Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 148


__ADS_3

Jake menggigit bibir bawahnya. "Aku.. Aku.. Manjat pohon itu dan aku ya jatuh.." Jake tak ingin mengatakan untuk apa ia memanjat pohon itu.


"Heemmm makanya hati hati.." Lilen menyimpan kotak obatnya di lemari.


"Rapi jika ya.." Jake melihat baluttan di bahunya.


"Ya.. Cepatlah sembuh.." Lilen senang bisa merawat luka Jake.


"Makasih Lilen.." Jake juga merasa sama senangnya.


"Eeemmm Lilen.. Nanti kapan kamu periksakan kandungan lagi..?"


"Ya..? Eemm aku lupa kapan lagi.. Tapi baiknya untuk trimester pertama ini jangan sering sering.. Paling sedikit 4 kali pemeriksaan dalam 9 bulan.." Jelas Lilen.


"Ooohhh Gitu.. Ya nanti kalau mau pergi periksa bawa aku ya.." Pinta Jake.


Lilen tersipu malu. "I.. Iya.."


"Jake..!!" Panggil Zino dari luar kamar.


"Ya ampun Zino makan toa kah tadi..?" Cicit Zino.


"Ya sudah.. Aku pergi dulu.. Makasih ya pengobatannya.." Jake melempar senyum pada Lilen.


"Jake.." panggil Lilen lagi sebelum Jake pergi dari kamarnya.


"Apa..?" Jake berbalik lagi.


"Aku.. Itu mantelmu.. Gak ada wanginya lagi.. Aku mau wangi itu lagi.." Lilen menatap Jake malu malu.

__ADS_1


"Mana Mantelnya nanti aku buat wangi.." Lilen langsung bersemangat.


"Tunggu yah.." Lilen bergegas mencari mantel itu di tempat tidurnya di tumpukan selimut.


"Dia simpan di situ..?" Gumam hati kecil Jake.


"Ini dia.." Lilen menemukan mantel itu.


"Buat wangi lagi ya.." Lilen menyerahkan mantel itu lagi pada Jake.


"Ya... Pasti.." Setelah itu barulah Jake pergi dengan tenang. Lilen sudah makan, itu yang terpenting untuk Jake.


***


"Dia.. Intip Lilen dari pohon itu..." Zino menunjuk pohon yang tadi di naiki Jake hingga jatuh.


"Aku yang liat sayang.. Dia manjat pohon itu demi liat Lilen di dalam kamarnya, mungkin karna gak fokus, Jake terpeleset dan jatuh.. Makanya aku bilang Jake pasti kepikiran sama Lilen yang beberapa hari ini yang keluar dari kamar.. Itulah.. Rasanya aku dulu.." Tutur Zino.


"Kapan..?" Cessa mengerutkan kening.


"Ya pas kamulah.. Lupa kah?" Cessa memundurkan tubuhnya.


"Hayo.. Lupa..? Mau aku ingatkan..?" Zino mendorong tubuh Cessa kebelakang hingga menyentuh sandaran sofa. Dan Zino menindih Cessa.


"Ayo aku ingatkan..!" Zino makin mendekatkan tubuhnya dan tubuh Cessa.


"Zi.. Karsa sendiri itu.." Alasan Cessa.


"Ya udah kita ke kamar aja gimana..?" Ajak Zino.

__ADS_1


"Zino gak boleh.." Tolak Cessa.


"Kenapa..?" Zino mencolek dagu Cessa.


"Aku lagi.. Lagi kedatangan tamu bulanan.." Cessa malu malu.


"Isshh ingat juga dia ya alasan dulu.." Goda Zino.


"Eehh ini bukan alasan. Betulan ini.." Cessa mengatakan yang sebenarnya.


"Coba sini.." Zino membuka lebar kaki Cessa dan mencari apa yang ia cari dan ingin ketahui.


"Eehh iya.. Ini ada kapasnya.." Cicit Zino.


"Ck.." Cessa mendorong tubuh Zino menjauh.


"Yeessss..." Zino menggengam kedua tangannya.


"Apanya yang Yes..?" Cessa mengerutkan keningnya lagi.


"Berarti... Gak ada satu pun yang jadi kemarin.. Tinggal tunggu saat yang tepat biar bibit aku yang jadi.." Zino mengusap usap dagunya.


"Ck.. Zino.." Cessa bangkit dan membawa Cessa bersamanya.


"Tunggu sayang.. Kamu mau adik Karsa nanti perempuan atau laki laki..? Kalau mau perempuan miring ke kiri ya, kalau mau yang laki laki kalau gak salah ke kanan.." Teriak Zino lagi.


"Aarrrghhh.." Cessa pergi meninggalkan Zino.


Kesenangan itu tak akan bertahan lama, karna ada seseorang yang berjalam dalam kegelapan dan siap menampakkan dirinya kapan saja ia inginkan.

__ADS_1


__ADS_2