tidak apa apa." Ucap Karen bohong lagi karna melihat wajah Khawatir Cessa.


"Lalu tentang misi terakhirmu tadi?" Kembali ke topik awal.


"Iya.. Aku akan berhenti dan ini misi terakhirku. Yang aku sebut dengan misi mengganggu adik" Karen mengembangkan senyuman dan membuat tanda vis dari jarinya dan di letakan di dekat matanya seperti anak kecil.


MISI TERAKHIR : MISI MENGANGGU ADIK

__ADS_1


Hayoooo penasaran????


Like donk.. Favoritkan donkk.. Dan jangan lupa Koment apapun yang ingin kalian sampaikan...


__ADS_2